Masih meneruskan posting saya sebelumnya yang berjudul Rapor Merah Untuk Dosen Kita.
Buanglah segala arogansimu sang dosen jika ingin pendidikan Indonesia ini maju. Ayo kita majukan pendidikan bangsa ini dengan melakukan perubahan di tempat kita mengajar dan diajar masing-masing.
HARI ini sungguh menjadi kekesalan tersendiri bagi kami satu angkatan. Meski berada di kelas pasca sarjana tapi sungguh kami diperlakukan seperti anak SMP oleh sang dosen. Ini bukan pendapat saya pribadi saja tapi merupakan hasil diskusi seluruh rekan rekan satu angkatan dari berbagai macam latar belakang (ada Pimpinan Polri, PNS, Dosen, pengangguran, ibu rumah tangga, manajemen BUMN, dll)
Pola belajar di Pasca Sarjana apalagi yang memang program terapan seharusnya lebih menekankan materi perkualiahan yang penuh dengan aplikasi dan kasus, namun disini terlihat kearogansian seorang dosen dengan pola belajar mengajar yang sangat tradisional sekali. Seperti harus hadir tepat waktu, kalau tidak diusir, harus berpakaian rapi, pendapat mahasiswa tidak ada satupun yang benar menurutnya, tidak boleh ngomong di kelas, memberikan tugas layakanya seperti anak SMP, dll. Alahmak Apa Kata Dunia??
Secara prinsip mahasiswa yang mengambil program pasca sarjana terapan seperti MM, Maksi, dan MET bukanlah sekedar mencari gelar belaka, karena mereka sudah establish di tempat kerja mereka, paling hanya menanti peningkatan karir. Artinya tanpa kuliahpun toh sudah bekerja. Berbeda dengan pendidikan sarjana yang memang harus sekuat tenaga mencari nilai tinggi dengan harapan kelak diterima di tempat kerja yang bagus juga. Pendidikan di Pasca sarjana terapan adalah tempat untuk mencari ilmu murni dan implementasinya di dunia kerja, bukan mencari nilai lagi. Itu yang perlu ditanamkan oleh semua pengelola program pendidikan.
Perlu ditekankan sekali lagi bahwa mahasiswa adalah customer bagi lembaga pendidikan. Tanpa mahasiswa lembaga pendidikan pasti tidak akan pernah ada. Meskipun ada dosen yang cerdas, pintar, bergelar professor dan doctor, namun bila mahasiswanya tidak ada apa arti semuanya itu. Konsep customer satisfaction yang justru diajarkan oleh dosen yang bersangkutan coba dong diterapkan juga pada lembaga pendididkan yang bersangkutan. Saya kawatir bila system seperti ini terus diterapkan lama kelamaan lembaga pendidikan yang bersangkutan akan ditinggalkan oleh mahasiswanya. Lebih baik kuliah di Swasta meski agak mahal sedikit namun pola belajar mengajar, system pendidikan, dan fasilitas sungguh membantu mahasiswa.
Ada benarnya juga kata banyak orang bahwa masyarakat Indonesia tidak pernah mau belajar dari pengalaman. Terbukti dari kasus ini. Bagi pengelola lembaga pendidikan. Tolong diperhatikan kualitas mengajar sang dosen. Bila di luar negeri setiap dosen ada evaluasinya sendiri mengenai cara mengajar dan reward bagi dosennya. Bahkan mereka mencoba sekreatif mungkin mendisain cara mengajar yang paling tepat dengan kelas yang diajarkan.
Sudah cukup dinasti mengajar satu arah. Dosen bukanlah orang yang paling tahu di dunia ini, meskipun dia sudah bergelar professor dan doctor sekalipun. Peran dosen adalah seperti moderator yang mencoba mendeliver ilmu yang sudah diperolehnya lebih dahulu, dan mencoba memperoleh konsep dan pemahaman yang mungkin lebih diketahui oleh si mahasiswanya. Iklim diskusi yang hidup harus diprioritaskan dalam kelas, artinya ada komunikasi dua arah. Jika dosen meminta komentar dari mahasiswa namun setiap komentar selalu disanggahnya bagaimana bisa menciptakan diskusi?
Jika pendidikan kita mau maju, benahi dulu lembaga pendidikannya, benahi dulu dosen-dosennya, benahi dulu system pengajarannya, benahi dulu birokrasi lembaganya. Dosen harus berfikir entrepreneur, dosen harus bersifat friendly. Prosedur perkuliahan harus berpihak pada mahasiswa, bukan malah ribet dan menyusahkan dengan segala aturan yang mengada ngada. Apakah ada kita jumpai sekarang ini dosen duduk di pelataran berdiskusi bersama mahasiswanya? Apakah ada sekarang ini dosen yang begitu gampangnya ditelepon dan minta konsultasi. Buanglah segala egoismu sang dosen jika ingin pendidikan Indonesia ini maju. Ayo kita majukan pendidikan bangsa ini dengan melakukan perubahan di tempat kita mengajar dan diajar masing-masing.












Emang
semua dosen di Indonesia ini selalu arogan
kapan majunya pendidikan di Indonesia ini.
Iyah, terlebih lagi dosen-dosen tua yang sering memberi nilai seenaknya pada mahasiswa dan tidak mau tahu atau disalahkan (kalo memang salah yah). Lebih repot lagi, banyak yang berpikir kolot dan tidak maju. Mungkin memang harus regenerasi sistem pendidikan yang lebih memberi perhatian pada mahasiswa sebagai customer pendidikan..
wah.. seneng sekali rasanya saya membaca opini anda…
memang benar semua hal tersebut saya rasakan pada saat masih kuliah. saya merasakan hal yang sama. tapi kadang saya rasakan ada juga mahasiswa yang selalu diam seribu asa… mereka selalu cuek dan kalau ditanyapun selalu diam.. nah kadang dengan hal seperti inipun dosen mulai merasakan situasi yang tidak diinginkannya sehingga terciptalah suasana seperti yang anda paparkan di atas! saya hanya ingin sharing dengan kawan-kawan. sebenernya seperti apa ciri atau indikator bahwa dosen itu bisa di senangi mahasiswa.
terima kasih
Harry: Terimakasih pak iphe. saya juga sedikit banyak terlibat dalam dunia belajar mengajar. saya kira kita sebagai pengajar harus bisa lebih kreatif mengembangkan cara-cara mengajar yang tidak membosankan. bisa dengan membawa materi video dan musik. bisa dengan FGD, bisa dengan kunjungan, dll. Saya pikir banyak contoh lain yang sangat menarik. namun dari semua itu Dosen haruslah menjadi orang yang menyatu dengan mahasiswa, jangan ciptakan dikotomi, seperti dosen dianggap berbeda strata, dosen susah ditemui, susah diajaka diskusi, dosen angkuh, dll.