Liburan Mengintari Danau Toba

6 01 2009

Kuala Tanjung – Lima Puluh – Perdagangan – Pematang Siantar – Parapat – Balige – Siborong-Borong – Lintong Nihuta – Dolok Sanggul – Parbutihan – Sipagabu – Pakkat – Dolok Sanggul – Tele – Taman Wisata Iman – Sidikalang – Kabanjahe – Berastagi – Medan – Tebing Tinggi – Kuala Tanjung.

Begitulah rute perjalananku selama empat hari. Kalau dilihat di peta, rute itu benar-benar mengintari Danau Toba.

Dengan mengendarai Kijang Innova bersama Keluarga kami berencana mengunjungi Opung di Dolok Sanggul dan Pakkat, berziarah di makam opung sambil bertamasya menikmati keindahan alam Tapanuli. Sungguh melelahkan memang, tapi lelah itu tak sebanding dengan keceriaan yang diberikan Tuhan melalui alam yang begitu indah di sepanjang perjalanan kami, meski aku terus yang menyupir sepanjang perjalanan itu.

Kami memulai perjalanan kami start pukul 9 malam dari kediaman kami di perumahan Inalum di Kuala Tanjung. Sengaja kami berangkat malam agar tiba di Pakkat keesokan paginya dan sempat mampir istirahat sejenak di rumah opung di Dolok Sanggul. Kami tiba di Parapat – tepi Danau Toba – tepat di tengah malam. Sungguh indah sekali kilauan lampu yang menghiasi tepi danau, dan lampu-lampu lainnya yang tampak dari pegunungan di atas danau toba maupun dari pulau samosir yang juga dapat kami lihat dari Parapat. Ditemani segelas bandrek susu dan sebungkus kacang sihobuk, sambil bercanda bersama keluarga dan tentunya juga sambil menahan dinginnya cuaca, kami menikmati keindahan suasana itu.

Perjalanan kami lanjutkan lagi menyisiri sepanjang lintasan lintas barat Sumatera sampai tiba di Siborong-Borong – yang bakal menjadi ibukat Propisnsi Tapanuli nanti – kemudian kami berbelok menuju Dolok Sanggul. Namun naas menimpa kami ketika tepat di tengah hutan di daerah Silaban sekitar Lintong Nihuta. Ban mobil kami pecah, dan naasnya lagi karena baut pelak ban ketat sekali, maka bannya tidak bisa juga kami lepas, sampai-sampai kunci roda kami baling. Bayangkan sekitar 1 ½ jam di tepi hutan sekitar jam 2 pagi, dengan mobil rusak yang tidak bisa di bereskan. Sedikit takut juga sih, Namun mama berinisiatif mengajakku berjalan kaki mencari desa terdekat untuk meminta pertolongan. Tuhan itu memang baik, kami menemukan sebuah bengkel kecil di desa yang kami jumpai dan meminjam kunci roda kepadanya. God is Good, kami pun bisa melanjutkan perjalanan kami lagi sampai tiba di rumah opung di Dolok Sanggul.

Keesokan paginya setelah beristirahat beberapa jam, perjalanan kami lanjutkan menuju Pakkat. Kondisi jalan sudah lebih baik dibanding tahun lalu ketika aku melintasi jalan ini. Meski ukurannya masih sempit, namun sudah baguslah menurutku. Apakah ini manfaat dari pemekaran Propinsi Humbahas, pikirku. Bahkan sampai tiba di Sipagabu – desa kelahiran leluhurku sejak delapan keturunan silam sudah dilalui jalan aspal mulus. Berbeda sekali ketika satu dekade lalu aku pulang kesini harus berjalan kaki naik turun gunung dan lembah serta menyeberangi sungai dengan tanah becek dan berbatu-batu. Aku ingat sekali dulu pernah membawa kue tahun baru, sesampainya di Sipagabu kue itu sudah hancur karena lintasan yang kami lalui begitu parahnya. Namun sekarang opungku sangat bangga sekali menyambut mobil kami bisa parkir di depan rumahnya.

Di Pakkat kami berziarah di makam opungku terdahulu, memperbaiki kuburannya, merayakan natal bersama, memetik salak langsung dari pohonnya, berbelanja di onan Pakkat (onan artinya pasar pekan), memasak di perapian tradisonal, dan tentunya mandi langsung dari aliran air pegunungan.

Pemandangan Alam Pakkat

Pemandangan Alam Pakkat

Setelah dua hari merasakan udara segar dan pemandangan alam yang begitu menyegarkan kamipun melanjutkan perjalanan kami lagi. Kali ini kami mencoba jalan lain, yaitu via Sidikalang – Kabajahe. Tak kusangka sebelumnya kalau ternyata lintasan ini sungguh luar biasa keindahan alamnya, meski sedikit ternoda dengan rusaknya Hutan Tele yang kami lintasi.

Kami mampir sejenak di dua lokasi wisata, yaitu Tele dan Taman Wisata Iman Sidikalang. Di Tele kami dapat memandang Danau Toba dari ketinggian, sementara di Taman Wisata Iman kami berwisata rohani dan berdoa sejenak.

Pemandangan Danau Toba Dari Tele

Pemandangan Danau Toba Dari Tele

Kami tiba di Kota Medan jam 12 malam, mampir sejenak untuk berbelanja barang dagangan mama, dan kemudian kami tiba di rumah jam 3 pagi. Sungguh melelahkan memang, tapi kelelahan itu terbayar lunas oleh pengalaman yang seru dan keindahan alam yang menyegarkan.

Menyisiri lintasan perjalanan ini bak berjalan keliling Indonesia karena begitu banyak suku yang kami jumpai. Dimulai dari suku melayu pesisir di Kabupaten Batu Bara tempatku tinggal, Suku Jawa di sepanjang perkebunan sawit di Kabupaten Simalungun dan Deli Serdang, suku Simalungun mulai dari Siantar sampai Parapat, Suku Batak Toba selalu kami jumpai hampir di sepanjang perjalanan kami, Suku Fak-fak di Dairi, dan Suku Karo di Kabanjahe sampai Medan.

Terimakasih Tuhan buat perjalanan yang begitu indah ini.


Tindakan

Information

5 tanggapan

15 01 2009
lintong nababan

wah…. asyik bangat lae….
lewatin kampungku juga ya, Desa Nagasari kec.lintongnihuta,
kampung halamanku terkenal dengan Pabrik pengolahan batu, alias PT. KMP di jl. raya siborong-borong -dolok sanggul

Harry: Pastilah lewat Lintong lae, tapi aku kurang hafal daerah sana. Pulang juga ga lae tahun baru kemaren?

3 08 2009
rina sirait

hai……….to asli org medan y?sory da gnggu ne

Harry: Iya batak tulen saya to

15 01 2009
erwynson

Wah…lae Hary lewat sidikalang tidak ngabarin lae,saya kan tinggal di sidikalang.
Kalau kampung lae di Pakkat itu sudah banyak juga saya jalani lae,waktu saya tugas di Parlilitan.Asyik juga ya lae perjalanan keliling Danau Tobanya.
selamat Tahun Baru 2009
Horas

Harry: wah, sori lae, gak tahu kalau lae tinggal di Sidikalang. kpn2 kalau ada kesempatan lg saya usahakan mampir deh. Selamat tahun baru juga lae. Horas

31 01 2009
lohot simanjuntak H16

mantaf kali perjalan itu,kuala tanjung sendiri gimana cerita nya,
atau tanjung gading,atau simodong
mauliate-horas

24 09 2009
paulus

Lae, thanks a lot for your story. It’s very inspiring.
Taon ni klo Tuhan Yesus berkenan, kami sekeluarga mo jalan2 ke Medan n of course mengunjungi D. Toba, Berastagi dll (terus terang baru cari info selengkapnya). Kami tinggal di Jogjakarta.

Harry: Salam kenal lae. aku jg dl kuliah di Jogja. semoga rencananya nanti terlaksana dengan baik lae

Tinggalkan sebuah tanggapan