Beranda > Artikel bebas > Testimoni Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi Bekasi

Testimoni Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi Bekasi

Pertengahan Desember lalu, saya diajak oleh salah satu pejabat di kantorku untuk menemaninya memberikan konsultasi pada salah satu grup perusahaan lainnya di luar negeri. Rencana keberangkatan kami adalah awal Januari 2012.  Pikiranku langsung tertuju pada pasporku yang mungkin saja sudah habis masa berlakunya. Benar, setibanya di rumah langsung ku pastikan, ternyata pasporku baru saja habis masa berlakunya. Langkah selanjutnya adalah mengurus paspor baru. Disinilah awal kisah ini.

Senin, 17 Desember 2012, saya mendatangi kantor imigrasi Bekasi (Kanim Bekasi) dengan membawa brankas semua dokumen sipil saya. Meski sudah pernah mengurus paspor sendiri lima tahun yang lalu, tapi saya lupa-lupa-ingat syarat apa saja yang diperlukan, oleh karena itu kubawalah semua dokumen yang kumiliki, siapa tahu nanti disana diperlukan, pikirku. Setelah browsing sebentar baru kutahu bahwa Kantor imigrasi Bekasi teletak di kompleks GOR Kota Bekasi.

Karena hari itu saya juga ada urusan lain, maka saya baru bisa tiba di Kanim Bekasi jam 13:15. Terkejut bukan main aku melihat suasana Kanim Bekasi, tidak terlihat seperti kantor pemerintah, lokasinya menyempil, kotor, kantornya kecil, antrian panjang, orang-orang pada berdiri karena ruang tunggu tidak mampu menampung, kebetulan pas hujan pula, jadi terlihat kalau ada beberapa kebocoran, dan tentunya ocehan para pengunjung terhadap layanan Kanim Bekasi yang kurang memuaskan. Kok bisa kantor pemerintah seperti ini, pikirku, apalagi ini adalah kantor imigrasi yang notabene adalah wajah Indonesia bagi orang luar negeri yang mengurus visa/kitas. Setelah tanya sana sini (karena tempat bertanya resmi menurutku tidak ada), ternyata permohonan pembuatan paspor sudah tutup, terakhir dilayani adalah jam 11:00. Kesalnya bukan main hari itu, karena selain melihat kondisi Kanim Bekasi yang begitu, aku juga pulang dengan tangan kosong.

Keesokan harinya kuceritakanlah kisah ini kepada rekan kantorku. Rekan kantorku menyarankan untuk daftar online saja di website imigrasi (www.ipass.imigrasi.go.id). Dokumen yang seharusnya di foto copy ketika mendaftar biasa cukup di scan dan diunduh di website tersebut. Berdasarkan informasi yang kuperoleh setelah browsing, ternyata jika kita mendaftar online kita bisa menghemat waktu pengurusan dari 3 hari kerja menjadi 1 hari saja (tidak termasuk pengambilan paspor 3 hari berikutnya). Tepat sekali bagiku yang memang pekerja kantoran, tidak perlu repot-repot harus ijin/cuti berulang kali.

Kamis, 20 Desember 2012, aku mendaftar via online. Dokumen yang diperlukan seperi KTP, surat nikah, kartu keluarga dan surat rekomendasi perusahaan/sponsor, sebelumnya telah ku-scan (scan dalam format .jpg dengan resolusi maksimum 300 dpl). Kuisilah semua kolom yang disediakan sebagaimana data sebenarnya.

Ada salah satu kolom yang menanyakan ingin membuat paspor baru atau perpanjang. Pikirku, karena pasporku yang lama sudah habis maka buat baru saja, seperti selayaknya membuat KTP. Ternyata pikiranku ini salah dan justru membuat masalah baru. Akan saya ceritakan selanjutnya dibawah.

Dalam pengisian data online tersebut, pada tahap terakhir sekali diminta akan datang ke Kanim mana dan tanggal berapa. Karena yang paling dekat rumahku adalah Kanim Bekasi, maka kupilihlah Kanim Bekasi dan aku akan datang tanggal 21 Desember 2012 (keesokan harinya).

Tepat tanggal tersebut, tidak mau terulang lagi kejadian keterlambatan 3 hari lalu, jam 8 pagi aku sudah tiba di Kanim Bekasi dengan membawa cetakan bukti pendaftaran online. Kubawa juga brankas dokumenku, siapa tahu nanti diperlukan. Sesampainya disana, tentunya dengan suasana kantor yang ramai dan berisik, ternyata pendaftar harus membeli blanko surat pernyataan dan map kuning seharga Rp10.000 di foto copy di dalam Kanim Bekasi (tidak termasuk materai, karena saya beli di foto copy di luar). Setelah saya isi dan diserahkan kebagian penerimaan dokumen, ternyata KTP harus di FC juga dan di perbesar, ya sudah, kuikuti saja maunya, padahal KTP sudah di scan di website. Selanjutnya saya mendapatkan nomor antrian pemeriksaan dokumen. Lumayan lama, ada sekitar 3 jam baru nama saya dipanggil. Tiga jam yang sangat membosankan bagiku, ruangan sesak, berebut tempat duduk, bau bercampur baur, berisik, dan toilet yang kotornya minta ampun. Ah, tahankan sajalah, pikirku. Setelah dipanggil untuk konfirmasi data dan dokumen, saya mendapat nomor antrian lagi untuk melakukan pembayaran paspor. Tidak lama di antrian ini, hanya setengah jam nomorku langsung dipanggil dan aku langsung membayar uang pembuatan paspor sebesar Rp 255.000 rupiah. Setelah tahap ini, tahap selanjutnya adalah foto dan wawancara, aku lihat nomor antrianku masih berselang 100-an nomor lagi. Karena itu aku memilih pulang dulu ke rumahku, sekaligus makan siang dirumah, nanti saja aku datang lagi, pikirku.

Jam 01.30 siang aku berangkat lagi ke Kanim Bekasi, ternyata nomor antrian baru bergerak 10 nomor dari nomor terakhir kutinggal. Wah bisa bakal lama ini. Karena itu aku memutuskan untuk pulang lagi ke rumahku. Karena terus terang dari pada mendengar ocehan orang-orang yang mengeluhkan layanan Kanim ini, lebih baik aku menunggu di rumah saja. Lagi pula kursi antrian tidak mampu menampung semua pengunjung yang datang, lumayan kursiku bisa untuk orang lain.

Jam 4 Sore aku datang lagi ke Kanim Bekasi, masih dengan nasib yang sama ternyata nomor bergerak sangat lamban. Masih ada sekitar 60-an nomor lagi sampai nomor urutku dipanggil. Setelah tanya-tanya, katanya harus diselesaikan hari ini juga sampai jam berapapun, maka akupun lantas memilih pulang lagi ke rumahku.

Jam 6 Sore aku datang lagi, kali ini aku datang bersama istri dan anakku. Karena mereka menuntut kebersamaan di hari cuti natalku. Ya, hari itu sebenarnya aku sudah cuti untuk natal. Setibanya di Kanim Bekasi, kulihat di papan elektronik nomor panggilan, giliran nomorku masih sekitar 20 nomor lagi. Menjelang malampun Kanim Bekasi masih penuh, jam berapa baru semua orang ini terlayani, pikirku. Ah, yang penting urusanku beres, ngapain aku mikirin yang lain. Kulihat muka-muka yang menunggu itu sudah tak berbentuk lagi, ada yang suntuknya bukan main, lelah, tertidur, ada yang tetap memilih ngoceh gak karuan, pokoknya lengkap deh. Apalagi yang membawa anak, gak tahu deh uring-uringannya dia. Masih mending aku bisa pulang ke rumah, mereka-meraka ini tentunya sudah gerah karena bosan, belum mandi, atau mungkin juga belum makan. Kali ini aku memilih menunggu di Kanim Bekasi sampai nomorku dipanggil. Anakku sampai tertidur dipangkuanku karena sangkin lamanya.

Paspor Baru VS Perpanjang

Jam 8 malam lewat 20 menit akhirnya giliranku tiba juga. Aku langsung di foto, dan wawancara singkat. Disinilah petaknya tiba. Salah satu pertanyaan pewawancara tersebut adalah apakah Anda pernah membuat paspor sebelumnya? Saya jawab “pernah”. Terus mengapa disini Anda mengisi dengan membuat baru? Saya jawab kemudian dengan alasan sederhana saya seperti saya sebutkan diatas. Ternyata si pewawancara tetap tidak terima. Aturan di Imigrasi adalah satu orang hanya memiliki satu nomor paspor dan paspor adalah milik Negara, jika habis/hilang maka wajib diserahkan kembali kepada Negara. Kalau saya membuat baru padahal sebelumnya saya sudah punya nomor paspor maka data saya akan ganda. Inilah yang membuat masalah menjadi semakin ribet. Saya diminta menyerahkan paspor lama saya. Kemungkinan besar masalah ini akan sampai ke Kanwil Imigrasi tingkat provinsi di Jawa Barat, dan tentunya prosesnya akan semakin lama. Wah, jangan sampai saya harus pergi ke Bandung, hanya karena masalah ini saja.

Inilah yang disebut kesengajaan karena ketidak tahuan. Aku pikir setelah seharian aku dibuat kesal dengan proses birokrasi di Kanim Bekasi ini, aku bisa pulang dan beristirahat dengan tenang, tetapi apa daya ternyata timbul masalah yang baru lagi. Aku dijanjikan akan ditelepon untuk konfirmasi lebih lanjut.

Senin, 24 Desember 2012, benar, aku ditepon oleh petugas Kanim Bekasi untuk datang ke Kanim Bekasi (untung saja tidak disuruh datang ke Bandung). Kebetulan saja aku masih di Bekasi, padahal rencanaku akan keluar kota di cuti natal ini. Disana aku dihadapkan oleh salah seorang pejabat dan ditanya sekali lagi alasanku membuat pasor baru. Sekali lagi disana aku menjelaskan bahwa aku tidak tahu kalau harus mengisi kolom perpanjangan, bukan pembuatan baru, karena pikirku paspor lamaku sudah habis.  Pejabat tersebut menerima alasanku, dan menjanjikan paspor akan selesai terlambat, kemungkinan minggu kedua Januari baru selesai karena ada proses internal lagi di Imigrasi.

Jumat, 4 Januari 2012, iseng-iseng aku menyuruh istriku mengambil paspor ke Kanim Bekasi, karena hari itu aku sudah masuk kerja. Siapa tahu saja paspornya sudah selesai. Eh benar, istriku mengabarkan bahwa paspornya sudah diterimanya.

Dan kalian tahu? ketika aku sampai dirumah hari itu, bukan paspor yang telah jadi tersebut yang pertama sekali diberikan istriku, tetapi keluhan dan ocehan tentang pelayanan Kanim Bekasi. huh, sama saja, sebegitunya ya……

Mudah-mudahan Pelayanan Publik di Kanim Bekasi ini bisa diperbaiki. Lamanya terlayani semua masyarakat yang ingin membuat paspor adalah karena setiap loket hanya tersedia satu; satu loket penyerahan berkas, satu loket pemeriksaan berkas, satu loket pembayaran dan satu loket foto dan wawancara. Sebenarnya cara mengatasi hal ini sederhana saja, jumlah loket diperbanyak, jika gedung tidak cukup lagi, maka carilah gedung yang lebih besar lagi, tentunya dengan spase ruang tunggu yang besar untuk menampung semua pengunjung.

Kabar teranyar lagi, setelah capek mengurus paspor, ternyata saya tidak jadi berangkat ke luar negeri karena satu dan lain hal. Miris sekali. Huh….. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi di lain waktu.

  1. Januari 12, 2013 pukul 6:28 am

    Setelah saya baca tulisannya lae…. saya malu karena apa……
    1. lae itu orangnya kritis dengan info dan wawasan yang lae punya…
    2. Kantor Imigrasi itukan dekat rumah lae dalam arti di lingkungan lae juga…
    3. Fasilitas tehnologi lae kan sudah canggih kenapa masih terjadi demikian… patut dipertanyakan dan lama prosesnya…. karena kalau diperpanjang…. lae hanya sebentar aja disana kalau tidak antri…..

    jadi, sudut pandang keidealan kita sebagai manusia memang harus terkadang berbeda untuk menemukan hal yang lebih baik dan lebih benar……

  2. rosalina
    Juni 11, 2013 pukul 8:08 am

    saya berniat baru akan membuat pasport baru
    klo kenyataan nya seperti begitu gmna yaaa
    hrs seharian dong tngu antrian nya…
    siap” aja kalee bwa perlengkapan mandi, tidur siang, baju ganti

  3. September 1, 2013 pukul 1:08 am

    *smile campur geram*
    assalamualaykumwrwb… Pertama kali saya bikin passport, jauuuuh lebih parah pengalaman sakit hatiku dibandingkan kisah anda, lho… :-). Tapi, itu 7 thn yg lalu…. >_<
    Saya iseng brwosing karena mendengar cerita teman bhw Kanim-kanim di Indonesia masih tetap bobrok, kecuali teman2 di Depok yg brcerita bhw kanim Depok jempolan, gak ada punglinya pula…

    Selamat yah udah renew passport ^^

    salam kenal.

    -Ry-

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: