Beranda > Cinta, Kisah Nyata > Tunggu 6 Bulan Lagi Ya bang…..

Tunggu 6 Bulan Lagi Ya bang…..

Alamak, Lama Kali pun

 

LIMA TAHUN SETELAH penolakannya atas cintaku sepertinya belum dapat mengalihkan hatiku pada wanita manapun, bahkan setelah kami berdua sama-sama menamatkan perkulihaan kami. Entah apa yang berbeda pada boru Batak yang satu ini. Dibilang jutek ada benarnya, dibilang baik tentu pasti karena itulah yang membuatku terpikat. Apalagi kalau dia sudah marende dan memainkan alunan jarinya di papan keyboard. Pokoknya sangat susah ditebak dan menggetarkan jiwaku.

Aura yang dipancarkannya itu yang sampai sekarang tidak bisa mengalihkan hatiku pada wanita manapun, meskipun sekelas Agnes Monica, atau Dian Sastro sekalipun. Setelah kami berdua sama-sama bekerja dan dipisahkan selat sunda, justru perasaan ini semakin kencang, aku harus terus berjuang – pikirku (maklum pengagum setia Guevara).

Sms bernada perhatian dan kasih sayang terus kukirimkan kepadanya, bahkan sempat-sempatnya aku mengirim sms di tengah hujan, bahkan ketika sedang ada penugasan di kantor klien. Bukannya ngaudit, malah bercinta, sindir teman seteamku. Wah… beginilah cinta, deritanya tiada akhir, (Patkay: mode on) pikirku. Maklum, Pomparan ni Raja Nai Ambaton yang satu ini selalu terkenal dengan pikiran tidak mau kalahnya. Pokoknya serang terus….

Ujung punya ujung terjadilah seperti yang di sinetron-sinetron itu, takkala satu bagian wanita itu telah kusentuh (kata ari laso: sentuhlah dia dekat di hatinya) – perhatianku telah sedikit meluluhkannya. Ketika dia sedang ada acara di Yogyakarta aku samperinlah dia di hotel tempatnya menginap. Betapa terkejutnya dia ketika jam 4 pagi kuketuk pintu kamarnya dan menemukanku disana. Alahmak pikirnya…

Kemudian terjadilah adegan yang telah disusun matang laksana strategi infantri itu. Seranganpun diluncurkan mulai dari alun-alun selatan sampai ke jalan Malioboro di atas andong yang sangat bau. D Wah… pikirku ini bukanlah lokasi tempur yang cocok.

Akhirnya tibalah waktu yang ditunggu itu di lobi penginapan tempatnya menginap tepat jam 00.00 dan bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Kuberikan padanya sebuah kerabu perak asli kerajinan dari Pulau Dewata sambil kulontarkan panah asmara itu.

Alamak, puang, tak langsung diterima cintaku, ”tunggu 6 bulan lagi ya bang, aku harus berpikir matang-matang karena pacar bagiku adalah calon suamiku.” Buset deh… enammmmmm bulan. Lama kalinya. Maklum, beginilah kalimat yang dilontarkan seorang mantan aktivis persekutuan mahasiswa kampus. Tapi ga pa-palah. Aku tidak mau kalah lebih telak lagi…

”Ga pa-pa dek, abang pasti tunggu tanggal itu,” kataku dengan sangat bijaksananya seperti Salomo memutuskan perkara, padahal hati ini sangat pedih rasanya… D Jauh-jauh aku datang ke Yogya dan kubelikan kado dari Bali namun ini yang kudapat, pikirku (motivasi tidak lurus: mode on).

Tanpa enam bulan, cukup 2 bulan saja.. ehhh, dia balas tuh panah asmaraku. Di sebuah mal di Bekasi ketika semua orang sedang memulai puasa pertamanya. Akhirnya kemenangan telak bagi marga Simbolon par pakkat. D Ingin rasanya kunyanyikan I’m the champion-nya Queen. Mungkin benar apa katanya si Ari Laso itu. Ketika bagian itu telah kusentuh maka kau dapatlah dia.

Namun apa yang terjadi sekarang setelah setahun lebih berlalu. Kenyataannya sangat berbeda sekali ketika lima tahun sikapnya yang sangat jutek itu berubah menjadi manja dan selalu ingin diperhatikan. ”Alahmak puang”, lagi kataku ”setiap hari seperti penganten baru”.

Apakah begini semua boru Batak. Seperti kata orang kebanyakan, banyak ininya, banyak itunya. Pusing aku mikirinnya. Juga apa karena aku bekerja di perusahaan telekomunikasi setiap hari aku harus meneleponnya? Bah, beginilah cinta yang dipisahkan selat sunda, mahal di ongkos euy….

Beginlah cinta kami, cinta yang meluap, overload, overdosis, apa kek istilahnya itu. Tapi beginilah cinta yang sedang kesengsep. Bangun tidur harus melapor, kalo sms ga dibalas ngomel, mau tidur harus disayang dulu. Nungga sega dunia persilatan on. D Aku tahu sebenarnya dia tulus mencintaiku. Tapi ketulusannya tidak bermata sehinga lepas tanpa arah. Nungga sega dunia percintaan on.

Aku harus stop. Pacaran aja begini, apalagi berumah tangga. Sudah cukuplah kejayaan dinasti suami takut istri. Apalagi bagi seorang Pomparan ni Raja Nai Ambaton ini sangat menyayat hati. Lampu kuning harus dinyalakan bahkan lampu merah kalau perlu sekalipun. D

Ultimatum pertamapun kulancarkan: ”Abang ga mau kalau adek begini, abang ga suka dengan sikap adek, tolong direnungkan lagi. Cinta tidak harus begini, Cinta tidak harus memiliki, cinta harus saling mengerti dan memahami, tidak memaksakan kehendak, meski kita PJJ (pacaran jarak jauh). Abang kasih tiga hari tuk merenungkannya”.

Kemudian handpone kunonaktifkan, dan tak kujawab teleponnya. Kabar terdengar dari pusat intelejen Simbolon D kalau satu harian dia menangis terus, tidak mau makan dan menyendiri di kamar. Bahkan pingsan. (mirip-mirip sedikitlah seperti Romeo & Juliet sian Humbang) D Sampai akhirnya kakaknya meneleponku. Bah makin sega on, nungnga gabe masalah keluarga. Maksud hati awak pingin memberi pelajaran, gabe songon on.

Cukup satu hari, gencatan senjatapun harus dilakukan. ”Tidak maksud hati membuat adek begini, abang mau adek mencintaiku dengan wajar. Itu saja. Tidak berlebihan seperti sekarang ini.” Akhirnya perdamaian pun dikumandangkan. Andai saja Israel & Palestina bisa damai seperti ini pikirku. D

Meski kasus serupa masih terjadi beberapa kali, namun aku sudah bisa melihat bahwa ia ingin mencintaiku dengan wajar, hanya karena cinta berjauhan yang memang banyak menabung rindu. Akupun harus rela menambah out of pocket extra (yang tadinya hanya dengan pulsa, sekarang harus dengan tiket pesawat PP) untuk membiarkan cinta kami berjalan dengan wajar. Mudah-mudahan. Harapanku kelak dinasi itu akan runtuh dan rumah tangga kami kelak bisa berjalan dengan wajar.

Kategori:Cinta, Kisah Nyata
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: