Beranda > Korupsi > Benarkah Korupsi Sudah Membudaya?

Benarkah Korupsi Sudah Membudaya?

akuYang terjadi selama ini adalah ada segolongan pihak yang mencoba membudayakan korupsi ini. Kalau begitu kenapa tidak dipatenkan saja, sehingga tidak dicuri malaysia untuk diakui sebagai budayanya?

 

BUNG Hatta, salah seorang dari dua proklamator kemerdekaan RI dan Wakil Presiden pertama RI, pernah menyatakan bahwa korupsi sudah membudaya. Bung Hatta benar ketika kita melihat korupsi sudah begitu merasuk dan merajalela dalam berbagai lapisan masyarakat kita, sejak dari atas sampai ke bawah. Namun beberapa waktu yang lalu ketika saya berdiskusi dengan beberapa rekan bankir BUMN usai reses di perkuliahan pasca sarjana, beliau menyatakan bahwa sebenarnya korupsi di Indonesia itu belum membudaya. Pernyataan tersebut sungguh menggugah rasa ingin tahu saya, benarkah Korupsi itu sudah membudaya?

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sesuatu itu dikatakan menjadi budaya apabila: 1). Berkaitan dengan akal budi manusia, 2) sesuatu yang turun temurun dilakukan, dan 3) menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Mari kita kaitkan korelasi korupsi dengan pengertian budaya tersebut: Pertama, korupsi di Indonesia memang muncul dari kecerdasan akal pejabat dan birokrat di Indonesia. Sakin cerdasnya, tanpa lulus SMA pun (atau izazah SMAnya ga jelas, yang penting bisa menduduki kursi empuk) bisa berkomplotan merekayasa suatu kejadian untuk berkorupsi. Namun jika dikaitkan dengan budi, tentu korupsi tidak berbudi. Budi berkaitan dengan perbuatan baik, sementara korupsi dilakukan untuk tujuan jahat. Kedua, korupsi di Indonesia pertama kali dikatakan membudaya oleh pendiri bangsa ini sekitar tahun 50-an. Hal itu wajar sekali terjadi pada negara baru. Belum ada alat kontrol yang jelas. Para pejabat masih bebas memanfaatkan celah hukum, karena hukumnyapun sat itu masih banyak yang belum jelas. Kalau kita hitung sampai sekarang hanya berjarak 60 tahun kurang. Jika masyarakat indonesia rata-rata menikah pada umur 25 tahun, usia segitu hanya mampu menghasilkan dua keturunan saja. Benarkah dilakukan turun temurun? Belum cukup umur (istilah televisinya belum 17 tahun) Korupsi di Indonesia sehingga tidak tepat dikatakan membudaya. Ketiga, benarkah ciri khas masyarakat Indonesia adalah korupsi? Betapa kecewanya para pendiri bangsa indonesia terdahulu bila hasil karya mereka yang menjadi ciri khas bangsa indonesia telah diambil alih oleh satu kata Korupsi. Indonesia masih lebih identik dengan bangsa yang arif, ramah, & cerdas. Terbukti dengan segala bentuk karya yang tercipta sejak dulu kala. Korupsi hanya menjadi tempat pelampiasan bahwa betapa ciri khas bangsa yang sebenarnya sudah bukan menjadi kebanggaan bangsa indonesia lagi, karena para pejabat/birokrat yang melakukan korupsipun tidak mau melestarikannya.

Saya adalah orang yang sangat benci dengan Korupsi, bukan berarti saya mengatakan korupsi belum membudaya berarti pula saya menghalalkan praktek korupsi. Saya hanya mau mengungkapkan bahwa sebenarnya kita mampu menyetop pemakaian istlah itu demi terciptanya bangsa yang bersih dan jujur. Berdasarkan hasil diskusi dengan teman saya itu memang benar bahwa korupsi di Indonesia pada hakekatnya belum membudaya. Yang terjadi selama ini adalah ada segolongan pihak yang mencoba membudayakan korupsi ini. Kalau begitu kenapa tidak dipatenkan saja, sehingga tidak dicuri malaysia untuk diakui sebagai budayanya?

Korupsi yang membudaya hanya suatu pernyataan hiperbola dan frustasi yang digulirkan oleh sekelompok orang yang tidak memiliki visi untuk memberantas para koruptor. Termasuk proklamator kita yang angkat tangan melihat ketidak berdayaannya melihat betapa kesempatan, celah hukum dan kesenjangan birokrasi yang ada dipakai sebagai alat untuk melakukan korupsi.

Sekali lagi saya katakan. Jangan biarkan korupsi terus terjadi turun temurun. Jangan sampai anak dan cucu kita masih mewarisi kebebasan berkorupsi, hutang yang menumpuk dan miskin SDM berintegritas. Kita harus stop. Indonesia membutuhkan orang orang seperti mantan perdana mentri Cina Zhu Rongji yang dengan berani mengatakan: ” Berikan 100 peti mati kepadaku, maka 99 diantaranya akan kuberikan pada para koruptor, dan 1 nya lagi untukku jika akupun melakukan korupsi” di hari pelantikannya.

Cina mampu memberantas korupsi, meskipun jumlah penduduk dan luas wilayahnya jauh lebih besar dari kita, maka akupun yakin kalau indonesia mampu melakukannya. SBY yang kita agung-agungkan dulu ketika kampaye pilpres selayaknya Satria Piningit yang mampu mengayomi bangsa, apalagi dengan latar belakang militer yang di benak kita adalah orang yang tegas dan pemberani untuk memberantas korupsi, ternyata apa yang terjadi sekarang, SBY lebih terkenal sebagai orang yang plin-plan dan penakut. SBY tidak berdaya meng-counter begitu kuatnya kepentingan para elit yang ingin mengerogoti bangsa ini.

Begitu miskinkah indonesia dengan orang pemberani memberantas korupsi? Para mantan aktivis mahasiswa dimanakah nyalimu sekarang ketika engkau sudah duduk enak di kursi basah. Para jurnalis independen, kenapa aku tidak melihat aksimu lagi, apakah hanya sebatas tulisan di atas kertas?. Para ekonom pro rakyat, kenapa kebijakan yang kau ambil sekarang setelah diberikan jatah selalu berpihak pada kaum kapitalis. Akankah engkau jual semua harta negara demi pundi-pundi partai dan pejabat yang berkuasa.

Meskipun semua orang enggan menjadi motor pembasmi korupsi, namun suatu keyakinan dari hatiku mengatakan. Suatu saat kelak ada orang yang muncul dengan berani dan mengatakan: “Berikan 100 hektar lahan kosong, maka tempat itu akan kupakai untuk mengubur masal orang yang melakukan korupsi di Indonesia, termasuk aku dan keluargaku bila kamipun mencicipinya”. has

Kategori:Korupsi
  1. Arief
    Desember 14, 2007 pukul 6:07 pm

    Mantan PM China, Zhu Rong Ji:
    ”Berikan kepada saya seratus peti mati, sembilan puluh
    sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.”

    Pejabat Indonesia, Mr. Lobaloba:
    ”Berikan kepada saya seratus peti uang, sembilan puluh
    sembilan untuk teman sesama koruptor, satu untuk saya karena saya akan melakukan hal yang sama.”

  2. Mei 6, 2009 pukul 3:22 pm

    Malangnya rakyat negeri ini termasuk orang dianggap sebagai tokoh agama juga juga tidak menghargai orang-orang bersih dan punya kemauan agar negeri ini bersih. http://ksemar.wordpress.com/2009/04/14/sebaiknya-money-politic-dilegalkan/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: