Beranda > Pendidikan > Rapor Merah Untuk Dosen Kita

Rapor Merah Untuk Dosen Kita

Menempatkan dosen sebagai seorang yang superior adalah kesalahan besar. Dosen dan mahasiswa pada hakekatnya adalah sama, hanya ilmu yang lebih dulu diterima yang membedakannya.

TIGA kampus telah menjadi tempatku melalui pendidikan formal, belum lagi kampus-kampus lainnnya yang hanya sekedar mengikuti seminar, atau kegiatan mahasiswa lainnya. Demikian juga hasil diskusi dengan teman-teman dari seluruh indonesia maupun dari luar negeri mengenai kondisi kampusnya masing-masing. Pengalaman ini membuat saya secara tidak langsung melakukan studi empiris mengenai kondisi pendidikan di negeri kita tercinta ini.

Indonesia adalah negeri yang cerdas, kaya alam, dan ilmu pengetahuan. Banyak mendali olimpiade sains yang telah diboyong pelajar-pelajar indonesia, belum lagi kompetisi mahasiswa tingkat internasional yang mengharumkan nama bangsa, banyak juga orang indonesia yang mengajar baik sebagai dosen tetap, profesor peneliti, maupun dosen tamu di negara-negara maju apalagi yang menjadi profesional dan pengusaha sukses di negara-negara yang kata orang negara maju itu. Hanya nobel sains saja yang belum pernah singgah di Indonesia (perkiraan Yohanes Surya, kalau para pemenang olimpiade itu terus focus pada kajian ilmunya maka tahun 2020-an Nobel sains sudah mulai berdatangan ke Indonesia). Itu semua menandakan bahwa Indonesia adalah ladangnya orang cerdas.

Namun jika kecerdasan pada contoh diatas itu kita korelasikan dengan kemajuan bangsa, sepertinya hanya sedikit sekali kaitannya. Hal ini mengindikasikan bahwa 1) pendidikan belum cukup merata, hanya dimiliki sebagian penduduk yang mampu saja. 2) atau mungkin disebabakan oleh sistem pengajaran yang kurang tepat. 3) atau jangan-jangan pendidikan tidak sesuai dengan dunia industri di Indonesia, atau malah 4) memang KKN yang menjadi biang keladinya.

Penulis tertarik mengulas masalah kedua diatas. Letak perbedaan setiap sekolah dan universitas adalah pada sistem pengajarannya. Meski buku, jurnal, dan laboratorium yang digunkana sama diseluruh perguruan tinggi. Namun sistem pengajaran menjadi ciri khas tersendiri pada setiap universitas.

Ketika saya diterima di Universitas Lampung, disatu sisi saya menilai bahwa Unila bukanlah salah satu dari universitas ternama di Indonesia sehingga saya ogah-ogahan menerima kesempatan ini, namun disisi lain saya juga berfikir bahwa buku-buku yang digunakan toh juga sama dengan universitas ternama lainnya, juga banyak dosen-dosen Unila yang lulus dari Universitas yang sama dengan dosen-dosen UI atau UGM. Hal itulah yang membuat saya tetap bertahan di Unila sampai mendapatkan gelar sarjana. Mendapatakan kesempatan pertukaran mahasiswa ke UGM dan melanjutkan pendidikan Master di Unpad membuat pola pikir saya berubah drastis, bahwa meski materi kuliah kami sama namun di UGM mahasiswa lebih terpacu belajar. Apakah ini disebabkan karena input mahasiswa yang belajar disana memang sudah unggulan? Ternyata tidak juga. Satu semester di UGM saya banyak tahu kualitas mahasiswa disana, meski rata-rata cerdas namun ada juga mahasiswa UGM yang mencontek padaku. Ternyata lulusan Unila ini ga bodoh-bodoh amat kok.

Saya banyak menyoroti pola belajar mengajar yang diterapkan disana yang kemudian langsung saya bandingkan dengan kampus saya dan beberapa kampus luar jawa lainnya. Open Minded Dosen UGM itulah yang patut saya acungkan jempol. Ketika dosen bukan menjadi orang yang paling tahu diterapkan di kampus maka diskusi hangatpun pasti bermunculan di setaiap kelas. Tugas dosen hanya mengarahkan agar diskusi pengetahuan berjalan sesuai dengan jalurnya. Bahkan tidak segan dosen bertanya kepada mahasiswanya ketika dia tidak tahu. Minggu lalu saya dan seluruh teman sekelas saya di perkuliahan pasca sarjana kesal sekali pada salah satu dosen, ketika dia melontarkan pertanyaan kecil dengan nada sombongnya meminta tanggapan dari mahasiswa, tak satupun mahasiswa mau mengomentari karena memang sangat membosankan, ketika dia terus berulang kali memaksa maka bermunculan satu dua tanggapan yang semuanya disalahkannya. Tidak ada jawaban yang benar menurutnya. Kebenaran mutlak hanyalah berdasarkan pemahamannya saja. Saya tidak habis pikir bila semua dosen di Indonesia bertype seperti ini.

Dosen yang memberikan nomor handpone dan alamat lengkap jarang sekali kita jumpai di Indonesia ini, mereka terlalu sibuk dengan bisnis mereka sampai lupa status dasar mereka adalah dosen, padahal mahasiswa membutuhkan nomor telepon itu hanya sekedar untuk konsultasi skripsinya. namun tidak demikian halnya dengan dosen di UGM. Satu lagi yang saya catat adalah penerapan toleransi absensi mengajar pada dosen adalah 0 kali. Artinya dosen harus masuk 100%. Tidak sebanding dengan mahasiswa yang diberikan toleransi 3 kali pertemuan absen. Pertanyaan saya kemudian timbul: Dosen yang sudah banyak menjadi konsultan nasional bahkan menjadi pejabat di banyak BUMN dan institusi pemerintahan pusat masih sempat meluangkan waktu mengajar meski jarak Jakarta – Yogya cukup jauh. Jawabannya adalah pengabdian dan integritas. Kenapa hanya di UGM? Berbeda halnya dengan UI yang tetap mengajar tetapi mengutus asistennya saja. Ya, pastilah ilmu yang didapat adalah ilmu si asisten bukan ilmu si profesor/doktor yang sibuk mengurusi bisnis di luar kampusnya itu.

Menempatkan dosen sebagai seorang yang superior adalah kesalahan besar. Dosen dan mahasiswa pada hakekatnya adalah sama, hanya ilmu yang lebih dulu diterima yang membedakannya. Coba lakukan test IQ, apakah lantas para dosen memiliki IQ yang lebih tinggi dari mahasiswa? Tidak, kecerdasan adalah bawaan lahir dan tergantung kita mengolahnya selama kita hidup. Bill Gates Drop Out dari kampusnya, Megawati hanya tamat SMA, Einsten malah tinggal kelas terus. Apakah mereka bodoh? Orang yang terlahir bodohpun bisa cerdas ketika dia punya kemauan keras untuk belajar.

Pola belajar mengajar Negeri ini yang perlu di Ubah. Pembelajaran tidak melulu menggunakan pendekatan akademis dimana dosen menularkan ilmunya dan kemudian menguji yang telah di berikannya itu, sehingga mahasiswa terdikte untuk menghafal. Itu salah besar. Dosen bukanlah orang yang paling tahu. Selayaknya Pengajaran sekarang memadukan pendekatan Akademis dengan pendekatan Psikologis. Dosen/Guru harus mengerti Psikologi, membuat kelas menarik dan mengerti apa maunya mahasiswa. Betapa terkejutnya saya ketika ada seorang dosen S1 di UGM yang baru pulang S3 dari Amerika, dengan mengunakan celana jeans dan sepatu olahraga sambil menenteng sebuah buku saja mengatakan kalimat ini pada pertemuan pertama: “Selamat pagi teman-teman, anggap saya ini kakak kalian ya. Adik pasti sering tidak sependapat dengan kakaknya. itu akan sering kita jumpai di kelas ini nanti. Kelas kita akan penuh dengan diskusi hangat. Ini no telepon saya, ini alamat rumah saya, silahkan telepon atau datang ke rumah jika ingin berdiskusi lebih jauh, saya memberikan porsi penilaian 50% dari keaktifan di kelas, jadi baca buku yang banyak, kuasai bahan.”. Bandingkan dengan beberapa dosen universitas lainnya atau bahkan di pendidikan master sekarang ini yang malah lebih fokus pada absensi, yang penting datang terus pasti dapat nilai. Begitu juga dengan pakaian yang harus selalu rapi. Datang tepat waktu, kalau terlambat lima menit tidak boleh masuk, dan lain sebaginya.

Memang benar pendidikan selain memberikan pendidikan Ilmu, tetapi juga memberikan pendidikan moral. Tapi jangan salah kaprah. Mahasiswa di Perguruan Tinggi telah mengalami Kristalisasi nilai. Mahasiswa telah mengenal apa yang baik maupun yang buruk berdasarkan alam berpikirnya. Tidak harus kita paksakan dia begini, atau begitu, tetapi kita hanya mengarahkan saja. Maka tidak sedikit kita lihat mahasiswa berubah drastis menjadi pemikir, korektif, agretor, dlsb setelah mereka mengalami kristalisasi nilai itu. Maka sekali lagi saya katakan bahawa Dosen bukanlah orang yang paling tahu.

Mari kita belajar ke UGM, atau universitas ternama lainnya di Amerika yang mendidik dengan bersahabat. Mahasiswa adalah aset suatu perguruan tinggi, tanpa mahasiswa maka tidak mungkin ada dosen, atau tidak mungkin bisa menggaji staf dan pejabat kampus. Maka dari itu Fokuslah pada pemberdayaan Mahasiswa.

Di  Amerika setiap tahun ada penilaian dosen terbaik melalui pendekatan pengajaran, Setiap dosen berpacu menggunakan pola belajar yang dianggapnya tepat buat mahasiswanya, sehingga tidak jarang kita jumpai sakin akrabnya dosen dengan mahasiswa akhirnya mereka menjadi keluarga. Contoh sederhananya saja coba bandingkan text book Aamerika dengan buku Indonesia pasti berbeda sekali. Di awal buku – buku buatan Amerika dijelaskan cara belajar yang tepat menggunakan buku itu, dengan pola yang terstruktur dan jelas. Beda dengan buku Indonesia yang habis sampul, kata pengantar dari penulis langsung isi. Apa karena takut bukunya dibajak?

Saya sangat prihatin sekali dengan teman-teman saya di Sumatera Utara dan beberapa universitas lainnya yang dengan susah payah menyelesaikan studinya hanya karena faktor dosen. Bagaimana dosen dengan egoisnya memaksa mahasiswanya ini dan itu, minta ini dan itu, sehingga secara tidak langsung yang menyusun skripsi adalah si dosen yang bersangkutan, karena maunya dosenlah skripsi itu. Bahkan dosen seperti selebritis yang dikejar-kejar mahasiswa dan ketika bertemu mengatakan no komet, lagi sibuk nih, di panggil Gubernur, DPRD untuk menysusun angaran, mau shooting nih.. Belum lagi kasus nilai tembak, Nilai suap, atau nilai berdasarkan kenalan saja. Sehingga nilai diperoleh dengan faktor subjektifitas. Beginilah wajah pendidikan nasional kita.

Dapatkah di rubah? Tentu bisa, jika pemerintah tidak mampu melakukannya karena takut dengan kepentingan elit, mari kita mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri, ketika kita mahasiswa aktiflah di kelas, kalau bisa seaktif mungkin sehingga mau tak mau dosenpun mau tidak mau harus persiapan sebelumnya. Jika kita dosen pahamilah bahwa tanpa mahasiswa kita tidak bakalan dipekerjakan. Bila kita pejabat, berpikirlah mau kita apakah bangsa ini kelak jika pendidikan kita masih seperti ini.

“Dicari dosen yang mau mengajar dengan senang hati”

Kategori:Pendidikan
  1. Hendrik
    November 8, 2007 pukul 6:21 am

    memang seperti begitu kebanyakan dosen di Indonesia. seenaknya saja kalau ngajar. ngasi nilai juga seenaknya. tanpa dosen sebenarnya mahasiswa juga bisa belajar. Beli aja Buku karyanya.

  2. Desember 15, 2007 pukul 4:31 pm

    Salam kenal Mas Harry,
    Sedikit pemikiran saya tentang profesi dosen:
    http://budihartono.wordpress.com/2007/11/24/ingin-menjadi-dosen-fakta-mitos/

    regards
    b oe d

  3. Harry Andrian Simbolon
    Desember 16, 2007 pukul 9:36 am

    Salam kenal juga mas Budi,
    Sedikit banyak sudah saya baca beberapa tulisan mas budi, bagus, dan menarik, semoga menjadi dosen yang berintegritas mas.

  4. Imam
    Maret 7, 2010 pukul 11:58 pm

    saya alumni ugm,ada tambahan lg mas,dosen bisa dicegat dimanapun untuk diajak konsultasi,hasil ujian dibagikan sehingga kita tau dimana letak kesalahan kita+konsultasi hasil ujian,gak terima ato bingung dll,jg lbh objektif dlm penilaian.

  1. November 19, 2007 pukul 8:56 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: