Beranda > Diary, Kehidupan, Kisah Nyata > Hujan, Inul, dan Kopi Panas

Hujan, Inul, dan Kopi Panas

yogya

Diariku, kutulis tanggal 18 November 2003, di kamar kostku yang penuh dengan keheningan.

Hujan mulai mengguyur Yogya beberapa hari ini, tampaknya alam akan kembali membasahi tanah yang sudah meretak akibat keheningan yang melandanya kemarin, dan hari ini hujan itu tampaknya marah sekali, dari pagi sampai malam hujan turun begitu kencangnya. Sehingga 3 jadwal acaraku hari ini batal karenanya.

Semalam aku tidur di kontrakan temanku di jalan Janti, aku pengen nonton TV tuk mengetahui berita terbaru, karena di kostku ga ada TV sama sekali. Begitu aku bangun tadi pagi hujan memang sudah lebat. Kutunggu beberapa lama, hujanpun tak kunjung padam, akhirnya satu mata kuliah terlewati. Ga mungkin dong aku berhujan hujanan dari Janti ke Kampus yang cukup jauh itu.

Kecewa sih memang, karena ga bisa kuliah di mata kuliah kegemarannku. Tapi sudahlah nanti siang aku juga bakal ke kampus, pikirku. Tapi menjelang siang, hujan juga tak kunjung reda, padahal acara yang bakal kuikuti ini adalah launching buku sang pedangdut ngebor yang fenomenal saat ini Inul Daratista berjudul “Hanya Inul”, yang langsung dihadiri si Inul. Kutunggu beberapa saat lagi menanti hujan reda, ga apa apalah telat yang penting datang, pikirku lagi. Namun harapanku sirna karena hujanpun ternyata tak bersahabat. Padahal saat ini semua orang Indonesia sedang kepincut dengan artis dangdut yang satu ini.

Sorenya hujan reda seketika, aku langsung pulang ke kostku karena kalau sampai gara-gara hujan lagi aku tidak datang pada acara nanti malam sungguh sangat mengecewakan lagi. Malam nanti rencananya ada seminar nasional bertema ” Refleksi satu hati” yang dihadiri tokoh 5 agama Indonesia. Yang menarik bagiku adalah datangnya Jafar Umar Thalib sang fundamentalis itu dan Emha Ainun Najib sang budayaman itu. Seperti apa sih si Umar yang diidentikkan dengan teroris itu. Rasa ingin tahu itulah yang membuatku ingin datang dan berdisukusi langsung dengannya.

Karena aku takut hujan akan datang lagi, jadi aku berangkat dari kost dengan segera. Sampai di lokasi seminar – Gelanggang Mahasiswa UGM – acara ternyata sedikit diundur, apakah karena hujan tadi, pikirku. 1 jam aku harus menunggu. Dari pada bete lebih baik keluar saja, kebetulan di luar ada angkringan tempat minum kopi. Kupesanlah secangkir kopi panas karena memang cuaca saat ini sangat dingin sekali. Eh… ketika kopinya selesai dibuat dan hendak di hantarkan ke hadapanku gelas kopi itu pecah seketika. Bayangkan aku tersontak tiba tiba kepanasan. Semua airnya tumpah di celanaku. Aku marah sekalai, kepada mas mas tukang akringan kulontarkan semua kemarahanku, sampi diapun memohon mohon maaf dan berencana membuat kembali yang baru. Namun kataku langsung: “tidak perlu aku tidak selera lagi minum kopi di tempatmu”.

Hari ini meski kekesalan dan kemarahan melandaku, namun satu lagi aku mengenal lebih jauh arti dari kehidupan ini. Terkadang rencana yang sudah kita atur sedemikian rupa tidak ada apa-apanya jika Tuhan tidak berkehendak. Aku mengenal kehidupan ini lebih jauh lagi dengan segala geraknya, ternyata aku ini belum ada apa apanya. Terima kasih Tuhan buat pelajaran hari ini.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: