Beranda > Kristen, Puisi, Rohani > Pelacur Pelacur Persekutuan

Pelacur Pelacur Persekutuan

IbadahPuisi singkat ini kutulis pada hari minggu, 16 November 2003, usai pulang Gereja di Yogyakarta.

Pusi ini muncul seketika atas akumulasi kekecewaan terhadap para aktivis persekutuan yang penuh dengan kemunafikan. Membohongi Tuhan (Termasuk juga saya barang kali) dengan tingkah langkahnya yang bertopeng itu.


Aku menyebutnya pelacur yang tak tahu diri,
tak punya malu
Begitu rapi dan bersih takkala siang,
tapi menjadi pelacur ketika malam

Aku menyebutnya pelacur brengsek,
penuh dengan akal bulus
Mengaku pintar padahal bodoh,
mengaku bisa, tapi tak mampu

Aku menyebutnya pelacur Hina,
karena berteman dengan kemunafikan
Dicerca banyak orang, dimaki teman sendiri

Inilah kehidupan pelacur persekutuan
Mengaku rohani padahal dusta
Ingin puylang ke Rumah…
Tapi jiwa sudah ditusuk…
sakau…. cemar……
Ingin tidak mencemarkan orang lain….
Ingin lepas dari komunitas ini…

Kategori:Kristen, Puisi, Rohani
  1. dr46thn
    November 23, 2007 pukul 2:14 am

    pelacur
    yang bukan hanya membawa onar
    juga yang mencipta onar

  2. thousandswill
    November 24, 2007 pukul 8:00 am

    dan menghakimi adalah hak_NYA

  3. ady
    November 27, 2007 pukul 9:45 am

    kurang tepat kata-katanya, berkreasi boleh boleh saja namun mari kita tempatkan kata demi kata pada posisi yang tepat. menghakimi bukanlah tugas manusia, tetapi memberikan saran dan solusi adalah hal yang terbaik dan terindah.

  4. evi siahaan
    Februari 16, 2009 pukul 11:22 am

    latar belakang pemikiran seperti itu dasarnya apa?maksudnya nih psk yng ikud persekutuan ato defenisi lain?

  5. Februari 17, 2009 pukul 6:28 pm

    menurutku kurang tepat saja kalau kata2 “Pelacur” untuk orang2 itu.
    tetapi mungkin akan tepat bila dikatakan “Orang yang belum mengerti akan suatu hal”

    tapi tunggu…
    yang ikut ini memang para pelacur beneran maaf kata PSK??

  6. Harry Simbolon
    Februari 17, 2009 pukul 8:51 pm

    @ Evi Siahaan & Erick Sinaga
    Saya pikir sudah sangat jelas dan saya sebutkan diatas “aktivis persekutuan yang penuh dengan kemunafikan”

    Puisi adalah salah satu media untuk ekspresi diri, Seperti juga Daud yang menuangkan keluh kesahnya dalam Mazmur.

  7. Februari 19, 2009 pukul 9:38 pm

    Ya ampunnnnnn …… kejam nian dikau

  8. Ardian Sahira
    Oktober 3, 2011 pukul 9:31 am

    Sungguh ironis akan tetapi sebagai pujangga yang mampu “menyalurkan” inspirasi:terasa mampu melawan ketidak nyamanan sebagai pembela hati yang runtuh.

    Biarkan orang bicara.🙂

  9. danies
    Desember 6, 2011 pukul 11:12 am

    expresi anda berlebihan..
    kalau mau meniru Daud, bkn bgini juga caranya.

    just be You..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: