Semangat Chavez, Mungkinlah…

Yang perlu kita tiru adalah semangatnya bukan idiologi Negaranya. Kepada setiap pembaca tulisan ini, saya gugah hati nuraninya, mari kita tanamkan rasa nasionalisme pada diri kita masing-masing, belajar lah dari Cavez dan Sukarno, tanpa memandang organisasi kita, idiologi kita, agama kita, kesukuan kita. Karena kita adalah sama sama warga Negara Indonesia.

DRASTISNYA kenaikan harga minyak dunia yang hampir mendekati 100 USD per barel menjadi sumber kegerahan semua pelaku bisnis di Indonesia, bahkan KADIN beranggapan ini akan menyebabakan kenaikan biaya produksi (ANTARA NEWS). Siapa yang tak berang melihat iklim investasi Indonesia yang istilahnya mati segan hidup tak mau ini ditambah satu keresahan lagi mengenai tingginya biaya produksi karena kenaikan energy cost, belum lagi praktek praktek pungutan liar ala preman di jalanan

Saya tidak tertarik membahas iklim investasi ini, tapi saya sangat berapi api menyikapi kebijakan energi Indonesia yang sanga tidak pro rakyat. Belajar dari Venezuela yang berani melakukan renegoisasi kontrak eksplorasi minyak dengan perusahaan-perusahaan minyak Amerika dan Eropa membuat Venezuela menjadi pendatang baru negara ekonomi maju saat ini, bahkan dengan wewenang Presiden Chavez yang hampir absolute sekalipun toh masyarakat Venezuela tidak mempersalahkannya, bahkan senang dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat yang makmur itu.

Bagaimana dengan Indonesia, Tidak adakah pemimpin Indonesia yang berani menantang kesemena-menaan perusahan minyak kapitalis? Ataukah presiden presiden ini tidak punya kejantanan? Who knows??

Ketika harga minyak mentah dunia naik, pemikiran saya langsung flash back melihat era 1970 -an. Naiknya harga minyak secara sangat signifikan (oil booming) pada saat itu, telah membuat Indonesia seperti tertimpa durian runtuh. Dana dari hasil penjualan minyak bumi telah mengantar negeri ini dalam pembangunan ekonomi. Keuntungan dari ekspor minyak berlipat ganda, sehingga, beberapa tahun setelah oil booming ini, pemerintah Orde Baru memutuskan untuk memberikan subsidi energi. Langkah pemberian subsidi ini, pada saat itu, dianggap sebagai langkah tepat yang mampu menarik investor asing turut serta membangun Indonesia. Alhasil, hingga pertengahan 1990-an, pesatnya pembangunan di Indonesia telah membuat negeri ini menjadi salah satu kandidat ‘Macan Asia’, bersama dengan Thailand dan Malaysia.

Namun cerita tahun 1970-an itu hanyalah sebatas kenangan saja. Saya sering kali mengatakan dalam setiap diskusi atau tulisan saya bahwa Indonesia adalah bangsa yang tidak pernah mau belajar dari masa lalu, inginnya maju jauh kedepan, tapi tidak mau melihat kebelakang dan belajar darinya. Coba saja jika dari awal kontrak kontrak eksplorasi minyak di Indonesia sejak awal sudah menguntungkan Indonesia, saya yakin saat ini Indonesia menjadi kaya raya dengan kenaikan harga minyak dunia ini

Sekali lagi saya kagum dengan Venezuela, saya bukannya mau membandingkan Venezuela dengan Negara Indonesia tercinta ini, tapi sekali lagi saya katakan kita harus belajar dari kemajuan bukan dari kemunduran. Presiden Cavez mampu melakukan itu, kenapa Indonesia tidak. Adakah yang salah dengan kader kader bagnsa kita?.

Yang perlu kita tiru adalah semangatnya bukan idiologi Negaranya. Secara idiologi dan politik jekas Indonesia dan Venezuela sangat berbeda, lagi pula saya sangat tidak tertarik membahas politik yang tak jelas juntrungannya itu. Jiwa nasionalisme sang presiden Venezuela itulah yang perlu kita tiru.

Nasionalisasi perusahaan-perusahaan perusahaan strategis asing memang kebijakan yang sudah sangat basi bagi Negara barat, malah IMF sedikitpun tidak akan pernah setuju dengan kebijakan itu. Mereka lebih senang divestasi, penjualan BUMN, Dll, yang notabene merugikan Negara. Dan kebijakan inilah yang dijalankan beberapa presiden kita terakhir ini. Mari kita belajar sejarah lagi, sekali lagi kita belajar sejarah dampak nasionaliasi perusahaan perusahan Belanda pada dekade pasca kemerdekaan, Kebijakan Soekarno ini jelas membuat modal kuat bagi berdirinya bangsa ini. Kita lihat contoh peruhsaan perushaan ini: BI, BNI, PTP, Postel, Dll yang sekarang menjadi kebanggan Indonesia. Perushaan perusahaan itu adalah hasil nasionalisasi perusahaan Belanda. Apa yang terjadi jika saat itu perusahaan perusahaan itu masih berstataus PMA? Mungkin Indonesia bakal menjadi Negara gagal.

Kepada setiap pembaca tulisan ini, saya gugah hati nuraninya, mari kita tanamkan rasa nasionalisme pada diri kita masing-masing, belajar lah dari Cavez dan Sukarno, tanpa memandang organisasi kita, idiologi kita, agama kita, kesukuan kita. Karena kita adalah sama sama warga Negara Indonesia.

Indonesia adalah Negara yang memiliki banyak masyarakat yang cerdas dan pintar tapi miskin masyarakat yang memiliki hati nurani dan jiwa pemberani.

WANTED
PRESIDEN YANG MASIH MEMILIKI HATI NURANI DAN BERJIWA PEMBERANI

Imbalan: Harga Diri Bangsa

  1. tobadream
    Desember 3, 2007 pukul 3:36 pm

    chaves kena refrendum tuh….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: