Beranda > Ekonomi, Kritik Kebijakan, Opini, Pajak > Bayar Pajak, Maka Kau Pahlawan

Bayar Pajak, Maka Kau Pahlawan

Di Belanda malah bagi laki-laki dewasa yang lumpuh diberikan manfaat pajak berupa pelayanan seksual dari pelacur.

BEBRAPA waktu yang lalu di kelas perpajakan sang dosen bercerita bahwa ada wajib pajak di negara kita tercinta ini yang tidak mau membayar pajak dengan dalih bahwa dia adalah pahlawan di Negara ini, banyak hal yang sudah dia sumbangkan buat negara ini, masaksih masih dimintai pajak lagi. Sang dosen terus bercerita bahwa ternyata para pejabat tinggi di Negara ini pun masih banyak yang belum punya NPWP, itu artinya mereka tidak mau membayar pajak, padahal UU perpajakan jelas mengatakan bahwa orang pribadi yang memiliki penghasilan di atas pendapatan kena pajak wajib membayar pajak.

Sang dosen favorite itu terus mengalir bercerita mengenai kondisi perpajakan di Indonesia, bahwa saat ini Pajak menyumbang 75% porsi penerimaan Negara, kalau bukan dari masyarakat, siapa lagi yang bisa membiayai Negara ini, siapa yang membayar gaji para PNS yang jumlahnya ratusan ribu itu, siapa yang membiayai pendidikan, subsidi BBM, melunasi hutang luar negeri, membangun jalan-jalan dan prasarana lainnya, dan lain sebagainya.

Saya heran kenapa para pejabat, malah mengaku pahlawan sekalipun, namun tidak membayar pajak. Padahal pahlawan identik dengan pejuang bangsa yang membela Negara demi berkibarnya bendera negara. Itu artinya bahwa pahlawan selalu berusaha mempertahankan keberadaan bangsa dan Negara. Tapi kenyataannya di Indonesia edan, mengaku pahlawan tapi ga mau berjuang tuk mempertahankan bangsa.

Dari cerita tersebut sang dosen kemudian memberikan sebuah pernyataan: “Setiap orang bisa menjadi pahlawan asal dia membayar pajak”. Saya pikir-pikir ternyata benar juga. Bukankah melalui membayar pajak kita memberikan andil untuk Negara ini, membiayai Negara demi keberlangsungan Negara. Ha..ha.. sejenak aku tertawa sendiri: “Ternyata selama ini aku memaknai pahlawan itu sebagai orang yang super tangguh, ahli strategi dan perang, ternyata makna pahlawan secara sederhana bisa diartikan sebagai pembayar pajak toh” Pikirku sambil tersenyum sendiri.

Sang dosen kemudian melanjutkan ceritanya mengenai praktek perpajakan di berbagai belahan dunia. Di Negara-negara Scandinavia ternyata tariff pajak mencapai 70%. Sontak kami sekelas terkejut, kalau gaji saya satu juta berarti saya hanya bisa bawa pulang cuma 300.000 saja dong, pikir kami dengan dangkal. Sang dosen kemudian menjelaskan bahwa di Negara tersebut pembayaran pajak diberlakukan sebagai asuransi, itu artinya pajak tersebut dikembalikan kepada wajib pajak dalam bentuk fasilitas, bantuan dana, jaminan sosial, dan lain sebagainya, kalau dihitung hitung manfaat pajak di sana melebih 70% dari pendapatannya tersebut. Wah berarti bisa lebih dari setoran pajak yang telah dibayarkannya dong. Lagi -lagi kami sekelas terkejut. Andai saja di Indonesia seperti ini.

Lain halnya dengan negara-negara Scandinavia, di Belanda malah bagi laki-laki dewasa yang lumpuh diberikan manfaat pajak berupa pelayanan seksual dari wanita tuna susila sekali dalam sebulan, lebih dari situ bayar sendiri. ha..ha… Kami pun tercengang. Pajak mengatur sampai hal seperti itu. Dari kasus ini dapat dilihat bahwa Negara benar-benar peduli bagi masyarakatnya. Negara tahu bahwa laki-laki seperti itu tidak mungkin bisa berkencan, makanya Negara memberikan fasilias seperti itu.

Kalau di Amerika lain lagi, masyarakat bisa mengalokasikan pembayaran pajaknya sendiri. Kalau kita tidak senang dengan kebijakan perang Presiden Bush, maka kita bisa mengalokasikan pajak kita untuk kegiatan-kegiatan selain perang. Dengan demikian secara tidak langsung menjadi ajang pendidikan jiwa nasionalisme bagi masayarakat.

Kalau begitu di Negara-negara tersebut semua warga negaranya pahlawan dong. Oh iya, itu pasti, jawab sang dosen.

Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata di Indonesia yang baru memiliki NPWP baru sekitar 7 juta orang. Bandingkan dengan jumlah penduduknya yang mencapai 230 juta orang, itu artinya baru 3% penduduk Indonesia yang layak dikatakan Pahlawan. Dari jumlah itu mungkin yang benar-benar melaporkan pajaknya dengan jujur dan sesuai dengan kenyataannya mungkin hanya 50%nya saja. Jadi hanya 1,5% penduduk Indonesia yang memang benar-benar Pahlawan. Kalau begitu bisa dong kita mendirikan taman makam pahlawan khusus untuk pahlawan kita itu, toh tanah kita masih luas kok tuk menampung jumlah yang sedikit itu. Ha..ha..ha..

Akal sehatku langsung nalar, berarti wajar saja dong kalau banyak kasus-kasus makar di Indonesia ini, karena memang mereka tidak memiliki NPWP. Ingin rasanya mengajak teman-teman melakukan penelitian atau survey saja ga apa-apa lah. Katakanlah judulnya “Analisis Hubungan Jiwa Nasionalisme Dengan Tingkat Partisipasi Pajak Di Indonesia” disetujui ga ya kalau aku mengajukan tesis dengan judul seperti itu nanti.

  1. Rumahorbo
    November 30, 2007 pukul 5:07 am

    Dirjen pajak saja tidak punya NPWP gimana Wajib pajak mau bayar pajak. apa kata dunia!!!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: