Beranda > Change, Kristen > Pengusaha Itu Bernama Pendeta

Pengusaha Itu Bernama Pendeta

Pengusaha jelas berbeda dengan Penguasa, namun dalam tulisan sederhana ini kedua istilah itu memiliki defenisi yang hampir sama. Loh, kok bisa. Mari kita bahas secara singkat. Sebenarnya saya sama sekali tidak tertarik membahas perikop keagamaan seperti tulisan ini. Tulisan ini hanya menyinggung sisi humanioranya saja.

Melihat berbagai fenomena kegerejawian di Indonesia ini, saya mengamati bahwa begitu banyak pemimpin jemaat (Pendeta) (mungkin juga pemimpin agama lain) yang hidupnya sungguh tidak bisa menjadi teladan bagi banyak orang terutama jemaatnya sendiri. Anda tahu bahwa sekarang ini pendeta sudah menjadi suatu profesi bergengsi. Hanya sekolah 4 tahun di sekolah Teologia, ditambah 1 tahun praktek dan anpa menjadi pengangguran seperti lulusan banyak universitas kebanyakan jadi lah pendeta yang perkataannya selalu dianggap bagi banyak orang. Padahal belum tentu bisa dipastikan selama 5 tahun itu ia benar-benar menerima panggilan untuk menjadi Pendeta. Kalau di gereja karismatik lain lagi seorang yang tanpa latar belakang pendidikan teologia bisa didaulat menjadi pendeta.

Beberapa kasus di Indonesia dimana pendeta memiliki kuasa penuh, arogan, otoriter, malah banyak kita jumpai pendeta yang korup uang gereja, pendeta yang menjual tanah gereja, malah yang lebih sadis lagi pendeta mencabuli jemaat. Edan benar kan. Kasus yang masih hangat terdengar ditelinga kita adalah pertikaian antar jemaat di Bandung dan Jakarta Timur. Saya berpendapat bahwa itu murni adalah masalah pendeta bukan jemaat. Jika pendeta berhati besar dan bijaksana seharusnya bisa mempersatukan jemaat. Lagi pula apasih yang dikejar? Kekuasaankah? Market share (jemaat) kah?Ya beginilah para pendeta sekarang berwatak politik untuk meraih kekuasaan dengan cara-cara pengusaha. Anda tahu strategi marketing bukan? Salah satunya mout to mout marketing, begitulah pendeta sekarang ini, mempromosikan diri sendiri, bukannya memberitakan kabar baik, bahkan banyak juga pendeta membuka usahanya dan menjadikan mimbar sebagai alat promosi.

Pemimpin jemaat memiliki ikatan moral kepada jemaat, tunjukkanlah kalau pendeta memang bermoral. Moral ditunjukkan dari keteladanan hidup. Penelitian mengatakan bahwa motivasi orang berpindah keyakinan 80% dikarenakan melihat keteladan hidup sesorang, sementara perkawinan beda agama, ingin jadi pejabat, kalah berdebat, dll hanyalah penyebab kecil saja. Maka dari itu marilah back to basic. Kembalilah ke ladang, pegang cangkul dan mari kita garap ladang yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Jadikan hidup Anda kitab terbuka yang dapat dibaca setiap orang.

Anda takut Anda menjadi miskin. Jika Anda merasa seperti itu, jelas Anda tidak layak menjadi pendeta, Anda sudah tidak lulus kualifikasi. Menjadi Pendeta yang benar-benar disebabakan panggilan Tuhan pasti kebutuhannya akan dicukupkan. Oleh siapa? Tuhan punya banyak cara yang tidak bisa dimengerti oleh manusia. Pertanyaannya kemudian Panggilan Tuhan itu seperti apa ya? Jika Andapun tidak bisa menjawab pertanyaan ini sekali lagi Anda tidak lulus kualifikasi menjadi Pendeta. Jika Anda tidak bisa mendengar suara Tuhan bagaimana Anda nanti bisa menyampaikan kabar baik dari Tuhan.

Pendeta (pemimpin jemaat) memiliki peran merubah (to change) kehidupan jemaat. Sadarilah itu. Aktivitas to change itu hanya dapat efektif melalui transfer of live. Ya Anda membagikan cara hidup Anda, karena Andalah yang sedang menjadi fokus bagi para jemaat.

  1. BomBom
    Desember 4, 2007 pukul 7:03 am

    Ha.ha.ha..
    kalau dalam kasus ini gw bukan bilang apa kata dunia.
    tapi…
    Apa kata Tuhan……

    gw senang kalimat back 2 basic. kembalilah hai pendeta ketempatmu semula, layanilah para jemaatmu, jangan justru meminta pelayanan dari jemaat.

  2. Desember 4, 2007 pukul 9:38 am

    Makanya banyak pendeta sewot kalo jemaatnya dicuri gereja lain. Makin berkurang pendapatannya.😀

  3. tobadream
    Desember 4, 2007 pukul 8:52 pm

    makanya jangan jadikan Pendeta sebagai profesi kerja, lebih baik dijadikan kesadaran sendiri dalam Panggilan Tuhan yang Tulus, bukan karena isi perut🙂

  4. eva
    November 2, 2008 pukul 1:48 am

    wah pendeta hari gini emang aneh2…”yg terdahulu akan menjadi terbelakang ya”
    kalau kegerja jangan lihat dari pendetanya lihat TUHANnya aja kalau lihat pendetanya bisa gila.
    banyak kasus pendeta menyakiti jemaatnya/menipu jemaatnya.., contoh meminjam uang jemaat utk foya2,krm anaknya keluar negeri misalkan terus uangnya tidak dikembalikan dan masih banyak kasus lagi uang renovasi gereja dimakan, natal &paskah dirayakan biasa aja di gerejanya tapi ulang tahunnya dibikin heboh, terjadinya perbedaan2 jemaat yg kaya,biasa, and janda.janda2 tidak di biayaain…dan masih banyak lagi. anyways pendeta masih manusia, pendeta bisa berbuat aneh kepada jemaat/umatnya tetapi TUHAN tidak akan pernah dan akan tetap sayang sama jemaatnya tanpa memandang kelas/kekayan/uang/materi dll.
    biarkan TUHAN yang menegur pendeta tersebut dan TUHAN itu pasti maha adil. diakhir kata, bagi umat nasrani kalau kegerja jangan dech lihat pendetanya.

    Harry: teman saya malah pernah cerita kalau jemaat gerejanya memergoki pendetanya sedang browsing situs porno pake komputer gereja. edan ya jaman sekarang ini

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: