Beranda > Artikel bebas, Batak, Budaya, Kisah Nyata > Ketika Para Simbolon Parhata Sada Bekumpul

Ketika Para Simbolon Parhata Sada Bekumpul

di Kuburan oppung

Memang benar bahwa kami semua adalah parhata sada, keras kepala, namun bila kutelusuri lebih jauh lagi usaha mempertahankan pendapat itu ada baiknya dan ada benarnya demi kemajuan yang lebih baik, tidak mau dilecehkan, dan tidak mau dianggap remeh.

MOMEN kepulanganku kekampung halamanku kali ini sungguh menyiratkan banyak catatan. Setelah dua tahun aku mininggalkan keluargaku, kampungnya orangtuaku di Humbang, dan juga teman-teman masa kecilku dan teman sekolahku. Mungkin kalau semua kisah yang kualami selama dua minggu di tanah Batak ini ingin kutuliskan di blog ini pastilah kapasitas gratisnya langsung habis. He.he.he. Namun ada satu hal menarik yang menjadi poin utama catatanku, yaitu ketika Para Simbolon Parhata Sada Bekumpul. Kenapa saya katakan parhatasada karena memang marga simbolon terkenal dengan keras kepalanya dan omongannya harus diikuti dan harus terjadi. Itulah ciri khas marga simbolon.

Bisa saya rinci simbolons yang berkumpul saat itu. Aku (simbolon 1), Abangku (simbolon 2), Bapakku (simbolon 3), Bapaudaku 1 (simbolon 4), Bapaudaku 2 (simbolon 5), oppungku (simbolon 6), Oppung Pasu/abangnya oppungku (simbolon 7) dan opungnya oppungku/6 keturunan diatasku yang datang ke dunia nyata setelah merasuki tubuh kakakku (simbolon 8), dan masih banyak pinoppar/keturunan sesama simbolon lainnya (simbolon 9).

Konflik parhatasada ini hanyalah merupakan adu argumen, kalau bahasa Medannya ogap-ogapan karena tidak mau mengalah dan mengaku salah. Dinasehati sebagaimanapun tetap merasa diri benar. Saya tidak tahu apakah semua marga Simbolon begini, namun berdasarkan perkiraanku hampir semua marga Parna memiliki watak seperti ini.

Praktek parhatasada pertamakali terjadi ketika aku berdiskusi dengan abangku (simbolon 2) mengenai perkuliahannya yang tak kunjung usai setalah 10 tahun dan pekerjaannya yang tidak menentu untuk mencukupkan kebutuhan istri dan anak sematawayangnya. Berbagai saran dan masukan yang kuberikan sepanjang perjalanan dari Bandara Polonia Medan sampai ke rumahku di Kuala tanjung tak kunjung digubrisnya. Aku bukannya mau sombong karena aku siadekan dan telah mendapatkan kerja cukup di Pulau Jawa, namun aku hanya prihatin dengan kondisi abangku ini. Kalau kulihat boru sasadanya yang begitu imut dan cerdas, sedih aku melihat bapaknya mampu ga menyekolahkannya sampai jadi dokter kelak.

Ketika sampai kami di rumah bertemulah dengan simbolon 3 – sang Bapak yang melahirkan kami berdua, kalau Bapak tak usah dibicarakan lagi, karena memang semua tetangga dan kawan kerjanya sudah mengakui betapa kerasnya pemikiran Bapakku ini, mungkin inilah sebabanya aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Perfeksionis, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sang Bapak. Salah meletakkkan perkakas rumah saja pada tempatnya, habislah kami diomelin. Namun kalau aku boleh menyelami lebih dalam kepribadian Bapakku sebenarnya dia sangat baik sekali, perhatian pada anak-anaknya, namun hal itu tidak bisa langsung ditunjukkannya kepada kami. Gengsi kali ye.. but I love U Pap.

Konflik yang sungguh menggetarkakn seluruh urat nadiku, dan merobek rasionalitasku adalah ketika semalam sebelum acara tardidi anaknya abangku, di rumah sudah berdatangan para kerabat dan akan menyantap hidangan makan malam, semua hidangan sudah disediakan dan semua kerabat sudah berkumpul, tiba tiba kami dikejutkan dengan suara kakakku/istri abangku yang secara tiba-tiba menjerit dan berkata: “opung itu disini bang”, dan langsung tiba-tiba ia mengelepar. Kami pun segera menghampirinya, kami semua tahu kalau dia kerasukan, namun kerasukan entah siapa, kami tidak tahu. Setelah ditanya berulang kali barulah dia mengaku: “Tinggil do au”. Ketika mendengar pengakuan itu sontak abangku terjatuh pingsan. Ya Beliau adalah Oppungku pertama yang merantau keluar dari pangururan (asal simbolon) dan bermukim di Pakkat. Selanjutnya Oppung berkata: “Nungnga jadi hamu sude, alai lupa hamu tu au, dang hea hamu Ziarah, dang hea dilean hamu mangan au” simbolon 6 menyauti: “Ahama pangidoan oppung tu hami?”. jawabnya: “lean mangan au, lean mangan au. Lean managan au, asa gabe Sarjana sude pinoppar”. apakah ini sebabanya Abangku belum lulus Sarajana? Who knows…. “Ahama dibane hami sipanganon to Oppung?” ujar simbolon 3. “ikan mas, ikan mas do diau”. Semua yang ada disitu sontak terkejut, kalau kulihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, mana ada lagi warung, atau lapo yang buka, kalaupun masih buka pastilah sudah habis, namun meskipun begitu, Bapak (Simbolon 3 dan Simbolon 5) segera mencari keluar sampai kejalan raya lintas sumatrera, namun tak kunjung ketemu.

Sepanjang kedatangan Oppung itu aku lah yang memegang tubuh kakakku, jadi ketika aku tahu Oppung itu sudah keluar dari tubuhnya langsung kutelepon Bapak, sudah keluar oppung itu pak, balik lah kalian. Usai kututup telepon itu tiba-tiba Oppung itu masuk lagi dan berkata: “Di dia dekkeki, di dia ikan mas i” sambil bernyanyi-nyanyi. Langsung kutelepon balik Bapak, masuk lagi Oppung itu pak, cari kalian lah sampai dapat. Karena Bapak belum juga menemukan ikan mas. Sempat Bapak berpikir untuk membeli ikan yang lain dan menawar dengan alasan tidak ada lagi kami cari ikan mas itu Oppung, namun kami larang karena simbolon selalu terkenal dengan parhatasada-nya. Kami tahu bahwa ini adalah permintaan keharusan, tidak bisa ditawar seperti simbolon kebanyakan, maka aku dan mamak segera mencari ikan mas mentah langsung ke tambaknya, kami berpikir biarlah kami masak sebentar daripada tidak ketemu ikan mas yang sudah dimasak. Kami bawalah tiga ekor ikan yang besar-besar. Sesampainya dirumah langsung kami masak ikan mas itu.

Setelah ikan mas masak langsung kami sajikan didepan kakak yang sedang sadar, namun dengan segera sang oppung datang lagi. “langsung dimakannyalah ikan itu, dan kami semua pinopparnya/keturunannya menyuapi oppung itu satu persatu” setelah usai makan Oppung itu berkata: “mauliate, Huramoti ma hamu sude aka pinoppar hu, lao ma au / terimakasih, keberkatilah kalian semua keturunanaku, pergilah aku”. Setelah kejadian itu kamipun langsung lemas dan plong. Malam itu sungguh malam yang tak terlupakan. Inilah pengalaman pertamaku bertemu langsung dengan makhluk yang sudah mati, diluar keyakinanku terhadap Tuhan mengenai benar atau tidaknya hal ini, pengalaman ini sungguh tak terlupakan.

Karena permintaan Oppung itu harus Ziarah ke kuburnya, maka pergilah kami semuanya ke Pakkat dan berziarah disana, usai ziarah terjadilah adegan parhatasada berikutnya, dimana ketiga anak Oppung (simbolon 6) berkumpul dan membicarakan pembangunan rumah yang sudah reot di dusun sipagabu, 20 KM dari simpang Parbutihan kira kira 25 KM dari Kota Pakkat Humbang Habinsaran., disinilah nyata bagaimana sebenarnya simbolon yang keras kepala itu, tidak mau mengalah sedikitpun, sampai simbolon 7 dan simbolon 9 juga ikut turun tangan. Hampir saja terjadi adegan fisik, hanya karena membicarakan uang dan Harta, jadi pulanglah kami dari Pakkat dengan perasaan yang kurang sedap.

Usai peristiwa itu sepanjang jalan, sembari aku menyupir mobil, kurenungilah terus peristiwa itu: memang benar bahwa kami semua adalah parhata sada, keras kepala, namun bila kutelusuri lebih jauh lagi usaha mempertahankan pendapat itu ada baiknya dan ada benarnya demi kemajuan yang lebih baik, tidak mau dilecehkan, dan tidak mau dianggap remeh, akupun dulu melakukan hal serupa ketika tak diijinkan kuliah di Lampung akupun berkeras sampai mengancam tidak akan pernah mau kuliah jika tidak diijinkan berangkat.

Inlah budaya keluarga yang terus menurun melalui jalur genetic. Bahkan yang sudah mati sekalipun bisa nongol kembali ke Bumi hanya untuk membuktikan bahwa simbolon memang parhata sada. Aku hanya mengambil segi positifnya saja. Jikalau prinsip parhatasada demi meraih prinsip yang lebih baik, demi kesuksesan di hari esok kenapa tidak. Siapa tahu dihari esok terus bermunculan para simbolon yang lebih sukses lagi.

 

Agar tulisan ini lebih bermakna, saya lontarkan beberapa pertanyaan untuk kita diskusikan bersama:

  1. Sepakatkah rekan-rekan dengan budaya marga Parna ini atau secara spesifik marga simbolon?
  2. Apa tanggapan pembaca terhadap kasus kedatangan Oppung saya yang sudah mati ratusan tahun lalu itu?
  3. Bagaimana kaitannya dengan pemahaman Agama?
  4. Setujukah rekan-rekan dengan perihal mempertahankan prinsip demi kemajuan dimasa yang akan datang? seberapa berharganyakah prinsip itu?
  1. santrov
    Januari 7, 2008 pukul 1:41 am

    Horas appara, selamat taon baru… tabo do hape na mulaki ate.. sombu sude.. molo menurut ahu:
    1. Bukan cuma marga parna.. sepertinya sifat seperti itu sangat kental di orang batak…bukan cuma parna…. Jarang mau mengalah apalagi masalah adat dan partuturan…
    2. Antara percaya dan tidak. Karena pernah juga mengalamai di keluarga dan melihat… perlu penelitian dari segi ilmiah…
    3. Dari segi agama sih susah juga… ada beberapa pandangan. Ada yang meilhat itu sebagai suatu kesesatan, menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang ditabukan. ada juga yang melihatnya lebih lembut dalam arti tidak dicap sebagai suatu yang salah tetapi lebih didoakan orang tersebut dll. Kalau saya sendiri melihat itu sebagai bukti bahwa masih ada hubungan antara orang mati dan orang hidup. Dan orang hidup harus mendoakan orang mati supaya arwahnya diterima di sisi Tuhan dan tenang di alam baka.
    4. Soal mempertahankan prinsip bagi saya sangat penting. tetapi perlu fleksibel. Karena belum tentu prinsip kita itu akan benar mutlak. banyak segi yang harus dilihat. Juga dampak dari prinsip kita ke orang lain, dll.

    Itu dulu appara… horas

    Harry: Horas Appara, iya nih, masih terasa capek sampe sekarang, habis… di huta bukannya liburan tapi ikut kerja bakti. Senang aku sama pendapat appara ini. Semoga Parna semakin jaya. he..he..

  2. Yusnita
    Januari 18, 2008 pukul 9:05 am

    hmmmmmmmmmmm

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: