Beranda > Bisnis Manajemen, Fair Play, Kebijakan, Opini, Telekomunikasi > Perang Tarif: Makin Panas Disentil Sama Si 0,5

Perang Tarif: Makin Panas Disentil Sama Si 0,5

persaingan

Bisnis telekomunikasi Indonesia saat ini memasuki babak baru – perang terbuka. Laksana perang kemerdekaan dimana bambu runcing berhadapan dengan pistol dan meriam, atau ketika perang saudara meletus di Afrika, begitulah sekarang antar operator mengerahkan seluruh strategi perangnya.

Berdasarkan hasil pengamatan saya pribadi, strategi yang ada sekarang adalah strategi balas-balasan dengan harga murah. Kalau dalam teori manajemen strateginya disebut sebagai alow – cost leadership strategy, yaitu suatu strategi dalam penyediaan produk dan jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen secara luas, dengan harga yang serendah mungkin. Ketika satu operator meluncurkan strategi promosi baru degan harga murah tak lama kemudian langsung dicounter operator lain dengan mengeluarkan promosi yang lebih baru dengan harga yang terkesan lebih murah lagi.

Dari sekian lama bisnis telekomunikasi ini berdiri sepertinya saat inilah frontal war itu benar-benar terjadi, berdasarkan pengamatan saya, yang paling cepat bereaksi adalah si biru, tak sampai satu bulan program si merah atau si kuning berlangsung, si biru langsung bertindak, sementara si kuning sedikit cermat melihat kondisi, tak lamapun si kuning meluncurkan promo barunya. Demikian juga si hitam sang bungsu yang masih sangat berhati-hati. Sementara si Merah sang market leader dengan sedikit berwibawa mengamati adegan yang terjadi di lapangan sembari menunggu waktu yang tepat menggoyangkan “powernya

Dan baru-baru inilah adegan perang itu tampak nyata di mata dan telinga konsumen, ketika si biru mulai memperkenalkan Rp 10, diturunkan lagi Rp 1, kemudian si kuning tidak mau kalah dengan mengeluarkan Rp 0 (logika anak SD pun bisa berkata, bohong banget kalau gratis jadi untung perusahaan darimana?). Tak lama dari itu setelah membaca kondisi lapangan si merah pun terpancing dengan mengeluarkan 0,5, eh bukannya berhenti samapi disini, telinga si biru, kuning, dan hitam malah terasa panas sekali. Bak kebakaran jenggot ditingkat korporat langsung mengcounter dengan program seperti gambar yang saya tampilkan diatas, demikian juga ditingkat regional atau propinsi/kota, beberapa strategi dan iklan perlawanan itu tampak nyata sekali. Bisa pembaca amati bila sering berpergian keluar kota maka program promosi di setiap daerah pasti beragam yang ujung-ujungnya saling mencela operator lain dan menonjolkan produknya. Kalau kita amati secara sederhana sebenarnya perang ini lebih mengedepankan bahasa marketing padahal ada udang dibalik bakwan.

Melihat adegan perang itu masyarakat malah tertawa terbahak-bahak: hajar terus, tikam dari belakang, awas rudal dari samping, dll. Tentu saja masyarakat berpikir demikian karena manfaat besar dari perang tarif ini sangat menguntungkan mereka. Bagaimana dengan pemerintah? Ternyata pemerinah tidak tinggal diam, pemerintah siap menjadi wasit dalam pertarungan ini. Namun beranikah pemerintah meniup peluit? masih tanda tanya, apakah kebijakannya hanya menguntngkan sebelah pihak seperti selama ini, who knows?

Teringat saya beberapa waktu lalu, ketika saya bertanya kepada rekan kerja saya: “kenapa ya kita tidak ikut menurunkan tarif, Andai saja produk prabayar kita dibuat flat, saya yakin semua akan beralih kepada kita?” Pertanyaan ini dengan sederhananya dijawab oleh teman saya itu. “Kalau perang tarif mah kagak ada habisnya”. Apa yang terjadi sekarang ini benar, ketika si merah terpancing darah mudanya dan ikut-ikutan bermain tarif, maka jadilah seperti ini.

Saya pribadi tidak mempermasalahkan perang tarif ini, namun bagi saya yang merupakan pelanggan selular – sekali lagi – bagi saya yang merupakan pelanggan selular, jangan sampai perang tarif ini akhirnya mengorbankan kualitas, atau memangkas biaya yang semestinya tidak harus dipangkas hanya karena menutupi ongkos promosi yang berujung pada buruknya kualitas pelayanan. Beberapa waktu lalu saya mendapat email dari rekan saya di Kalimantan yang mengirimkan foto robohnya menara salah satu operator dan menimpa rumah penduduk disebelahnya (saya tidak perlu tampilkan fotonya karena langsung kelihatan BTS itu milik siapa, dan yang menariknya lagi BTS milik operator lain masih tetap berdiri kokoh disebelahnya). Pertanyaan saya kemudian apakah ini salah satu dampak dari perang tarif itu.

Sampai kapankah perang ini berlangsung? Belum habiskah semua energi dan logistik para operator, atau belum adakah yang berani menyatakan we are the champion? Namanya bisnis, maka persaingan akan terus terjadi, selagi masih ada kesempatan memperoleh uang, maka segala daya dan upaya akan terus dikerahkan. Taruhannya hanya satu: untung atau buntung.

  1. Berry Ronald
    Januari 17, 2008 pukul 8:44 am

    teruslah berperang, agar tarif semakin murah, jadi aku bisa terus komunikasi dengan orang-orang di kampungku.

  2. Januari 25, 2008 pukul 6:47 am

    ha. . .ha. . .

    Dengan perang ini saya melihatnya senang . . . sedih. . . tapi ya . . lucu banget gitu loh. Kita boleh perang, tapi perangnya yg make sense lah alias masuk akal. Masak sih ada operator celuler bilang “gratis sampai abisss. . .”. Boleh sih, tapi kata bang Harry (Andrian simbolon) jangan sampai mengorbankan kualitas, toh ujung-ujungnya konsumen yg dirugikan. . ..
    Kalo bisa nih. . . untuk semua operator di Indonesia pasang harga yg wajar, terjangkau masyarakat bahwah, menengah and atas, but quality is number one.
    Atau masukan nih.Para operator join aja dlm mendirikan Antena/Tower/BTS, jadi satu tower untuk rame-rame (biar rukun gitu loh. . . mereka), keuntungannya para operator bisa reduce cost untk yg satu ini, dan benefits lainnya mereka jadi kompak tidak bunuh. . . bunuhan. . . tapi jangan bunuh konsumen loh. . . ya. . .

    salam
    Sulistyo

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: