Beranda > Kehidupan, Nasionalisme > Selamat Jalan Soeharto

Selamat Jalan Soeharto

Siang ini dalam perkuliahan pasca sarjana, kami semua dikejutkan oleh suara sms yang mendering di salah satu sudut ruangan, suara sms itu memecah konsentrasi peserta kuliah yang sedang menyimak penjelsan sang dosen, ” Suharto meinggal” celetuk sang mahasiswa tersebut, sontak kami semua terkejut.

Padahal baru 3 hari yang lalu saya memposting sebuah tulisan di blog ini yang mengatakan “kapan sih matinya”. Mohon maaf Pak, jika tulisan saya itu benar-benar menjadi kenyataan. Bagaimanapun Engkau ada pahlawan bagi bangsa ini.

Selamat jalan pahlawanku, wujud nyata tugasmu selama menjadi presiden ini telah banyak kami rasakan, semoga segala karyamu -terlepas dari semua kontroversi yang ada – dapat menjadi penggerak dan contoh buat para pemimpin bangsa yang akan datang.

  1. Januari 28, 2008 pukul 9:32 am

    Oke-oke saja mengucapkan selamat jalan buat Soeharto, itu bagian dari moralitas kita sebagai orang timur dan manusia beragama. Tapi dengan menyebutnya pahlawan, secara langsung atau tidak langsung anda telah membenarkan tindakan rezim Soeharto yang menyebabkan kematian banyak orang di negeri ini.

    Oke-oke saja mengucapkan selamat jalan buat bekas diktator itu, sambil menundukkan kepala mengenang para korbannya,

    bagi yang berminat, silakan baca artikelku mengenai masalah itu di : http://ayomerdeka.wordpress.com/

    Harry: maaf lae, kalau aku terlalu berlebihan menyebutnya pahlawan. kriteria pahlwan ini berbeda dengan pahlawan nasional versi pemerintah, ini hanya penilaian pribadiiku saja. hal ini berdasarkan analisa pembangunan ekonomi dan stabilitas sosial politik yang banyak ku telaah selama ini. Jujur aku katakan aku tidak senang dengan caranya memerintah, namun dari sisi sosiologi ekonomi dan secara pribadi aku sebagai masyarakat ekonomi yang tidak terlepas dari keseluruhan ekosistem sosial indonesia aku sepakat pada pemikirannya mengenai konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan.

    Tidak tahukah kita bahwa banyak hal positif yang telah kita rasakakan dari pemerintah orde baru, meski seperti sisi mata uang yang sebelahnya penuh dengan lika-liku rezim yang otoriter.

    Kalau saya berfikir simple saja lae, ambil segi positifnya, yang salah dan jahat biarkan Tuhan Yang maha Kuasa yang turun tangan.

  2. Januari 28, 2008 pukul 11:52 am

    @ Lae Harry Simbolon

    Justru disitulah masalahnya Lae kandung. Andaikata pemerintah yang memberi gelar pahlawan pada Soeharto, bisalah aku anggap itu transaksi politik yang lazim dan itu nggak ada apa-apanya. Tapi ketika Harry Simbolon pribadi menyebut Soeharto sebagai pahlawannya, terasa ada yang mengganggu dalam nurani.

    Mengenai sosiologi ekonomi yang lae katakan, biarlah aku agak nekad menanggapi, biarpun tidak pernah studi ekonomi. Kalau sebatas konsep, Soeharto memang jago Lae.

    Bukan hanya konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan, tapi Trickle down Theory-nya Rostow pun diadopsinya ke dalam sistem ekonomi kita, tapi sangat tricky. Cuma untuk menyuruh orang miskin sabar menunggu krim ekonomi menetes dari pinggan emas orang-orang kaya yang merupakan keluarga dan kroni Soeharto.

    Lebih hebat lagi, Soeharto bahkan sudah menggagas apa yang dia sebut MANUSIA INDONESIA seurtuhnya, yang kalau berhasil diterapkan setengahnya saja, maka semua orang Indonesia akan jadi malaikat.

    Banyak lagi Lae, tapi coba cari sendirilah referensinya. Nah, kalau nanti Lae tetap bilang Soeharto pahlawanmu, aku akan hargai itu walaupun kita tetap berbeda pendapat.

    Horas

  3. Januari 28, 2008 pukul 11:55 am

    @ Lae Harry Simbolon

    Pembetulan : yang kumaksud pada komentarku di atas adalah MANUSIA INDONESIA SEUTUHNYA

    terima kasih

  4. Harry Andrian Simbolon
    Januari 29, 2008 pukul 1:29 am

    Salut aku dengan pendapat lae ini.

    jadi pengen aku mengenal lae lebih jauh. biasanya setiap jam kerja aku selalu OL, mari kita diskusi via YM, id: harry_bolon

  5. Februari 3, 2008 pukul 6:01 pm

    yang menganggap suharto pahlawan adalah penjilat

  6. dz
    Februari 15, 2008 pukul 4:34 am

    Heheh.. bro Nadao… berarti lae Harry = Penjilat ya….hahahah…

    Harry: Sori bung dz, aku sama sekali tidak punya afiliasi dengan si Suharto ini, jadi aku tidak ada kepentingan didalamnya. mau mati kek dia, mau hidup lagi, ga ada urusannya samaku. ini hanya pemikiran normatif saja, Kalau bung dz ga bisa menghargai pendapat orang lain, bagaimana Anda bisa menghargai diri sendiri.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: