Beranda > Birokrasi, Kebijakan, Kritik Kebijakan, Lingkungan, Opini > Jalan Keluar Mengatasi Banjir Jakarta

Jalan Keluar Mengatasi Banjir Jakarta

Masukan Kepada Pemerintah

Hari ini Jakarta kembali dirundung malang. Sakit tahunannya kembali kambuh. Air bah buatan manusia kembali menyambangi ibukota negara tercinta ini. Saya sebut buatan manusia karena ini memang akibat ulah manusia sendiri. Banjir Jakarta sudah seperti musim yang bisa diprediksi kapan datangnya, sebenarnya saya tidak mau menyebutnya sebagai penyakit karena kalau penyakit pasti ada obat untuk mengatasinya, minimal ada pencegahan ketika gejala penyakit mulai datang. Lebih tepat saya menyebutnya sebagai malapetaka yang sengaja dibiarkan begitu saja, menjadi hiburan masyarakat indonesia yang rutin setiap tahunnya menghiasi media televisi nasional, dan menjadi komoditas berita para pahlawan tinta. Dan pastinya membat kesal para warga DKI.

Masih teringat olehku enam tahun silam, ketika aku untuk kedua kalinya berkunjung ke Jakarta dengan bangga dan senang hati boleh mengunjungi ibukota negara yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Maklum dikampungku di Tapanuli sana melihat rumah bertingkat dua saja sudah mewah sekali. Namun kebahagiaan liburan itu sirnah seketika ketika banjir menghadang, aku tidak bisa berpergian melihat kota yang selama ini menjadi tanda tanya besar bagiku, malah aku harus ikut membersihkan rumah tanteku yang airnya sampai sedada. Kesal memang, tapi apa boleh buat. Namun yang lebih mengesalkan lagi ketika hasil pekerjaanku membersihkan rumah itu pupus sektika ketika selang beberapa hari kemudian banjir yang lebih besar datang kembali. Ini hanya kisah kecil, belum lagi jutaan warga lain yang mengalami hal yang lebih buruk lagi.

Jakarta

Pembangunan fisik yang terus berkumandang di Ibukota berdampak negatif pada ekosistem lingkungan: Daya resap air semakin berkurang, daerah hijau sudah jarang ditemukan, aliran sungai penuh dengan sampah dan kotoran rumah tangga, rumah-rumah yang tidak punya drainase lagi, situ-situ yang telah berubah menjadi perumahan dan gedung mewah, pemukiman penduduk yang berubah menjadi mall-mal dan perkantoran elit, dan lain sebagainya.

Pertanyaan saya apakah masalah banjir ini memang tidak ada jalan keluar? Saya hanyalah warga biasa yang hanya sekali-kali saja berkunjung ke Jakarta, namun sebagai warga negara Indonesia yang memiliki ibukota negara di Jakarta saya sangat sedih melihat negara tidak mampu mengatasi masalah ini. Saat ini saya hanya ingin menyumbangkan saran saja sebagai bentuk kepedulian itu.

Salah satu penyebab utama banjir Jakarta adalah Sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta, sungai ini selalu menjadi kambing hitam pemerintah karena selalu tidak bisa diajak kompromi. Saya punya usul kenapa aliran sungai ini tidak dialihkan saja. Coba teman-teman lihat negara Malaysia, dulunya disana juga ada sungai (saya lupa nama pasti sunga itu) yang membelah kota Kuala Lumpur, dulunya sungai ini selalu berulah seperti Sungai Ciliwung, namun beberapa waktu lalu ketika saya kesana saya lihat sungai itu sudah hilang, alias dialihkan alirannya, dan ternyata sudah sejak dulu dialihkan. Pemerintah Malaysia punya cara cerdas mengatasi masalah banjir itu. Jika Indonesia menerapkannya apakah bisa? Masalahnya bukan bisa atau tidak bisa, saya yakin bisa, asal semua komponen saling bahu membahu. Memangsih pemerintah pernah mempertimbangikan membagi aliran Sunga Ciliwung ini menjadi banjir kanal, namun sampai saat ini masih terhambat pembebasan lahan. Ya, iya lah. Pasti jadi masalah, tanah jakarta gitu loh.. mana ada masayarakat yang mengiklaskannya. Kenapa tidak mengalihkan sungai itu keluar kota Jakarta, koordinasi ke pemerintah pusat agar bisa bekerjasama dengan tiga provinsi (Jabar, banten dan DKI), sehingga banjir ini menjadi masalah bersama. Pemerintah pusat saya rasa juga malu, pusat pemerintahannya menjadi olok-olok seluruh masyarakat, bahkan juga diolok-olok negara lain. Ayo kerjasama, jadikan ini menjadi masalah bersama.

Yang terjadi selama ini kan, pemerintah DKI menyalahkan provinsi Jabar karena aliran Ciliwung berasal dari sana. Sutioso saat itu sudah sedikit cerdas dengan mewacanakan kota megapolitan yang merangkul Bogor dan Cianjur. Dari awal saya sudah bisa menebak kalau ujung-ujungnya berusaha menyelamatkan Jakarta dari dampak demografi dan lingkungan, termasuk masalah banjir. Dengan terbentuknya kota megapolitan sudah pasti mereka juga ikut serta mengatasi masalah ini. Namun sampai saat ini hal itu masih sekedar menjadi wacana saja. Masih banyak orang yang berstataus Quo di negara ini.

Cara lain dapat diatasi dengan mengembalikan situ-situ yang ada pada tempatnya. Sepadat apapun kota Jakarta, saya pikir masih ada lahan kosong yang bisa dibuat menjadi situ. Coba buat studi dampak lingkungan derah mana yang paling layak dibuat situ, beberapa tali air yang mengalir dari rumah-rumah warga dialihkan ke situ-situ tersebut. Selain menjadi tempat penampungan air saya rasa situ-situ yang ada sangat potensial dijadikan juga sebagai tempat wisata.

Begitu juga dengan IMB. Saya pikir birokrasi perizinan IMB ini perlu di reformasi, jangan asal memberikan IMB. Pelajari dengan teliti design bangunan yang akan dibangun, apakah sudah memiliki drainase yang bagus, apakah mengganggu ekosisitem yang ada, apakah masih ada lahan hijau yang tersisa. Saya pikir pemerintah DKI punya palu hakim dalam memutuskan perkara ini. Ayo tegas dong, mari kita tanamkan kepada semua pelayan publik DKI bahwa banjir juga menjadi masalah mereka. Lagi pula kan gak mesti menyetujui pemberian IMB atas pendirian-pendirian gedung mewah meski dapat banyak uang masuk, coba pikirkan dampaknya. Pelayan publik selama ini yang saya perhatikan mengambil kebijakan tidak berdasarkan analisa value chain, lihat rantai alur dari kebijakan itu dibuat, mulai dari sumber, proses sampai kepada dampaknya.

Dan terakhir kampanye hidup sehat, canangkan kepada semua warga untuk hidup sehat, buat tempat-tempat pengumpulan sampah sementara agar warga tidak asal membuang sampah. Kalau bisa seperti Singapura yang memberikan denda kepada warganya yang membuang sampah sembarangan. Ajak warga ikut serta menanam pohon di sekitar rumahnya, ajak warga untuk menjaga saluran air agar tetap lancar, dan tentunya ajak warga mau bergotong royong melakukan hal itu.

Semua usulan ini saya kembalikan kepada pemerintah, berani gak? Punya nyali ga? Masak ngakunya penguasa ga punya nyali? Penguasa itu ya punya power (kekuatan). Tunjukkan power itu dengan santun untuk membangun daerah. Di Indonesia ini banyak orang yang cerdas namun sangat langka ditemukan orang pemberani yang tentunya memiliki hati nurani.

Mudah-mudahan sedikit dari saran ini bisa menjadi berarti apabila ada orang lain yang setuju dan mendukungnya, dan lebih baik lagi bila pemerintahpun mau melakukannya.

 

Harry: Jika kamu punya usul lain mengatasi banjir Jakarta ini kamu bisa menuliskannya pada kolom komentar dibawah ini. Semoga bermanfaat. 

  1. Februari 10, 2008 pukul 7:29 am

    Bikin aja Otorita Penanggulangan Banjir yang wilayah kerjanya mencakup tiga propinsi : DKI Jaya, Jabar dan Banten.

    btw darupada pusing mikirin banjir, mending kit intermezo sejenak. Mari kita dukung PSMS Medan. Ayo kita doakan semoga Saktiawan Sinaga cs berhasil melibas Sriwijaya FC. .

    Awas, ada kemungkinan PSMS akan dikerjain wasit lagi. Soalnya, Sriwijaya memang diplot oleh orang berkuasa di PSSI untuk merebut gelar juara. Salah satu caranya adalah dengan menyetel wasit agar merugikan PSMS. Ini terkait dengan sejarah dan bisnis, yaitu Persijatim yang dijual pemgurusnya dan kemudian menjelma menjadi Sriwijaya FC.

    Viva PSMS Medan, Mampuslah Sriwijaya FC!

  2. Harry Andrian Simbolon
    Februari 11, 2008 pukul 4:27 am

    Gimana ini lae..
    PSMS kalah sama laskar wong kito…

  3. Maret 17, 2008 pukul 3:53 am

    Buat aja perumahan mewah lagiiiiiiiiiiii biar jakarta kiamat sekalian okay????????????
    woooyyyyyyyy,,,,,pejabat jakarta mau duit ya???????
    ntar gw kirimin dec,,,,,
    asal lu kerja buat rakyat necccccccccc…
    ntar gw kirim duit lewat bank,okay???
    ada yg berani kommen gaaaaaaaaaa???????
    wooooooooy???adakah org yg berani???

  4. tyo
    Juni 13, 2008 pukul 2:11 pm

    Tidak semua permasalahan harus ditanggapi dengan amarah, kadang perlu kearifan dan kejujuran dalam melihat, menyimak dan memahami suatu permasalahan. Mungkin tanpa kita sadari, diri kita sendiri yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya permasalahan tersebut. Banjir di Jakarta memang harus segera diatasi, namun solusi tidak akan didapat dengan hanya saling menyalahkan. Lebih baik kita menggunakan pertanyaan “BAGAIMANA” daripada harus “KENAPA”…
    Sebab,dengan menggunakan kata tanya Bagaimana, kita bisa lebih mengarahkan perdebatan untuk menemukan solusi guna menjawab permasalahan dan tantangan yang ada di depan kita….

  5. Februari 12, 2009 pukul 4:29 pm

    datang yuk ke ONC bedah banjir jakarta dan Indonesia tanggal 23 februari 2009, dijakarta, akan hadir pembicara dari WMO( BGM nya PBB), worldbank, dan NGO juga konsultant, tidak ketinggalan govermant

    Mereka sedang melakukan pendekatan terbaru dalam penanganan banjir.
    let me know, erita@cknet-ina.org

    Harry: ok, nanti diusahakan datang mbak

  6. November 13, 2009 pukul 10:19 am

    faktor penyebab banjir itu ada banyak, salah satunya adalah hujan. di bilang utama karena air banjir berasal dari air hujan. umpamakan aja bahwa tempat hunian kita di bumi ini adalah sebuah wajan yg apabila di tambahkan sesuatu maka harus kita kelola. nah cara pengelolaannya itu bisa dengan reboisasi ataupun memperbaiki saluran2 sungai yang telah rusak sehingga wajan itu ga terus meluap. bila ga ada tambahan, wajan itu ga akan meluapkan?🙂 . hasil penelitian LAPAN 2007 bahwa penyebab banjir di jakarta itu ada 3 yaitu faktor hujan (klimatologi), perubahan penggunaan lahan dan kondisi hidrologi (penyempitan sungai, mengecilnya waduk dll).

  7. benny sulasmanto
    Desember 21, 2009 pukul 2:22 pm

    terima kasih atas tulisannya yang sangat bermanfaat buat ku,.,.,.,.,.,.membantu ku dalam tugas2 kuliah n menambah pengetahuan ku dalam dunia ke teknik sipilan,.,.,.,
    thxx b4

  8. Zeky Ambadar
    September 29, 2010 pukul 3:07 pm

    MENCEGAH BANJIR BUKAN HAL SULIT !

    Menanggulangi banjir dengan normalisasi sungai, perbaikan saluran air, dan pengoperasian pompa air seperti memberikan obat penurun panas pada seseorang yang demam tanpa mengobati infeksi penyebab terjadinya demam. Banjir akan berulang setiap turun hujan bila akar permasalahan penyebab banjir, sangat minimnya air hujan yang meresap kedalam tanah tidak diatasi.
    Saat ini air hujan dibuang ke selokan, saluran air dan sungai yang tidak lagi mampu menampung sehingga menjadi limpasan air berupa banjir/genangan. Untuk mencegah limpasan air hanya ada satu solusi, tingkatkan kemampuan meresapkan air hujan ke dalam tanah di setiap lokasi. Untuk itu diperlukan sistim resapan yang dibuat dengan prinsip menampung dan meresapkan air hujan ke dalam tanah sedekat mungkin dari lokasi jatuhnya sehingga tidak melimpas ke tempat lain.
    Dengan asumsi intensitas curah hujan harian 200 mm (sangat lebat), bila 150 mm (15 M3 air per 100 M2 luas lahan) dapat diresapkan dekat lokasi jatuhnya, dapat dipastikan banjir tidak terjadi karena sisanya mampu ditampung oleh saluran yang ada. Sebuah sumur resapan dengan kapasitas tampung 3 M3 (bukan model sumur resapan yang diterapkan sekarang yang diisi ijuk dan batu kali) cukup untuk sekitar 200 M2 lahan, karena kemampuan meresapkan air bisa 10-30X daya tampung tergantung permeabilitas tanah. Dari hitungan sederhana tersebut jelas banjir dapat dicegah bila setiap pemilik/pengelola lahan diwajibkan membuat sebuah sumur resapan yang memiliki kemampuan tampung untuk setiap 200 M2 luas lahan. Pengawasan atas pelaksanaan kewajiban tersebut juga mudah, cukup dengan mengamati volume air yang dialirkan keluar dari kompleks perumahan, Mal dan berbagai bangunan lainnya.
    Sebenarnya peraturan bahwa setiap pemilik bangunan harus membuat sumur resapan sudah ada, tapi modelnya keliru dan belum tampak keseriusan pemerintah untuk menegakkannya.
    Mencegah banjir tidak sulit, asalkan pemerintah punya keberanian membuat dan menegakkan peraturan agar warga “tidak membuang” air hujan keluar dari lahan yang dimiliki/dikelolanya. Singapura saja berani membuat dan berhasil menegakkan peraturan yang melarang warga meludah dan membuang sisa permen karet sembarangan.

  9. satria anwar
    Januari 26, 2011 pukul 7:55 pm

    klo buat w pembangunan di jakarta ga akan w sllu penting kan , yg penting bagaimana cra mengatasi semua kebanjiran yg melanda kota jakarta yg slaman ni ga a\da jalan kluar nya .. ga hanya pembangunan di kota ini tetepi hanya saja yg manusia di indonesia khusus ya menyadari betapa penting ya menjaga atau mengatasi kababjiran yg melanda indonesia ini …
    ga hanya masyarakat kecil ajah yg sadar tetapi ssmua kalangan masyarakt di dunia khusus ya di indonesia ….

    w ngomong kaia gini bkan karna do tau tp w dapt inpormasi sari pwngalaman w di masyarakat indonesia …

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: