Beranda > Birokrasi, Pendidikan > Mau Jadi Universitas Riset Kok Minim Profesor

Mau Jadi Universitas Riset Kok Minim Profesor

Saat ini istilah universitas riset sudah tidak asing lagi di telinga kita, hampir semua perguruan tinggi mengaku menjadi universitas riset, padahal kalau boleh melihat sekilas saja kondisi kampusnya sangat mengharukan sekali. Budaya latah di negeri kita ini memang sedang lagi trend, satu orang bilang begitu besoknya yang lain gak mau ketinggalan ikut-ikutan bilang begitu. sama seperti kasus universitas BHMN dulu. Ya.. dipelajari dulu lah kondisi realnya.

Bukannya saya tidak percaya dengan kemampuan beberapa universitas di negeri ini, toh saya juga lahir dari sini, namun kalau boleh menoleh kebelakang sejenak, apa yang saya alami ketika berkecimpung di dunia akademisi sepertinya para dosen justru lebih asik ngurus proyek-proyek bisnisnya, bukannya melakukan penelitian. Kalaupun melakukan penelitian agak kuran berbobot. Pernah suatu kali saya berbincang dengan dosen saya (bergelar doktor) saya menanyakan mengapa jurusan kita tidak punya jurnal publikasi ya? Eh, dengan gampangnya dia menjawab: dosen-dosen mana ada yang mau menulis jurnal, lebih baik mikirin projek bisnisnya yang lebih jelas duitnya”. Edan memang. bukannya banyak dana hibah penelitian sekarang beredar di dikti, apa memang susah mendapatkannya, apa harus kasi uang pelicin dulu? Who knows..

Universitas riset identik dengan profesor, coba kita lihat kampus kita masing-masing berapa jumlah profesor kita. Di kampus saya saja dulu cuma ada satu profesor di fakultas, dan sama sekali tidak ada profesor di jurusan, dan di jurusan saya sekarang cuma ada 2 orang profesor. apakah dia mampu menghandel semua penelitian aga kesan universitas riset melekat dari tangannya. Tidak mungkin. Ternyata setelah saya pelajari penyebab minimnya profesor di negeri ini ada kaitannya dengan birokrasi, coba lihat sejenak penjelasan yang saya dapat dari milis dosen berikut:

Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mendorong para dosen bergelar doktor (S-3) untuk segera mengurus kelengkapan sebagai guru besar karena saat ini perguruan tinggi terbesar di Jateng ini kekurangan profesor.

Rektor Undip Prof. Susilo Wibowo di Semarang, Kamis mengatakan, para dosen bergelar doktor yang sudah memenuhi syarat jabatan guru besar harus cepat mengurus persyaratan itu, sebab banyak profesor yang pensiun dan meninggal dunia.

“Kekurangan guru besar di Undip semakin terasa, karena itu siapa saja yang sudah memenuhi syarat, segera mengurus ke Dikti. Undip akan memberi insentif untuk mengurus,” katanya.

Menurut dia, salah satu syarat menjadi universitas riset yakni memiliki guru besar dalam jumlah banyak. Sekarang, katanya, merupakan saat yang tepat apalagi pemerintah mulai Januari 2008 menaikkan tunjangan guru besar, dari sekitar Rp 1 juta/bulan menjadi Rp 6,5 juta.

“Sekitar 10 dosen di Fakultas Teknik sudah 10 tahun menjadi doktor, tetapi mereka tidak kunjung mengurus kenaikan guru besar. Di Unnes (Universitas Negeri Semarang) ada doktor baru setahun, kemudian bisa jadi profesor,” katanya.

Di tempat sama, Pembantu Rektor I Undip Prof. Ign. Riewanto mengemukakan, saat ini hanya ada 105 guru besar namun hanya 85 profesor aktif, sedangkan yang 20 orang sudah pensiun (emeritus).

Prof. Edi dari FK Undip pada kesempatan itu mengatakan, salah satu penyebab banyak dosen menunda pengurusan jabatan guru besar karena biaya pengukuhannya mahal, terutama untuk jamuan makan.

Dan berikut yang saya kutip dari web resmi UGM: 

Dihadapan para penerima Anugeraha Winayaroha, Rektor Prof Sudjarwadi menyatakan bahwa anugerah ini diberikan pemerintah, karena berkat jasa-jasa para Guru Besar yang telah disumbangkan dalam rangka meningkatkan kemajuan bagi perguruan tinggi di Indonesia. “Secara finansial, bahwa penghargaan yang disampaikan berupa uang, maka rata-ratanya berada dibawah Rp 150 ribu/bulan. Untuk nilai yang sekarang, maka secara finansial betul-betul sangat kecil. Namun demikian setelah saya renungkan, terkandung maksud bahwa didalam keterbatasan pemerintah saat ini, yang penting adalah memberikan penghargaan tersebut. Dan uang yang jumlahnya tidak seberapa menjadi sarana untuk memberikan tanda bila negara mengakui dan memberikan penghargaan atas jasa bapak-ibu di bidang pendidikan tinggi sebagai Guru Besar di UGM,” ungkap Rektor.

Ironis memang, hanya karena masalah pengurusan admintrasi dan biaya jamuan jadi terhalang menjadi profesor. Lagi-lagi cerita dari dosen saya yang baru pulang sekolah dari Amerika, dia menceritakan kalau professor menjadi profesi yang paling diidam-idamkan disana, karena selain mendapat gaji yang sangat tinggi, juga diberi fasilitas yang sangat memadai, sampai kepada rumah dan mobil dinas. Bayangkan dengan di Indonesia! Wajar saja jika banyak para expert Indonesia yang lebih berkiprah di luar negeri…

Stimulus tambahan tunjangan dosen menjadi 6,5 juta (jauh berbada dengan anugerah Winarayohah yang hanya sebesar 15o ribu/bulan) yang digulirkan pemerintah saya pikir sudah bagus untuk merangsang para dosen meraih predikat tersebut. Masalahnya lebih lanjut apakah setelah dia menjadi profesor masih terus berkarya menghasilkan penelitian-penelitian yang berkualitas?

Memang selain faktor jumlah profesor masih ada faktor lain seperti laboratorium, dunia industri, pendanaan, dll. Namun dibalik semua itu image Professor tidak akan pernah lepas dari konotasi penelitian

Kategori:Birokrasi, Pendidikan
  1. abdul gafar
    September 20, 2010 pukul 12:01 pm

    banyak juga profesor minim karya ilmaih apalagi penelitian. Paling-paling karya murahan, jiplakan lagi. nulis di koran saja tidak bisa apalagi menulis pada jurnal yang berbobot tingi. malas deh.

  2. November 21, 2010 pukul 10:11 pm

    Haruskan Universitas Riset selalu menitik beratkan biaya nya kepada mahasiswa? ?

    Haruskan Semua universitas di Indonesia mengacu untuk menjadi universitas riset? ?
    Bukan kah yang penting dalam sebuah universitas adalah mutu lulusan serta kualitas para dosen-dosennya? ?

    Haruskah semua dosen yang bergelar prof. mendapatkan tunjangan seperti universitas di negara-negara maju? ?
    Sedangkan prof. nya sendiri tidak dapat memberikan perubahan pada keadaan indonesia pada umumnya dan universitasnya itu sendiri pada khususnya? ?

    Harry: pertanyaan yang layak untuk dijawab para praktisi pendidikan kita. Thx 4 your comment mas Dimas

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: