Beranda > Bisnis Manajemen, Financial management > Berbisnis Dengan Keluarga Sendiri

Berbisnis Dengan Keluarga Sendiri

Business is Business, keluarga ya keluarga, ga bisa dicampur aduk. Bukankah begitu?

Sore ini tiba-tiba HP ku berbunyi, kulihat ternyata si 808 yang mengirim pesan:

Ini adalah layanan Telkomsel Call Me. Pelanggan 081369xxxxx meminta Anda segera menghubunginya. Terima Kasih.

Padahal waktu itu aku sedang ngobrol dengan rekan kerjaku di Jakarta, karena kupikir ini no Abangku maka kusempatkanlah menelepon dia. Ada hal penting mungkin sementara dia tidak ada pulsa.

Ternyata dia hanya meminta aku memberi masukan mengenai ide bisnisnya mengenai pembuatan karangan bunga dan sewa-menyewa alat-alat pernikahan (tenda, pelaminan, dll). Saya tanya apa pertimbanganmu memilih bisnis ini. Sekejap langsung dia menjawab: “Disini cuma ada satu pemain, kesempatan masih terbuka lebar, lagipula aku punya desain yang lebih bagus dari yang ada sekarang”.

Kalau kamu sudah yakin dengan bisnis ini, ya, jalani saja. Tapi tolong diurus secara profesional, jangan seperti bisnis mu selama ini yang terus gonta ganti ga jelas arahnya. Eh…. dia langsung menjawab: “iya aku yakin kalau kali ini pasti lancar, tapi aku terkendala dengan modal”

Oo….. UUD (ujung-ujungnya duit) to, makanya terkesan penting. Langsung kutanya: “Kalau aku jadi Investornya berapa tingkat pengembaliannya dan berapa lama?” mungkin terkejut kali dia mendengar jawabanku, kok sesama keluarga hitung-hitungan ya. Business is Business, keluarga ya keluarga, ga bisa dicampur aduk. Bukankah begitu? Setelah beberapa waktu dia terdiam akhirnya menjawab: “kalau kapan kembali, aku sama sekali ga bisa pastikan, sementara tingkat pengembaliannya bagaimana kalau proporsional bedasarkan cash masuk saja”. Bukannya aku terlalu hitung-hitungan sama keluarga sendiri, tapi bisnis perlu hitung-hitungan kalau sifatnya sukarela itu namanya amal. Kalau hitungannya begitu aku masih belum yakin.

“Aku hanya bisa kasi masukan, buat planing yang matang dulu, termasuk dari segi keuangannya dan prospeknya kedepan. Banyak bisnis yang lumpuh di tengah jalan karena tidak pintar mengelola keuangan dan kurang perencanaan, meskipun bisnisnya menjanjikan” jelasku kepada Abangku itu. Nanti telepon aku lagi kalau sudah punya perencanaan yang matang. Aku pasti bantu kalau bener bener bisa meyakinkanku.

  1. Februari 21, 2008 pukul 6:22 am

    Horas appara… kabar baik disana kan. Cerita appara ini persissssss kisahku dengan adek bungsuku. Sudah dua kali aku modalin dia dan hasilnya jadi tiada heheheeh. Dan usaha ketiga, aku memang buat semacam surat perjanjian (sistem pengembalian modal+ bunga, meski bunganya aku kembalikan ke dia juga). Dan usaha ketiga itu lancar. Meski awalnya dia agak sakit hati dengan mengatakan aku keterlaluan. tetapi akhirnya dia bilang, benar juga kalau mau jadi pengusaha harus berani berutang dan mengembalikan utang. Saya sendiri sering membimbing dia cara membuat analisa usaha dan lain-lain. Meski sebenarnya ku gak pernah praktek usaha, hanya baca buku dan sering diskusi dengan pengusaha heheheh. Setuju dengan sistem business is business, keluarga ya keluarga hehehehe horasma

  2. Harry Andrian Simbolon
    Februari 21, 2008 pukul 11:37 am

    Horas juga appara. Sehat do au dison.
    Aku juga bukan pengusaha, hanya pesuruh di tempat kerjaku sekarang, tapi sedikit-sedikit ngertilah berbisnis. (masak gelar SE ga ngerti usaha. he..he..he)
    Aku melakukan seperti itu kepada abangku sendiri untuk dia juga kok, agar dia lebih serius dalam berbisnis.
    Toh kalau dia sudah maju untuk dia juga kan.

    Berarti kalau gitu Apapara banyak hepeng nih, bisa dong kapan2 minta modal.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: