Beranda > Diary, Kisah Nyata > Kini Dia Telah Menikah

Kini Dia Telah Menikah

Tak disangka, teman maenku sekaligus teman sharingku dan pastinya teman berantemku sejak dari kecil kini telah menikah.

Dari kecil memang kami berdua selalu akrab, bermain bersama, berantem, sekolah sama, hanya SMA dan perguruan tinggi saja kami harus berpisah. Masih kuingat setiap omelanmu, candamu, manjamu, dan pasti amarahmu (iiiiiii…… serem) sepertinya baru saja terjadi kemaren.

Dan yang paling tidak bisa kulupakan seumur hidupku adalah hidungku yang pecah gara-gara dia. Dulu ketika kami masih kecil, mungkin karena kebandelan kami. Becakku didorongnya sampai meluncur masuk ke parit (selokan), dan… alamak, hidungku pas berciuman dengan ujung parit itu, jadilah hidungku terbelah dua, dan sampai sekarang jahitan itulah yang menjadi tanda pengenalku (sekaligus juga pemanis.. ) tak bisa kusalahkan dia memang kalau sekarang aku makin keren (narsis) karena hidungku yang pesek ini pun sudah menjadi pemanis.

Masih kuingat pula kalau dia menjadi perempuan yang paling manja sama Bapakku, setiap permintaannya pasti sama Bapak diberi. Kalau sudah membersihkan rumah, jangan sampai ada orang yang mencoba mengganggu, bahkan sehelai rambut pun jangan sampai mengotori lantai yang baru saja di pel nya itu, dan yang paling seru kalau dia sedang memasak, dan masakannya kucicipi sebelum makan, maka pastilah terjadi perang dunia ke tiga. He..he…

Kala kami berpisah karena studi, rindu rasanya aku merasakan masa-masa indah itu, meski setahun sekali kami pasti bertemu lagi. Wajarlah ketika bertemu lagi kami makan sepiring berdua, setelah itu berantam lagi.ha..ha…

Takkala dia mengenal cinta, pingin rasanya mengejeknya: “kok kamu bisa jatuh cinta ya, padahal galak begitu”. Pasti dengan sedikit kesal dan malu langsung dipukulnya aku.

Dan yang paling lucu lagi, kami mengalami musim panen (jerawatan) yang bersamaan. Jadi setiap ngobrol pasti yang dibahas: “kamu obatnya pake apa? Bersihinnya pake apa?” lucu sih memang kalau dingat-ingat lagi.

Hari ini kau melepas masa lajangmu, pasti aku tidak akan mungkin sebebas dulu mengejekmu, memarahimu, menggelitikimu, dll, karena suamimu sang Brimob itu pasti akan lebih galak lagi dari padamu.

Tak terbayang olehku, ketika nanti aku melihatmu menggendong anakmu, memanjakannya, dan merawatnya. Mungkinkah itu terjadi dengan sikapmu selama ini yang cepat marah dan cerewet habis. Pasti bisa dong..

Melihat kenangan ini semua, maka wajarlah bila hari ini akupun harus datang ke pernikahanmu wahai kakakku yang mentel dan cerewet, meski harus menyeberangi lautan sekalipun. Aku berdoa semoga kamu bahagia dengan suamimu, menjadi keluarga yang harmonis. Dan kelak aku bisa menjadi tulang (paman) oleh bereku (keponakan) kelak

Kategori:Diary, Kisah Nyata
  1. Maret 3, 2008 pukul 3:32 pm

    I Just wanna Say… Congratulation to your sister, your family….Semoga jadi keluarga siriruon di parngoluon on… Horasma

  2. Harry Simbolon
    Maret 5, 2008 pukul 3:02 am

    Mauliate appara (edited)

  3. Maret 6, 2008 pukul 5:10 am

    Kok Lae…. appara…. dong hahahahaha.

    Harry: Sori appara, sudah diedit.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: