Beranda > Adat, Batak, Budaya, Diary > Parhobas Jadi Raja

Parhobas Jadi Raja

Aneh-aneh saja inang-inang parhobas di pesta pernikahan kakakku kemaren. Kalau kuperhatikan parhobas disini saja yang paling cerewet, galak, dan berkuasa pula lagi.

Kalau namanya parboru (anak perempuan, dalam pesta adat batak tugasnya membereskan acara seperti memasak, dll) seharusnya membantu acara agar berjalan dengan lancar, namun aneh di tempatku parboru paling susah diatur, malah muncungnya (mulutnya) yang bekerja, ngomel terus, malah yang melaksanakan acara juga di omelein.

Parhobas ditempatku memang ga ada yang beres, malah mengatur saja kerjanya. Bayangkan saja kemaren mereka sudah mempersiapkan plastik untuk makanan dibawa pulang sebelum acara berlangsung, ketika acara dimulai piring hanya diisi sedikit-sedikit, lappet (kue khas medan) dijatah satu orang satu, bahkan ketika itoku (kakak.red) meminta ke parhobas malah dimarahin. Dan yang paling menyedihkan sekali ketika acara sudah hampir selesai salah satu utusan parhobas mendatangi kami dan meminta satu krat sprite botol dengan nada memaksa dengan alasan sudah capek.

Dan yang paling membuat kami kesal satu keluarga adalah ketika kami mengetahui bahwa ternyata masih banyak nasi yang sisa. “Kalau begitu kenapa tadi ngasinya sedikit-sedikit ya” ujar mamakku dengan kesal. Sementara daging habis total, dan ikan mas malah kami satu keluarga sama sekali tidak ada yang mencicipi, padahal kami memasak 2 kuali besar ikan mas arsik. Tidak tahu lari kemana semua makanan itu, apakah sudah dibungkusi dan dibawa pulang.

Satu kalimat yang kudengar kemaren dari salah satu parhobas: “Kalau ga cerewet ga normal” pantas sajalah inang-inang parhobas disitu cerewet sekali, dengan tangan kiri memegang rokok dan tangan kanan megang sendok nasi. Ya… seperti bos/raja lah. Edan memang, zaman sudah berubah, adat hanya sekedar slogan semata.

Apa karena kami tinggal di lingkungan perumahan perusahaan, dimana dalam struktur perusahaan bisa saja dia istri manager tapi ketika di pesta dia adalah tukang masak (parhobas.red). Gengsi kalau dia diperintah-perintah. Namun bagaimanapun kondisinya seharusnya adat tetap dihormati.

Malah lebih sopan lagi ibu-ibu muslim (kami serahkan ke tetangga) yang mengatur makanan parsubang (pihak yang tidak memakan babi) dengan jujur mereka memberikan laporan nasi kotak yang sisa bahkan mendahulukan uang untuk keperluan mendadak seperti beli gula, kopi, dan teh manis.

Terpikirkan olehku langsung, bisa saja pernikahan adat batak dihandle oleh Event Organizer (EO) atau serahkan saja masalah masak-memasak kepada orang-orang jawa yang notabene mudah diatur dan kusampaikan saranku itu kepada kedua orang tuaku. Selang beberapa saat setelah acara, Bapakku dengan nada ketus berkata : “nanti pesta si Adek (menunjuk aku) ga usah kita pake STM (serikat tolong menolong) lagi yang jadi parhobas, ga usah pula kita buat martonggo raja (rapat untuk mempersiapkan tugas sebelum pesta adat dimulai). Nanti biar kita kasi sama orang jawa saja atau kita kasi ke catering semuanya”.

 

Kategori:Adat, Batak, Budaya, Diary
  1. Maret 7, 2008 pukul 7:15 pm

    wahhh jadi lae lom nikah yah
    yahh memang dimana – mana parhobas gitu lae

    btw keluar ga br hombing nya namboru itu
    hahahaha
    kl kluar pasti ribut lah

    Harry: Iya Lae, masih jomblo nih, tapi calon sudah ada, tinggal menunggu waktu yang berbicara. doainlah ya supaya segera menyusul lae.
    Untung mamak waktu itu lagi bijaksana lae, kalao ga bisa berabe pestanya. berkoar-koar kalau di pajak pagi aja lae, menjajakan dagangannya.

  2. Maret 7, 2008 pukul 7:18 pm

    btw lae gmana buat
    widget visit indonesia itu lae
    aku mau buat jg di web aku
    sekedar info
    webku lae bisa di akses dengan http://laetogar.uni.cc
    kalo ga bisa pake http://xander.cmsindo.com
    soalnya sering kali bermasalah dns web ku
    dari sononya permasalahannya

    thanks

    Harry: Kalau di wordpress sangat gampang lae (friendly user), hanya meng-unggah gambar yang kita inginkan (gambar dibuat terlebih dahulu), link-kan ke web yang kita inginkan, setelah itu ubah kedalam code, dan paste code itu ke widget yag kita inginkan. jadi deh.

    saranku pindah aja ke wordpress lae. banyak pakarnya juga kok, aku juga baru belajar ini.

  3. Maret 8, 2008 pukul 11:05 pm

    oooooo gitu toh
    dah ngerti aku lae buatnya tinggal buat scripnya aja
    aku mau pasarkan jg danau toba biar lebih terkenal
    heheheh

    Harry: muantap lae.

  4. Maret 13, 2008 pukul 7:41 am

    “Kalau namanya parboru (anak perempuan, dalam pesta adat batak tugasnya…..”

    Setahuku, Parboru berbeda dengan Boru.

    Parboru adalah pihak keluarga pengantin perempuan (Marga Simbolon, sebagai keluarga asal pengantin perempuan)
    Boru adalah pihak keluarga yang beristri sama dengan marga kita, ya… amang boru dan namboru (mis, Marga X + boru Simbolon)

    Boru mungkin lebih tepat dengan Parboruon.
    Parboru akan menjadi hula-hula dalam acara pernikahan tersebut.

    Parhobas biasanya dilakukan oleh dongan sahuta (dalam hal ini mungkin STM), dan agar bisa terkontrol harus di bawah pimpinan Boru dari yang punya hajatan.

    Semoga tidak jadi kapok untuk pesta adat berikutnya…

  5. Maret 22, 2008 pukul 11:24 am

    Jangan terlalu skeptis begitu komandan, klau saran aku sih juwa STM yang sudah dibentuk dari dulu itu sudah bagus dan menyentuh. Hanya saja pelaksanaannya aga menyimpang. Aku juga mengalaminya. Namun itu menandakan bahwa Batak kita itu belum maju. Nah itu tugas kita. Kalau aku sarannin sih tolong diulas pelaksanaannya dan tata cara handlingnya. Kasih saran, biar bisa menyerupai event orginizer toh. Nah kalau kita menghilangkan segala sesuatu tanpa memperbaikinya dahulu rasanya kurang mantaf.. He he he he.. Salam hormat

    Harry: Horas Appara. setuju aku dengan pendapatmu itu. memang di negara ini teori sudah cukup bagus namun praktek nihil. justru kita bisa belajar dari pengalaman, agar untuk dimasa depan ada perbaikan.

  6. Dahlia Dalimunthe
    Juli 5, 2008 pukul 1:44 am

    Horas Ito ku Tercinta dan tersayang, yah gitunya semua adat malah lebih parah inang – inang orang mandailing ito sampe jambak – jambakan

    Harry: Horas Ito, salam kenal ya.. sampai sebegitunya ya… tapi aku yakin ito ga sampai begitukan…:)

  7. butarbutar
    September 5, 2008 pukul 1:27 am

    lain lagi di tempatku to, kan adalah bulan kemaren acara untuk orang batak, secara plasmanan… diatasnya ditaruh ikan mas arsik beberapa ekor. sewajarnya disendoknya secukupnya ke piring nasi kita, namanya juga plasmanan, tapi ada boru purba (karbitan dari toraja) nyonya panggabean, sama boru manurung asli batak dihanditnya ikan mas itu… alhasil jalur yang mau makan dibelakangnya ga kebagian,.,, uram2nya pun tinggal sedikit… itupun tinggal na so boi allangon i… hehe malangnya

    Harry: ha..ha..ha.. ketawa aku mendengar ceritamu itu to. Ini lah yang aku herankan dari orang batak kalau marpesta, kenapa makanan selalu menjadi rebutan, padahal kalau dipikir halak namora do halaki, godang do hepengna, boi do dituor piga hali lipat sian i di rumah makan. alai torus ribut holanna masalah siallangan.

  8. Oktober 22, 2013 pukul 6:56 pm

    hai Herry.. ini ceritaku tentang Parhobas.. trus gimana jadinya saat pesta nikahmu? tetep jadi pake orang Jawa? hehehe…
    http://ikabundajoyken.wordpress.com/2013/10/22/parhobas/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: