Beranda > Cinta, Diary, Keluarga, Kisah Nyata > Kebanggan Seorang Parengge-Rengge

Kebanggan Seorang Parengge-Rengge

Tulisan untuk Mamak tercinta

mamaParengge-rengge dalam bahasa Medannya berarti pedagang serabutan biasanya dipasar tradisonal. Pekerjaan itulah yang dilakoni mamakku selama ini. Memiliki anak lima dan harus menyekolahkannya sampe semuanya bisa sarjana sepertinya telah menjadi pilihan hidupnya.

Bapakku adalah seorang montir pabrik, kalau hanya mengandalkan gaji seorang montir manalah mungkin kami semua bisa lulus sarajana sampai sudah ada yang bergelar master. Maka wajar sajalah mamakku mengambil keputusan ikut membiayai keluarga. Usaha apa saja pernah dilakoninya, mulai dari kerja di asuransi (dulu pernah menduduki kepala pos, namun keluar karena ada masalah keluarga), setelah itu banting stir berjualan kain bekas impor (bahasa kerennya monza atau batam), berjualan roti-roti, bawang putih dan susu impor dari Malaysia, berjualan sayur-sayuran di pinggir jalan, bertani, dan sekarang berjualan kelontongan.

simbolon

Kalau aku boleh melihat ke belakang, sungguh tak kuduga atas jerih payah seorang ibu, kami bisa menjadi seperti ini sekarang. Hidup di lingkungan perumahan perusahaan BUMN yang notabene dekat dengan kesombongan dan egoisme serta pamer harta namun tak sedikitpun pola hidup itu akrab dengan kami. Dari kecil kami diajar untuk hidup sederhana. Pernah sih merasa malu, namun apa mau dikata kami harus melalui semua itu. Dari kecil sampe SMA sedikitpun tak pernah kucicipi uang jajan, demikian juga dengan saudara-saudaraku yang lain. Bahkan ketika aku SMA di luar kota sering kali di kantongku tak ada selimperpun uang, hanya mengandalakan bus sekolah yang disediakan perusahaan. Cuma aku sedikit jeli dengan cara mencari penghasilan tambahan seperti berjualan butut (pemulung), menjual ikan cupang yang kutangkap sendiri, mengajar pramuka, mengajar les, dll. Apalagi ketika aku kuliah di perantauan, segala cara harus kucari untuk memperoleh tambahan uang halal untuk menopang kebutuhan kuliahku.

Sedih memang kalau aku melihat ke belakang, namun di balik itu semua aku menyadari bahwa pilihan ini mau tak mau harus diambil, kami bisa menjadi sekarang ini akibat kegigihan seorang ibu yang harus berhemat demi mencukupkan kebutuhan kami berlima.

Ketika kau mengeluh kacamatamu sudah pecah, betapa senangnya hatiku bisa membelikan yang baru untukmu, ketika kurindu bisa berkomunikasi terus denganmu, akupun senang bisa membelikan HP untukmu, dan betapa senangnya orangtuaku ketika kuajak berlibur ke Jawa tahun lalu. dan sekarang adalah tugasku berpikir untuk membeli rumah masa tuamu kelak (sampai saat ini kami belum memiliki rumah, masih menempati rumah perusahaan).

Kemaren ketika acara pernikahan kakakku, kulihat mukanya tersenyum gembira, dapat mengantarkan borunya ke kursi pelaminan. Setelah sekian lama jerih payahnya, satu persatu hasilnya telah dirasakannya. Aku dan abangku membuat sebuah papan bunga ucapan selamat di acara itu dengan menuliskan gelar kami berlima, sungguh bangga kedua orang tuaku.

Di dalam rumah kamipun sudah berjejer foto-foto wisuda kami, dan tertulis dengan jelas sebutan LBS (Lima Bersaudara Sarjana) (singkatan lainnya Luar Biasa Simbolon) di papan tulis yang sengaja ditempel Bapakku di teras rumah kami:
Demsa Sarmauli Simbolon, SKM, MKM (mudah-mudahan sebentar lagi bisa Doktor)
Delson Simbolon, ST
Ratna Wati Simbolon, S.Kom
Juwita Indah Simbolon, SE
Harry Andrian Simbolon, SE, M.Ak (yang terkahir mudah-mudahan tahun ini)

Inilah hasil jerih payah dari parengge-rengge mu itu mamakku tercinta. Sekarang tugas kamilah membahagiakanmu.

  1. Maret 6, 2008 pukul 3:00 pm

    Parrengge-rengge itu mirip dengan mbok bakul di Solo, punya modal meskipun kecil, jadi bukan buruh, tapi bukan pula kapitalis karena dia tidak mengupah orang. Ini fenomena yang sangat menarik dan sangat besar jasanya dalam kemajuan masyarakat Batak di Jawa dalam tiga dekade terakhir.

    Lae, salut buat Mama-nya Lae dan kalian semua anak-anaknya. Semuanya menjadi sarjana. Hebat. Mudah-mudahan di antara lima sarjana itu ada yang berminat menjadi saintis atau menekuni bidang katarsis, jangan semuanya jadi pendukung kapitalis multi nasional. Sekadar harapan saja hehehe…

    H O R A S

    Harry: Tengkyu Lae, mudah-mudahan tercapai, aku pun pingin jadi peneliti atau minimal akademisi lah. kalau ada kampus yg butuh dosen ekonomi/manajemen/akuntansi kasih tahu ya lae.

  2. Maret 7, 2008 pukul 7:03 pm

    bahhhhhhhhhhh
    salut kali aku nengok hula2ku semuanya bahhhhh
    hebat2 kali
    betapa senangnya amang dengan inang itu bahhhhh
    masih perlu belajar banyak lah aku sama orang lae

    GREATTT SALUUUTTT

    cerita2 lae sering kali mengilhami diriku untuk buat cerita

    Harry: Ini juga nyuri-nyuri waktu di jam kerja lae. he..he..

  3. Yusnita
    Maret 20, 2008 pukul 3:10 am

    Hmmm…semua perempuan batak..pasti seperti ibu mu itu dek….
    bersyukurlah kita yang dibesarkan oleh mamak yang sedemikian hebat….
    Mama ku juga lho….

    Harry: iya kak, makanya harus jadi sama boru batak ini. he.he..

  4. Maret 27, 2008 pukul 5:02 am

    Bagi saya, apapun pekerjaan orangtua kita. Itumah berkat buat kita untuk dapat maju dan membuat orangtua kita bangga.
    Saya juga punya kehidupan yang boleh dikatakan tidak begitu mewah, namun kalau Tuhan menginjinkan lagi aku lahir kembali aku tetap mau menjadi putrinya.

    Salam kenal ito, Tetty Simanjuntak

    Harry: Salam Kenal juga ito.

  5. Ratih Baiduri
    Agustus 2, 2011 pukul 5:02 pm

    Inspiring betul ceritanya perjuangan seorang ibu bersusah payah demi pendidikan anak-anaknya akhirnya mendapatkan hasilnya. Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita ibu-ibu yang memiliki anak-anak yang masih kecil-kecii.

    Horas Ito!
    Ratih

    • Harry Simbolon
      Agustus 3, 2011 pukul 8:17 am

      Thx mbak Ratih

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: