Beranda > Artikel bebas, Kata Bijak, Keluarga > Mengasihi Tanpa Ucapan

Mengasihi Tanpa Ucapan

Kisah yang sangat inspiratif ini saya kutip dari heart n soul

Suatu hari saya ditraktir oleh teman saya makan mi di resturant mi yang agak terkenal. Harganya tak mahal tetapi lezat. Kami duduk di meja bulat yang dapat menampung sepuluh orang bila mengelilingi meja. Di meja itu ada enam orang, saya, teman saya dan empat orang kawan yang lain.

Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di sebelah kami. Mereka telah memesan mi dan sedang menunggu pesanan. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami isteri yang masih muda dan seorang anak yang berusia sekitar enam tahun. Mereka adalah keluarga yang jauh dari sederhana. Pakaian mereka lusuh dan kusam.

Anaknya kelihatan seperti baru sembuh dari penyakit dan sedang menarik hingusnya keluar masuk. Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap hingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya. Pasangan itu sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Sepertinya makan mi itu merupakan perayaan menyambut kesembuhannya. Ketika mi sudah tersedia keluarga tersebut makan dengan lahapnya.

Keadaan tersebut berbeda bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. Bayangkan, bagaimana rasanya makan mi dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak. Belum lagi melihat dan mendengar hingus yang ditarik keluar masuk dan sesekali dibersihkan oleh ibunya.

Setiap kali menyuap mi ke mulut sambil menghirup kuahnya, rasanya seperti hingus telah tercampur dengan makanan dan membuat selera makan hilang. Tidak beberapa lama kemudian, keempat kawan yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu persatu tanpa menghabiskan makanan. Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar di wajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat lainnya.

Tetapi itu tidak lama, terutama ketika mereka melihat teman saya, keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mi tanpa peduli akan orang lain. Seolah-olah tidak ada bau di sekitarnya dan tidak ada bunyi hingus. Saya juga terpaksa berpura-pura tidak peduli dan terus menghabiskan mi karena ingin menghormati teman saya yang mentraktir saya makan.

Selesai makan, kami masih duduk dua puluh minit sebelum meninggalkan kedai makan. Biasanya setelah makan, dia hanya duduk paling lama sepuluh minit. Sekali lagi saya terpaksa menemani teman saya dengan perasaan yang sangat jengkel.

Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda itu, saya merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan dia sangat terganggu duduk bersampingan dengan keluarga tersebut. Ia merasa ada bau dan terganggu dengan bunyi hingus anaknya itu. Dia juga merasa seperti apa yang saya rasakan.

Teman saya juga mengatakan, jika dia meninggalkan keluarga tersebut ketika mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan uang yang bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Uang itu tidak begitu banyak untuk ukuran kami tetapi tidak bagi keluarga itu.

Saya sangat terkejut mendengar kata-kata teman saya. Dan tidak menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya yang berbeda – bertahan makan mi sampai habis dan menunggu dua puluh menit setelah makan, telah memberi semangat baru bagi keluarga itu.

Saya teringat bagaimana rasa kepahitan, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami isteri itu ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya tadi yang tetap makan dengan lahapnya.

Pertama kali dalam hidup ini, saya menyedari bagaimana untuk mengasihi sesama manusia tanpa mengatakannya benar-benar tidak mustahil. Teman saya dapat menunjukkan kasih sayang kepada sesama saudara tanpa perkataan dalam waktu sesingkat itu. Cukup hanya dengan meneruskan makan mi sampai habis. Menunggu dua puluh minit setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau untuk menyempurnakan segalanya telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman.

Ajaib bagaimana teman saya menegur saya tanpa mengatakan sesuatu. Dia tidak menuduh tetapi cukup membuat saya merasa sangat terpukul dan malu tetapi tidak marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri bagaimana kita selalu mengatakan mengasihi sesama manusia tetapi tidak pernah melakukannya.

  1. Maret 11, 2008 pukul 10:49 am

    jadi ingat kalau request gondang : nang so hudok nunga diboto ho (biar pun aku nggak bilang, engkau sudah tahu).

    Apa yang dimaksud seperti itu Lae? Ataukah cinta yang diperlihatkan lewat perbuatan terus-menerus ? Nah kalau yang dicintai nggak “ngeh” macam mana dong hehehe…

    Horas!

    Harry: Kalau itu mah namanya inisiatif lae. Ada kondisi dimana kita memang hanya dituntut bertindak, dan ada pula kondisi dimana kita harus angkat bicara. nah, kalau dalam masalah cinta seharusnya kita ungkapkan dong. Aku pernah dulu begini lae, karena kelamaan menyatakan malah disalip orang.. he..he.. (Pertanyaan Lae jadi mengingatkan aku pada masa lalu). Nah setelah kejadian itu aku berjanji tidak akan pernah mengulangnya lagi, dan terbukti pada calon inang ni si Ucok ini.. he..he..

  2. Maret 11, 2008 pukul 5:32 pm

    halah kalo soal kayak gitu aku merasa biasa lae
    karena kalo aku sendiri pilek atau ingusan aku ga peduli di sekelilingku yang penting aku makan supaya aku bs sehat kembali terserah orang mau anggap apa (mangnya orang tsb ga pernah sakit yah jadi kalo sakit ga boleh keluar kemana – mana)

    apalagi kalo anak2 wahhhhh. Itumah biasa lah aku selalu berpikir aku aja begitu gmana lagi kalo aku dan itolae dengan anakku begitu apa mungkin aku pergi tanpa menghabiskan mie atau makanan itu.

    Memang sih banyak orang yang merasa risih atau jijik dengan kejadian spt itu. Tapi apa orang tsb tidak pernah seperti itu.
    pernah lagi lae aku mengalami spt itu tp ga ingusan ga sakit cuma karena aku asli basah total karena hujan trus aku ke warnet singgah ehh ga taunya jadi ada rencana mau main. Pas mau main n tanya ama OPnya ehh dia bilang penuh padahal masih ada yang kosong cuma karena aku dilihatnya basah kuyup kena hujan ga dikasih aku main padahal aku main bukan lesehan tapi dikursi dalam hatiku kapan ga kena kau. Benar besoknya aku datang ke warnet itu kukerjai billingnya mampus dia
    aku main 3 jam lebih plus teh botol cuma bayar 5000 yang seharusnya 12.000 kukerjai tuh billing mampus dia situ
    hehehehe

    Harry: ha..ha..ha.. pintar ngibul juga lae ini.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: