Beranda > Hukum, Korupsi > Mati Untuk Koruptor

Mati Untuk Koruptor

Dua pekan ini saja, empat terpidana mati harus menemui ajal di hadapan regu tembak aparat Mabes Polri. Ketiganya adalah dukun AS di Sumatera Utara serta ibu dan anak yang terlibat perkara pembunuhan. Menyusul sebelumnya seorang dukun di Banten juga menghadapi ajal.

Adilkah hal itu bagi mereka? Adilkah negara yang menerapkan hukuman mati ini memberikan hukuman kepada para pembunuh? Nyawa yang mereka cabut apakah setimpal hukumannya dengan kematian yang mereka alami?

Yang mungkin sedang kita perlihatkan bukanlah kematian itu apakah setimpal dengan mereka atau tidak, tetapi sebuah perenungan, apakah tidak ada kejahatan lain yang lebih “jahat” dan patut diberikan hukuman yang sama. Dari titik inilah kita ingin menyorot masalah korupsi.

Bayangkan seorang koruptor menjarah uang negara. Mereka menggerogoti dana pembangunan sehingga seharusnya masyarakat yang menikmatinya bisa sejahtera. Mereka para koruptor bukan hanya mengambil sedikit, tetapi banyak. Mereka tidak menyisakan sedikitpun untuk masyarakat. Mereka menggunakannya untuk kepentingan sendiri dan kepentingan keluarganya kebanyakan.

Apa yang terjadi kemudian? Masyarakat yang kemudian mengalami kemiskinan mengalami penderitaan. Mereka kemudian kelaparan dan kesulitan hidup. Karena mereka tidak punya alternatif, mereka kemudian banyak yang mati kelaparan, bahkan karena ingin mempertahankan hidup mereka ada yang saling membunuh.

Bukan hanya itu, kemelaratan terjadi di segala lini. Mereka yang miskin tidak punya masa depan. Karena mereka tidak punya uang untuk membeli kebutuhan hidupnya, maka mereka mengalami penderitaan dan malnutrisi. Gizi yang tidak berkecukupan menyebabkan mereka bukan hanya menderita sekarang, tetapi juga nanti. Bukan hanya mereka sendiri, tetapi juga anak cucunya harus kehilangan masa depan.

Maka yang rugi bukan hanya seseorang, sekeluarga, tetapi juga satu negara. Negara yang hanya diisi oleh masyarakat yang orangnya miskin, tidak punya masa depan dan tidak terdidik, hanya akan mengalami penderitaan. Negara itu hanya akan tertinggal dalam pergaulan dan dijauhi karena dianggap tidak layak. Negara itu hanya akan menjadi bangsa paria dan menjadi bangsa kuli.

Mirip-mirip dengan itulah yang terjadi di kita sekarang. Indonesia adalah negara yang sangat lemah. Bahkan tidak berlebihan kalau perang terbuka terjadi, angkatan bersenjata negara sekecil Singapura sudah pasti bisa menghancurkan kota-kota penting di negara kita. Membeli senjata untuk mempertahankan diri kita tidak sanggup lagi karena koruptor telah merampok uang untuk itu.

Inilah profil perbuatan koruptor. Pertanyaaan kita, siapakah yang paling jahat? Siapakah yang paling banyak membunuh? Siapakah yang paling banyak menyebabkan penderitaan kepada orang lain?

China menerapkan hukuman mati kepada pelaku kejahatan korupsi karena logika tadi. Mereka menjadikan koruptor sebagai sasaran penting dan target hukuman mati karena melihat dan membuktikan sendiri bahwa pelakunya benar-benar merugikan negara. Koruptor menyebabkan negara bangkrut, bahkan menyebabkan kematian massal warga negara meski secara tidak langsung.

Kita masih saja ribut bagaimana menghukum mati pelaku kejahatan sadis. Mari kita merenungkan bahwa sadisme yang dilakukan dan diciptakan oleh pelaku korupsi adalah lebih besar dan lebih permanen. Mari kita pikirkan hukuman mati untuk koruptor.

Sumber: Harian SIB

Kategori:Hukum, Korupsi
  1. Juli 27, 2008 pukul 12:19 pm

    Penyakit yang susah didiagnosis, penyakit yang susah diteliti, sehingga obatnya belum bisa dibuat. hukuman mati mungkin bukan resep yang ampuh. mungkin obatnya adalah pendidikan yang baik bagi seluruh anak negeri, budi pekerti dan takut berbuat kejahatan, dimulai dengan takut nyontek, hehehe…

    Harry: Horas Tulang, mamakku Boru Sihombing jadi aku panggil tulang ya. Senang kali aku baca komentar-komentar dari mu tulang. Mohon izin nih tulang aku buatkan link ke blogmu. mauliate

  2. Agustus 1, 2008 pukul 10:40 pm

    apa tuh lae yang paling bawah kok script htmlnya ga hilang.
    btw nice story lae

    Harry: Mauliate lae, sudah aku perbaiki kok lae.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: