Beranda > Diary, Karir, Kata Bijak, Kehidupan, Keluarga, Kisah Nyata, SDM > Aku Ingin Hidupku Bermanfaat Bagi Banyak Orang

Aku Ingin Hidupku Bermanfaat Bagi Banyak Orang

Tulisan ini kutuliskan sebagai ucapan syukur dua tahun aku telah bekerja di perusahaan tercinta tempatku berkerja sekarang ini, sekaligus juga untuk memperbaharui komitmen hidupku.

“Aku ingin hidupku bermanfaat bagi banyak orang,” begitulah kalimat yang persis kuucapkan ketika aku diminta menjawab pertanyaan ketika interview seleksi penerimaan karyawan diperusahaanku dua tahun yang lalu. Pertanyaan persisnya adalah kenapa kamu tertarik untuk bekerja di perusahaan ini? Kalau diteliti secara ilmu bahasa agak kurang nyambung memang aku menjawab seperti itu. Namun jawaban itu terucap begitu saja.

Kemudian salah satu dari kedua interviewer tersebut spontan membalas: “Maksudnya apa?” tanpa berpikir panjang akupun juga langsung menjawab: “Perusahaan ini adalah perusahaan besar, memiliki jumlah pelanggan yang sangat besar, yaitu hampir seperempat penduduk Indonesia. Adalah suatu kebanggaan bagiku bisa bekerja di perusahaan ini, memberikan sumbangsihku pada jutaan penduduk Indonesia meskipun tidak bisa diukur secara langsung. Lagipula saya sangat senang jika diterima bekerja nanti maka gaji yang kuterima dapat kupakai untuk membantu banyak orang…” pembicaraanku langsung terhenti ketika seorang interviewer yang lain langsung memotong pembicaraanku dengan pertanyaan lain: “Maksudnya apa? Apa kamu mau menjadi dermawan setelah bekerja disini? Atau kamu mau kelihatan hebat setelah bekerja disini?” sedih sih memang mendengar penilaian mereka terhadapku itu, namun dengan tenang dan santai aku berusaha meneruskan jawabanku: “Bukan seperti itu bu, uang dari gajikukan bisa kupakai tuk membantu kedua orang tuaku, mengirimkan mereka setiap bulannya secara continue. Aku juga bisa membantu pelayanan di kampusku dulu karena mereka memang sangat membutuhkan uang, dan aku juga dapat melakukan sumbangan lain yang lebih bermanfaat.”

Jawaban seperti itu terlontar begitu saja tanpa persiapan sebelumnya, dan kulihat raut muka kedua orang HRD yang menginterviewku itu langsung berubah, mereka terdiam sejenak.

Jika kuingat dua tahun kebelakang. Ketika itu pada hari jumat sore setelah izin setengah hari dari kantor lamaku aku sedang berada di Bandara Cengkareng menunggu pesawatku tujuan Medan berangkat. Waktu itu aku ditelepon untuk menghadiri jadwal wawancara, aku diminta datang pada hari senin jam sembilan tepat di kantor pusat perusahaanku. Padahal aku ingat sekali waktu itu aku sudah mengajukan cuti selama dua hari (senin – selasa esoknya) untuk menghadiri pernikahan abangku di Kampung halamanku. Tanpa berpikir panjang aku iyakan saja kesempatan emas interview itu “Baik bu, saya akan datang tepat waktu pada hari itu”. Itu artinya aku korbankan jadwal cutiku yang rencananya akan kupakai untuk bertemu lebih lama dengan keluargaku. Pada minggu malam akupun sudah tiba kembali di Jakarta dengan kondisi yang sangat melelahkan.

Maka pantas saja ketika interview dimulai, pertanyaan pertama yang diajukan interviewer itu kepadaku adalah mengapa kamu kelihatan lelah? Dengan sedikit gugup aku menjawab: “Maaf bu, saya baru saja tiba dari Medan semalam, dua hari yg lalu abang saya menikah disana, saya sangat letih sekali mengikuti jalannya upacara adat yang dilakukan sampai malam. Dan saya berusaha mengejar jadwal interview ini meskipun sebenarnya saya berencana di Medan sampai hari selasa”.

Setelah Mengikuti proses interview yang cukup alot dari divisi HRD ini kemudian aku diserahkan ke user-ku untuk di interview lebih lanjut. Masih ingat sekali kalau saat itu yang menginterviewku adalah GM Treasury. Pada sesi ini aku merasa tidak ada kesulitan yang cukup berarti karena yang ditanyakan adalah masalah teknis akuntansi dan keuangan yang kebetulan aku sangat menguasai hal itu. Hanya saja saat itu bahasa Inggrisku agak kurang sempurna menjawab semua pertanyaan dengan grammar yang tepat.

Sebulan sudah waktu berlalu dari waktu interview itu, namun belum juga ada keputusan aku lulus atau tidak. Waktu yang cukup lama menurutku karena sebelumnya mereka menjanjikan hasilnya akan diinformasikan sekitar dua minggu lagi. Pada saat itu aku sudah langsung berpikir saja kalau aku sudah pasti tidak lulus, karena mungkin aku kurang persiapan menghadapai wawancara itu, lagipula dengan waktunya yang sangat mendadak. Aku pikirkan hal yang lain juga, apa mungkin karena aku alumni universitas yang kurang terkenal di luar Jawa? Aku berpikir begini karena saat itu aku masih ingat sekali kalau beberapa orang yang sama-sama menunggu denganku untuk diinterview yang juga menjadi sainganku adalah lulusan dari universitas yang sangat terkenal, ada yang dari UGM, UNDIP, TRISAKTI, UNIBRAW, malah ada yang S2. Dan yang paling menjengkelkanku saat itu ketika seorang diantara mereka ketika kami kenalan dan ngobrol tidak tahu Unila (kampusku dulu) itu dimana. Kesel banget rasanya.

Namun Tuhan berkata lain, selang beberapa hari kemudian aku ditelepon kembali dan diminta untuk tes kesehatan dan kemudian diterima bekerja sampai saat ini. Dari SK yang kuterima aku ditempatkan di cabang Sukabumi sebagai staff keuangan. Padahal aku sangat mengharapkan sekali bisa ditempatkan di kantor pusat, aku ingin sekali mencurahkan semua ilmu yang kumiliki dan belajar lebih banyak lagi praktek akuntansi corporate. Namun aku harus tetap bersyukur bisa diterima di perusahaan sebesar ini saja sudah menjadi berkat yang sangat luar biasa bagiku.

Teringat selalu akan komitmentku dulu ketika sedang di interview, Selama bekerja disini senang sekali rasanya telah bisa memberikan kiriman kepada kedua orang tuaku, juga kepada keluagaku yang lain. Aku juga sangat senang ketika adik-adik di almamaterku meneleponku dan sharing kalau mereka butuh bantuan dana untuk kegiatan pelayanan mereka. Dan yang paling menyenangkan bagiku dari hasil kerjaku ini aku bisa melanjutkan studi S2 ku sambil bekerja – hal yang bagi sebagian teman kantorku sangat tidak masuk akal. Aku katakan demikian karena bila kulihat gaya hidup rekan-rekan kerjaku berubah dengan sendirinya setelah mereka menerima benefit gaji dari perusahaan ini, mereka lebih memilih membeli mobil baru, motor yang baru, membeli rumah atau malah lebih mengutamakan memperindah penampilan mereka- bagaimana mungkin memikirkan study S2. Beberapa hari yang lalu aku juga sangat senang sekali bisa membantu orang tuaku membeli sebuah ruko kecil untuk tempat usaha mereka setelah pensiun nanti. Padahal jika aku memikirkan diriku sendiri jangankan rumah atau mobil, motor yang kubeli dari hasil keringatku pun aku belum punya. Malah aku juga harus menunda rencana pernikahanku sampai aku menyelesaikan studyku.

Kini dua tahun lebih telah berlalu, aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk selalu mengingatkan aku akan komitmentku agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang, aku ingin hidupku seperti kitab terbuka yang dapat dibaca setiap orang.

  1. novan
    September 3, 2008 pukul 5:12 am

    nice writing har…🙂 terharu aku bacanya…

  2. yusnita
    September 3, 2008 pukul 5:51 am

    that’s the way it is!

  3. September 3, 2008 pukul 1:01 pm

    hebat, teruskan dan jangan pernah mundur…

  4. Harry Simbolon
    September 3, 2008 pukul 3:32 pm

    @ Novan
    Thx telah mampir ke blogku ini. Ini Renovan teman kecilku dulu bukan ya?

    @ Yusnita
    komentar yang sangat simple namun tepat.

    @ Tulang Singal
    Mohon dukungan doanya tulang, agar aku bisa menjaga integritasku dalam dunia kerja yang penuh dengan badai topan ini tulang.

  5. ihatemycountry
    September 4, 2008 pukul 4:55 am

    Horas bah!
    Sebenarnya aku lagi baca2 tulisannya Sis Tetty Simanjuntak. Trus gak sengaja aku liat nama ente. Kayaknya namanya gak asing. Aku cek di HRIS (tau lah kau itu). Eh rupanya emang betul. Kau sama aku sekampung rupanya. Haks…haks…
    Salam dari Medan yah. Boleh izin aku add blog-mu di blog aku. Tks.

    Harry: Sori lae, lama ngeprove komentar ini, karena sebelumnya masuk ke spam, jadi aku baru despam sekarang. mauliate lae telah mampir ke blogku. tapi kenapa kolom URL nya ga diisi sehingga aku ga bisa trace bali ke blog lae.

  6. September 4, 2008 pukul 8:52 am

    jadilah sesuai dengan kata hatimu, salut lae.
    semoga sukses baik study dan pekerjaan
    Tuhan memberkati

    Harry: Mauliate lae

  7. September 24, 2008 pukul 9:18 pm

    salut!
    Mauliate ma tu Debata

  8. panabiduhut
    Oktober 8, 2008 pukul 2:23 pm

    Salut…

    Rasa ‘ketidaksiapan’ Lae untuk interview memang ada hal positifnya
    dimana Lae kelihatan lebih plong…dan mungkin interviewer melihat Lae saat itu sebagai pribadi yang jujur, lugas dan transparan.

    Saya sendiri mengalami hal yang sama di mana saya berhasil lolos interview justru saat-saat di mana saya merasa tidak siap.

    Kayaknya kalau kita terlalu banyak persiapan untuk interview malah kelihatan jadi kaku kayaknya ya…🙂
    Atau kata temanku…kita jadi terlalu TAKUT BERHASIL.
    Pada hal yang interview kita kan belum siapa-siapanya kita, belum jadi atasan atau partner, kok jadi kikuk. Harusnya seperti iklan rokok saja ,Enjoy…! kok TAKUT BERHASIL, mestinya kan BERANI GAGAL saja…sehingga tidak merasa kikuk, grogi atau apalah namanya…yang penting jujur dan plong menyatakan pendapat pada saat ditanya oleh interviewer.

    Just my personal opinion…not as a reference🙂🙂

    Salut dengan semangat muda yang berpihak kepada pendidikan dan peningkatan potensi diri…

    Semoga lulus tepat waktu Lae sehingga tidak memperlama rencana pernikahannya.

    Horas…

    Harry: Terimakasih lae. btw saya sudah dari setahun lalu mengenal lae di dunia bloger, khususnya di blog teman-teman sa huta. bisa kita berkenalan lebih lanjut lae, agar kita bisa mendiskusikan banyak hal. menurut saya lae adalah orang yang sangat rendah hati dan enak diajak bertukar pikiran.

  9. September 27, 2012 pukul 4:28 pm

    luar biasa,,inspiratif deh

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: