Beranda > Change, Diary, Karir, Kehidupan, Keluarga, SDM > Pilih Karir, Uang, atau Kenyamanan Kerja

Pilih Karir, Uang, atau Kenyamanan Kerja

Dalam satu sesi inhouse training yang diampu oleh konsultan pengembangan sumber daya manusia Rini Hasan dan Rekan dua tahun lalu kami diminta untuk membuat rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang dalam berkarir di perusahaan tempatku bekerja sekarang ini. Tanpa berpikir panjang aku menuliskannya dalam memoriku dan langsung kuutarakan ketika fasilitator memintaku berbicara. “Target jangka pendek: maksimal dalam lima tahun aku meraih posisi manager, target jangka panjang: aku akan mencapai posisi Direktur Keuangan di akhir perjalanan karirku di perusahaan ini”.

Agak keterlaluan memang, beberapa rekan di kelompokku sepertinya merasa aku bermimpi di siang bolong. Untuk menjadi manager di perusahaan ini bukanlah hal yang gampang, apalagi dalam jangka waktu singkat lima tahun. Di perusahaan besar ini banyak sekali kaum tua yang karirnya mentok karena tidak kebagian jatah,  persaingan merebut suatu posisi sangat sulit karena memang source-nya pun sudah sangat handal semuanya. Untuk mendapatkan kesempatan promosi tidak hanya sekedar memiliki kompetensi dan skill tinggi, tetapi dituntut memiliki networking yang mengakar sampai ke jenjang managerial. Itulah beberapa pertimbangan yang diutarakan rekan sekelompokku. Apalagi bercita-cita untuk meraih posisi Direktur Keuangan sepertinya hanya isapan jempol belaka bagi mereka. Posisi Direktur adalah domainnya pemegang saham, posisi itu diluar jabatan struktural management, tidak akan mungkin diraih karyawan karir. Posisi yang paling tinggi diraih karyawan hanya bisa sebatas Vice President, itupun harus bersaing dengan ribuan karyawan cerdas, pintar dan berbakat lainnya dan tentunya membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Ini memang hanya sekedar sesi training saja, kami diminta membuat pernyataan visi. Hidup tanpa target serasa hidup tanpa arah yang jelas, itulah pikiranku saat itu. Dan kala itu sudah terpatri bahwa komitmentku akan membangun karir di perusahaan tercinta ini. Tidak ada hal yang tidak mungkin menurutku, saat itu kami diarahkan untuk berpikir out of box, Itulah kenapa target karir yang kubuat sangat menjulang tinggi bahkan diluar batas rasionalitas.

Namun beberapa bulan terakhir ini aku sangat terusik dengan tawaran beberapa head hunter yang terus mempengaruhiku untuk bekerja di perusahaan klien mereka. Ada-ada saja cara mereka menarikku, ada yang langsung menelepon, mengirim email, melalui situs jejaring sosial, mengisi komentar di blogku, bahkan via Yahoo Messenger. Aku juga heran, dari mana mereka tahu contact person ku, bagaimana mereka percaya begitu saja mengenai informasi yang mereka dapat tanpa sebelumnya membaca curriculum vitae ku atau ketemu langsung denganku. Tiga tawaran yang sangat menggangguku adalah menjadi ekspatriat di India, jabatan General Manager di suatu perusahaan distribusi alat-alat teknik dan posisi Manager Budget di suatu perusahaan telco provider yang notabene competitor perusahaanku sekarang ini. Ketiga tawaran itu sungguh membuatku pusing kepala, karena sangat menggiurkan sekali dari sisi posisi jabatan dan uang. Aku bahkan sempat berpikir untuk mengingkari komitment awalku dulu itu.

Sangkin terusiknya aku dengan tawaran itu aku meminta bantuan pendapat teman-temanku, keluargaku, kekasihku, juga kepada bosku saat ini. Dari hasil bertukar pikiran itu aku di perhadapkan dengan tiga pilihan penting yaitu karir, uang, atau kenyamanan kerja. Sebenarnya di perusahaan tempatku bekerja sekarang ini aku bisa meraih ketiga hal itu secara bersamaan, hanya dibutuhkan kesabaran menungu bergulirnya waktu. Akupun sadar belum banyak berbuat tuk perusahaan ini meski secara kompetensi aku berani mengatakan kalau aku sanggup mengisi posisi manager. Mengutip tulisan Dale Carnegie dalam bukunya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain yang mengatakan bahwa proaktif adalah kunci utamanya, tunjukkan hasil kerja kita kepada orang lain maka orang itu akan simpati kepada kita dan tertarik mengenal kita. Bagaimana bosku/HRD/Direksi bisa tahu kalau aku memiliki kapasitas itu jika aku tidak menunjukkannya kepada mereka siapa aku melalui hasil kerjaku. Inilah yang menjadi PR ku saat ini.

Seorang temanku bahkan memberi masukan dengan sebuah perumpamaan filosopi kodok dan kura-kura. Kura-kura biarpun pelan, tapi pasti maju, grade 1, 2, 3, dan seterusnya seperti gaya pegawai negeri. Sedangkan kodok tinggal dulu beberapa saat  di grade 1 selama 2 tahun, baru kemudian lompat ketempat lain menjadi manager, dalam lima tahun tau-tau sudah jadi GM di tempat lain lagi. Masing-masing ada keuntungan dan kerugiannya, patokannya bukan uang semata, tapi kepastian dan jaminan, seperti dalam berbisnis, yang dicari bukanlah sekedar uang, tetapi kepastian berbisnis itu sendiri, buat apa untung setahun tapi setelah itu tidak ada bisnis lagi. Lompat ke suatu perusahaan, jadi bos, setahun kemudian perusahaannya bangkrut. Atau pendapat temanku yang lain yang mengatakan pilihan menjadi kepala semut atau menjadi ekor gajah memang susah, gajah memang besar tapi gajah bisa dikalahkan oleh semut. Temanku yang lain lagi malah membandingkan dengan proses pengunduran diri Andy F Noya dari pimpinan redaksi Metro TV hanya demi mencari keju dan cadangan keju di tempat lain.

Sebenarnya masih banyak lagi masukan dan saran yang sangat bagus dari rekan-rekanku yang lain. Dari semuanya itu aku simpulkan bahwa aku masih ingin membangun karir di perusahaan tempatku bekerja sekarang ini. Bukan karena takut mengambil resiko, tapi aku melihat semua multiplier effect dari keputusanku itu. Masih banyak rencana jangka pendek dan jangka panjang yang harus kuraih, diantaranya menyelesaikan Tesis S2 ku, menikah dan membangun keluarga dengan nyaman dan bahagia, dan meraih beberapa sertifikasi profesi yang kudamba-dambakan selama ini yaitu QIA, CPMA, CPA, dan CFA. Itu semua bisa kuraih jika aku bisa bekerja dengan tenang, uang yang cukup dan career path yang jelas yang semuanya bisa kuraih bersama perusahaan tempatku bekerja sekarang ini.

Kedepan mungkin akan semakin banyak tawaran lagi yang lebih menggiurkan. Apakah aku tetap bertahan atau berpaling hati? Jawabanku sampai saat ini masih berpegang teguh pada moto hidupku: bersyukur dan bekerja keras. Mensyukuri setiap hal yang Tuhan beri kepadaku, dan bekerja lebih keras lagi untuk memperoleh hasil yang lebih baik di hari esok.

  1. September 16, 2008 pukul 1:04 pm

    tiga2 nya perlu, dan memang tiga hal ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan, Ada karir pasti ada uang, ada uang tentu bisa menciptakan kenyamanan kerja. Bagimana cara kita mendapatkan kenyamanan kerja ” POSITIF” tentunya kita harus memiliki kemampuan yg lebih yang blm di miliki org lain. Coba kita kembali ke Theory Abraham Maslow.dan baca juga visi management-Stratedy-Leadership karya Al Ries & Jack trout

    Dan saya yakin lae bisa sampai pada visi yang lae miliki, asal lae disiplin dalam menjalankan misi nya.dan tentunya kita tidak pernah berhenti BELAJAR dan jangan pernah sombong

    Sama hal dengan pribadi saya. Thn 1998 saya bergabung di Perusahaan saya bekerja saat ini, dalam kurun waktu 10 thn saya tiba pada puncak visi saya. Thn pertama (Staff) thn ketiga (Supervisor) thn ke 5 (Mgr Ops, usia saat itu 25 thn)) thn ke 7 s/d thn ke 9(Finance Mgr) dan puji Syukur kepada Tuhan Yesus, Thn Ke 10 (Jadi Pemegang saham, Usia saat ini 30 thn)

    http://www.lintongnababan.wordpress.com

    Harry: Wah perjalanan karir yang luar biasa lae, bagi-bagi dong rahasianya… Doakanlah lae agar aku bisa terus menjaga integritasku dalam berkarir.

  2. Oktober 6, 2008 pukul 4:00 pm

    Mungkin bukan hanya perlu networking…
    Tapi promotor…🙂

    Saya sudah sering mengamati, khususnya kita orang batak, sangat susah mencari ‘promotor’ di kantor dibanding dengan rekan kita dari suku lain.
    Di satu sisi, sifat keterusterangan kita sebagai orang batak [secara khusus yang masih lahir di hitaan] adalah kelebihan kita, namun sekali gus menjadi kelemahan kita di saat-saat kita masih harus memerlukan dukungan dari sang ‘promotor’. Kita cukup sering mencampuradukkan atau tidak bisa membedakan antara arti ‘dedikasi’ dengan ‘tidak punya harga diri’. atau ‘berani menampilkan potensi diri’ dengan ‘jual diri’/’menjilat’. Dan celakanya, yang dominan dalam persepsi adalah ‘tidak punya harga diri’ dan ‘menjilat’ yang akhirnya menjadi rem pakem terhadap diri sendiri sehingga tidak berani menampilkan potensi diri atau muncul ke permukaan.

    Ya…jadilah emas yang tersembunyi yang tidak pernah terlihat oleh sang promotor.

    Saya salut dengan keberanian Anda menyatakan target jangka pendek dan target jangka panjang tersebut.

    Kadang kita sudah targetkan setinggi langit, namun pencapaian yang bisa kita raih mungkin hanya setinggi pohon kelapa.

    Bisakah dibayangkan, jika target yang di-set hanya setinggi pohon kelapa? bisa jadi, pencapaiannya adalah setinggi dengkul.😦

    Semoga impian Lae tercapai…

    Horas

    Harry: Terimakasih lae, mudah-mudahan tercapai. Aku berdoa juga semoga lae memperoleh kesuksesan.

  3. Oktober 9, 2008 pukul 1:23 pm

    Kalau saya appara agak berbeda dari ke-3 pilihan tersebut. Baik Karir, uang atau kenyamanan kerja rasanya saya tidak pernah berambisi untuk hal-hal tersebut. aku sendiri tidak tahu mengapa. Saya cuma berusaha mengalir…. Tapi ketika saya menanyakan hal tersebut ke beberapa staf saya, mereka semua menjawab hal yang sama yakni uang. Alasan mereka, kalau sudah tercukupkan uang, yang lain bisa diatur hehehe… Tapi salut sama appara yang punya langkah, stategi dan tahapa tahap yang harus dicapai dalam hidup… selamat berkarya dan berkreasi terussss.. horas.

    Harry: Aku juga tidak terlalu ambisi kok mengejar semua itu pra, hanya saja aku selalu membuat target pencapaian agar hidup ini lebih bersemangat. Sebenarnya ada pilihan keempat yang notabene memang menjadi pilihanku yaitu “aktualisasi diri” Namun yang sering menjadi tolak ukur bayak orang adalah ketiga hal itu. Salut buat appara, sukses dan selamat berkarya juga pra. GBU

  4. Februari 8, 2009 pukul 4:05 pm

    Untuk berkarir selain ketiganya, perlu juga memiliki strategi, motivasi dan semangat yang baik untuk memudahkan perjalanan karir…

    salam,

    kiki4hire

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: