Beranda > Diary, Kehidupan, Kisah Nyata > Ternyata Tukul dan Adul Naik Ojek ke Studio

Ternyata Tukul dan Adul Naik Ojek ke Studio

Ya, aku juga baru tahu kalau ternyata judul diatas itu benar dari perbincanganku dengan seorang security sebuah perusahaan media electronik di bis jurusan UKI – Bogor.

Security itu persis duduk disebelahku, dia banyak bercerita tentang artis-artis dan pejabat negara yang berdatangan silih berganti ke studio televisi mereka untuk siaran. Namun yang menjadi kekagumanku adalah cerita tentang Tukul dan Adul. Meski kedua orang ini telah memiliki harta berlimpah, tarif manggung yang sangat tinggi, dan ketenaran yang mungkin mengalahkan banyak pejabat negara lainnya, namun ternyata memiliki sifat yang sangat bersahaja.

“Saya ingin berbagi rizki kepada orang yang kurang mampu” begitulah penjelasan security tersebut ikhwal kenapa Tukul dan Adul lebih memilih memakai jasa ojek setiap siaran ke studio. Andai saja banyak pejabat dan pengusaha lainnya di negeri ini memiliki jiwa yang sama dengan Tukul dan Adul, mungkin saja banyak orang merasa kecipratan rejeki, dan terlebih tidak terganggu dengan iring-iringan petugas patwal yang selalu mendampingi jalan mereka di jalan raya – yang notabene juga jalan rakyat.

Keegoisan akan kekuasaan dan kejayaan memang mudah dilanda siapa saja, namun tidakkah lebih penting memposisikan bahwa diri kita adalah sama dengan orang lain di mata Sang Pencipta. Andai saja semua orang beranggapan demikian mungkin bumi ini akan penuh dengan kedamaian.

Dari cerita itu pula aku juga banyak tahu praktek bisnis bosnya security itu. Sampai kepada sayap-sayap bisnisnya yang dikepakkannya sampai ke luar negeri. Pun demikian dengan pesawat jet pibadinya yang ternyata hanya boleh diparkir di Singapura. “Huh memang Security dan Supir adalah sumber informasi” pikirku demikian, karena dari kedua profesi inilah sering sekali informasi-informasi seperti itu bocor ke orang lain.

Dengan bapak security itu pula aku banyak bercerita tentang kehidupan pribadi dan keluarganya sampai kepada pekerjaan kesehariannya. Biaya hidup yang semakin tinggi untuk memenuhi keluarganya dan kejadian pernah kepergok selingkuh oleh sang istri adalah dua cerita lainnya yang menarik bagiku dengan security tersebut. Dari sini aku belajar hal baru bahwa kehidupan yang dialami semua orang itu berbeda-beda.

Disetiap perjalananaku dengan menggunakan angkutan umum aku serasa menemukan kehidupan yang sebenarnya: berinteraksi dengan orang banyak, bertukar pikiran dengan segala golongan dan terlebih menjadi serupa dengan mereka. Banyak hal yang aku dapat mengenai makna kehidupan ini ketika aku membaur dengan mereka. Itulah kenapa aku lebih memilih menggunakan kendaraan umum dibanding dengan mobil pribadi.

Karena asiknya bercerita dengan bapak security itu, eh…., aku malah kelewatan turun.

  1. Oktober 9, 2008 pukul 6:23 pm

    Naik kendaraan umum, banyak yg kurang minat, apalagi jika di Medan, kondisinya ada yg tidak layak lagi…
    Oya, paling tidak, pejabat-pejabat itu jangan minta mobil yg inilah yg itulah…
    :angry:

    Harry: Yup, masalah perhubungan adalah PR pemerintah yang ga pernah selesai, namun esensi dari tulisan ini bukan itu, tapi kebersahajaan seorang tokoh. thanks for the comment

  2. Agustus 25, 2009 pukul 11:31 am

    Naik kendaraan umum, banyak yg kurang minat, apalagi jika di gunungkidul, kondisinya sangat panas jd mungkin untuk para pajabat kurang pas

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: