Beranda > Cinta, Kehidupan, Keluarga, Resensi buku > Apakah Saya Menikah Dengan Orang Yang Tepat

Apakah Saya Menikah Dengan Orang Yang Tepat

Sebuah Terjemahan Bebas dari buku “Did I marry the right person?” Cerita di bawah ini sangat bagus, buat yang masih single maupun yang sudah menikah. Buat mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan buat yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani.

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, “bagaimana saya tahu kalau saya menikah dengan orang yang tepat?” Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab “Ya.. tergantung. Apakah pria di sebelah Anda itu suami Anda?” Dengan sangat serius dia balik bertanya “Bagaimana Anda tahu?” “Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini.” Inilah jawabanya… Setiap ikatan memiliki siklus. Pada saat-saat awal sebuah hubungan, Anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan Anda. Telepon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Tidak perlu berbuat apapun makanya dikatakan “jatuh” cinta. Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan “aku mabuk cinta” Bayangkan ekspersi tersebut! Seakan-akan Anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada Anda.

Jatuh cinta itu mudah, sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi, setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar, perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada semua ikatan. Perlahan tapi pasti telepon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya tidak selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang besemangat bukannya jadi hal yang manis tapi malah nambahin penat yang ada.

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu, namun bila Anda memikirkan tentang rumah tangga Anda, Anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat Anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya. Dan pada situasi inilah pertanyaan “Did I marry the right person?” mulai muncul, baik dari Anda atau dari pasangan Anda, atau dari keduanya.. Nah lho! Dan ketika Anda maupun pasangan Anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi, Anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas, maka masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan di luar. Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini, mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV sampai TVnya bosen ditonton, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tahu tidak? bahwa jawaban atas dilema ini tidak ada di luar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri. Selingkuh? Ya mungkin itu jawabannya. Saya tidak mengatakan kalau Anda tidak boleh ataupun tidak bisa selingkuh, Anda bisa! Bisa saja ataupun boleh saja Anda selingkuh dan pada saat itu Anda akan merasa lebih baik, tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun Anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan Anda). Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini)

Kunci sukses pernikahan bukanlah menemukan orang yang tepat, namun kuncinya adalah bagaimana belajar mencintai orang yang Anda temukan, dan terus menerus..!

Cinta bukanlah hal yang pasif ataupun pengalaman yang spontan. Cinta tidak akan pernah begitu saja terjadi. Kita tidak akan bisa “menemukan” cinta yang selamanya? Kita harus ‘mengusahakannya” dari hari ke hari. Benar juga ungkapan “diperbudak cinta” Karena cinta itu butuh waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting cinta itu butuh sikap bijak. Kita harus tahu benar apa yang harus dilakukan agar rumah tangga berjalan dengan baik. Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini. Cinta bukanlah misteri

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan, dengan ataupun tanpa pasangan Anda agar rumah tangga berjalan lancar. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika? (seperti gaya Grafitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga  juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga dapat membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa “membuat” cinta bukan “jatuh”. Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah “decision” dan bukan cuma “perasaan”..!

  1. sadiesoegi
    Oktober 10, 2008 pukul 4:34 pm

    Benar sekali tulisan Anda itu. Saya sering menanyakan itu dalam hati, dulu. Tetapi sekarang saya yakin dan semoga suami juga berpikiran sama, kalau I already married the right person.

    Harry: Saya senang embak memberikan respon atas tulisan ini. saya berdoa semoga keluarga embak selalu deberikan kebagahagian.

  2. Oktober 10, 2008 pukul 6:04 pm

    Wah, keren2…tulisan yg educated bgt.

    mungkin bisa jadi info bwt saya, mahasiswi jomblo n sibuk bgt ama kuliah supaya nggak terburu2 n selalu memikirkan setiap langkah yg mo dijalani.
    Pernikahan bukan suatu permainan,namun suatu jalan hidup yg harus dilalui dan dinikmati.

    Makasih byk buat infonya.

    Best regards,😉

    Harry: Saya senang kalau coretan saya di dunia maya ini bermanfaat bagi Anda. Terima kasih buat responnya mbak.

  3. iis
    Oktober 12, 2008 pukul 11:21 am

    BAGUS..

    kurasa benar, masukan yang bisa diterima
    sikap bijak, yah mungkin aku masih sgt kurang bersikap bijak.
    trkadang aku harus kesal saat dia trlalu sibuk dan tidak mmpedulikan aku, untuk beberapa hari tak mmbalas smsku.
    harusnya aku lebih mengrti posisinya, karna hidupnya bukan hanya untuku tp untuk Tanah air kluarga dan jg temen2nya.

    makasih atas tulisanya
    slm kenal..?

    Harry: Salam kenal jug mbak Iis, Saya salut kalau ternyata mbak bisa mengertiin pasangan mbak kalau dia bukan hanya milik mbak, jarang sekali orang bisa bersikap seperti itu mbak.

  4. manihuruk
    Oktober 23, 2008 pukul 10:42 am

    Horas..

    banyak pilihan…
    Married the girls that you love or Love the girls that you married.

    salam

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: