Beranda > Diary, Karir, Mimpi > Praktisi yang Akademisi

Praktisi yang Akademisi

Seperti kebanyakan anak kecil Pilot adalah cita-citanya, ya seperti itulah aku dulu. Sangkin inginnya aku jadi pilot sampai apa saja yang kujumpai kujadikan sebagai kemudi pilot sambil menirukan suara pesawat sedang terbang. He..he.. lucu memang bila mengenang masa-masa itu. Beranjak remaja, karena keaktifanku di pramuka cita-citakupun beralih ingin menjadi tentara, maklum biasa merintah dan diperintah, senang sekali rasanya kalau latihan baris-berbaris, mengembara, berkemah, imagenya juga terkenal gagah dan tegas, dll. Pokoknya dulu gila tentara deh.

Ketika SMA cita-cita ku berubah lagi, kebetulan ketika itu aku masuk kedalam kelas unggulan jadi cukup akrab dengan sains. Tidak muluk-muluk, aku pengen jadi Dokter atau Engineer, tapi kenyataan pahit harus kuterima kemudian karena ternyata aku lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) di jurusan akuntansi yang notabene bukan keinginanku. Bahkan yang lucunya lagi ketika SMA dulu setiap pelajaran ekonomi atau akuntansi aku selalu sengaja tidak masuk dan ujiannya pun mencontek dari orang lain (ups… yang ini tidak layak ditiru ya🙂 )

Kenyataan itu harus kuterima, memang ada sedikit ketakutan memasuki bidang yang sebenarnya tidak kuminati, aku bahkan berencana mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) lagi tahun depan. Namun sesuatu yang memukau terjadi, indeks prestasi (IP) semester pertamaku hampir sempurna, hal itu lah yang membuatku memutuskan berkomitmen harus menyelesaikan perkuliahanku itu dengan baik. Dan dari sinilah kecintaanku terhadap ilmu ekonomi dan dunia bisnis dimulai.

Masa-masa perkuliahanku itu membuatku semakin terhanyut dalam dunia akademisi, pada semester enam (sepulang mengikuti sandwich program selama satu semester di UGM) aku bahkan sudah mengajar asistensi salah satu mata kuliah akuntansi, selain itu juga aku terlibat dalam kelompok belajar dan penelitian bersama timku, disaat inilah aku mantapkan keinginanku untuk menjadi dosen. Namun di sisi lain muncul cita-cita lain bahwa suatu saat nanti aku juga ingin terjun di dunia praktisi, karena pikirku untuk apa ilmu tinggi-tinggi kalau tidak dapat dipraktekkan. Perbankan adalah pilihanku, semua hal mengenai perbankan kulahap habis, mulai dari semua matakuliah yang berhubungan dengan bank, seminar, sampai skripsiku pun tentang perbankan. Namun Tuhan berkata lain, aku sekarang bekerja pada perusahaan telekomunikasi. Namun hal positifnya masih bisa aku petik, yaitu aku masih tetap berkiprah di dunia bisnis.

Meski telah memasuki dunia kerja namun kecintaanku terhadap kedua hal itu (praktisi dan akademisi) tidak pernah lekang, sembari menjadi pengamat lepas melalui media lokal dan blog, aku memutuskan untuk melanjutkan studi masterku dengan harapan suatu saat nanti bisa bekerja sambil mengajar. Ketika studi master inilah wawasanku terhadap perekonomian Indonesia dan praktek manajemen bisnis di Indoensia semakin terbuka lebar. Hasratku untuk terjun langsung dalam dunia praktisi perekonomian Indonesia semakin mencuat, untuk itu aku terus memperluas wawasanku dengan membaca semua referensi yang ada baik itu teks book, majalah, koran maupun media elektronik.

Aku menyadari keinginanku untuk terjun ke salah satunya tidak akan bisa kupilih, seperti kata filsuf Jerman – Emmanual Kant, teori tanpa praktek tidak ada artinya. Maka dari itu yang kupersiapkan sekarang adalah memilih keduanya sekaligus yaitu praktisi yang akademisi. Yang akan kulakukan adalah mengejar karir yang lebih baik lagi sembari membagi ilmunya kepada mahasiswa yang kelak akan menjadi penerus bangsa. Aku bahkan berencana akan melanjutkan studiku sampai kepada jenjang doktor nanti, juga rencanaku untuk mengambil beberapa sertifikasi profesi. Namun aku malah memikirkan hal lain, jika aku berada di kota kecil seperti sekarang ini tidak akan mungkin aku bisa meraih semua impian itu, maka dari itu hal pertama yang harus kuusahakan adalah pindah ke Ibukota. Dan cara terbaik untuk pindah adalah menunjukkan kerja yang baik sehingga dilirik oleh manajemen perusahaan. Jadi lagi-lagi kembali kepada kinerja dan pekerjaanku.

Ya… semua itu hanyalah rencana yang tidak berbeda jauh dari sebuah mimpi. Namun jika aku mengingat kembali ucapan Walt Disney yang membuktikan bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan, justru mimpi itu menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk bisa kuraih. Yakin Usaha Sampai (meminjam slogan HMI).

 

  1. Oktober 11, 2008 pukul 8:38 pm

    lu pasti bisa lah jadi dosen Ito. jiayou

    Harry: thank you for ur support thea.

  2. Oktober 11, 2008 pukul 11:18 pm

    setuju banget

  3. panabiduhut
    Oktober 13, 2008 pukul 11:17 am

    Menunjukkan kerja yang baik tidaklah cukup Lae…(walaupun tetap harus)

    Meminta bukan berarti mengemis atau menjilat…

    Sebagai gambaran (dan ini adalah gambaran yang kuperoleh dari atasanku dulu, maklum sudah ganti atasan)

    Dua karyawan yang , katakanlah, punya performansi yang setara. Sebutlah si “A” dan si “B”. Kedua karyawan sama-sama menunjukkan kerja yang baik.
    Si atasan juga senang terhadap pencapaian kedua bawahannya tersebut.

    Si “A” di samping secara konsisten menunjukkan kerja yang baik, juga menunjukkan keinginan lain, katakanlah, bahwa dia juga punya harapan agar bila ada kesempatan agar bisa diberikan kesempatan untuk, misalnya pindah ke kantor pusat (seperti harapan Lae) atau contoh lain, diberi kesempatan dan peluang untuk mengisi suatu posisi yang lebih tinggi.

    Si “B” juga secara konsisten menunjukkan kerja yang baik, namun dia hanya berpikir bahwa nanti juga diperhatikan atasan dan tidak menunjukkan keinginan tersebut.

    Sebagai atasan, kata atasan saya tersebut pada saat itu, Si “B” akan saya asumsikan masih cukup aman untuk saya diamkan seperti posisi atau kondisi saat ini, ya…paling tidak untuk saat ini. Toh performansi kerjanya tetap baik dan tidak menunjukkan keinginan lain. Amanlah.

    Di sisi lain, si “A” yang juga sama baiknya dengan si “B”, walau tetap menunjukkan performansi kerja yang baik, namun masih terlihat menunjukkan keinginan yang lebih besar dan kadang, secara tersirat, menunjukkan kepada atasannya keinginan yang lain tersebut tanpa ada niat ketidaksenangan dengan atasannya tersebut. Hanya semata-mata demi cita-cita atau peluang dan tantangan yang lebih besar.

    Si atasan akan berpikir, wah sayang nih, kalau sampai si “A” ini, seiring dengan berjalannya waktu karena keinginan yang selalu terbendung dan tak pernah kesampaian akhirnya akan lepas atau dengan kata lain hengkang untuk mencari tempat/perusahaan lain yang dapat menampung keinginananya.

    Sebagai atasan yang dihadapkan kepada pilihan, katakanlah saatnya ada peluang, maka tentunya si “A” akan diutamakan oleh si atasan untuk diusulkan dalam list sebagai kandidat yang diharapkan dapat mengisi peluang tersebut. Ya…peluang tersebut bisa jadi promosi atau mutasi.

    Yang penting, berlaku santun dalam mengutarakan keinginan dan tetap menunjukkan kerja yang baik, bahkan tidak cukup hanya baik, tetapi menjadi lebih baik [ atau seperti kata Mario Teguh, jika Anda dibayar Rp 100 saat ini maka kerjakanlah pekerjaan yang seharga Rp 1000] agar keinginan yang diutarakan tidak dianggap oleh si atasan sebagai keluhan atau protes atas kepemimpinannya. Dan jangan lupa, jadikan dia (atasan), di samping atasan bagian lain, menjadi bagian dari “Promotor” Anda.

    Ini hanya sebagai masukan kecil saja. Not as a reference.

    Poda ni natua-tua i, burju-burju ho amang tu atasanmu da.
    [sampai saat ini, saya pun masih terus mengkaji makna dibalik ucapan ini, makna yang tidak berkonotasi negatif. Dan itu memang tidak mudah Lae, apalagi dengan kekuatan karakter halak hita yang terkenal dengan keterusterangannya, yang tidak jarang sekaligus menjadi kelemahan karakter juga]

    Harry: Terima kasih banyak lae, komentar lae sangat bermanfaat buat saya dan mungkin bagi pembaca lainnya. Saya akan berusaha tuk menjadi si “A” lae. mauliate.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: