Beranda > Ekonomi, Financial management, Nasionalisme, Opini > Antisipasi Resesi Global – Pakai Produk Lokal

Antisipasi Resesi Global – Pakai Produk Lokal

Topik ini sangat menarik, menjadi headline di hampir seluruh media di dunia. Semua orang bahkan yang sebelumnya cuek dengan masalah ekonomi kini seperti menjadi pengamat ekonomi saja, setiap hari membicarakan masalah ini sampai ke warung kopi sekalipun. Milis-milis juga dipenuhi dengan subject yang mengulas tuntas masalah ini, meski milis itu sendiri sebenarnya tidak ada hubungannya sedikitpun dengan perekonomian. Itu artinya masalah resesi global ini sudah menjadi Big Bang fokus perhatian masyarakat dunia saat ini.

Beberapa hari yang lalu seorang teman mengirimkan sebuah email kepadaku menanyakan hal ikhwal kenapa resesi ini terjadi dan kira-kira apa dampaknya. Dari isi emailnya tersebut saya bisa melihat ada ketakutan terpancar darinya atas krisi ekonomi ini. Juga ada beberapa teman yang lain menanyakan kepadaku peristiwa ekonomi ini dalam perbincangan yang tidak formal. Sebenarnya akupun tidak mau latah menjadi pengamat ekonomi dadakan seperti kebanyakan orang itu, namun aku sangat menghargai kepercayaan teman tersebut dengan menanyakannya kepadaku. Dengan pengetahuan terbatas saya mencoba menjelaskan kepada teman tersebut dengan penjelasan berikut.

Kalau saya perhatikan krisis ekonomi ini akibat perekonomian semu, terjadi over investment, artinya investor (yang sebenarnya adalah spekulan) menghargai sesuatu produk lebih tinggi dari nilai wajar barang tersebut, contohnya saja harga minyak dunia yang sempat menembus angka USD 160 per barel, padahal sebenarnya harga wajarnya sekitar USD 50 – 70 per barel, atau contohnya di Indonesia saja yang baru kemaren terjadi harga saham Bakrie & Brother dihargai lebih tinggi oleh JP Morgan (spekulan Amerika), padahal sebenarnya itu aksi spekulan untuk mencari keuntungan yang kemudian keuntungannya disetorkan ke kas negara Amerika. Sehingga saham Bakrie Group semuanya harus di suspensi (dihentikan perdagangannya sementara) dari BEI.

Kalau menurut Prof Witteveen, seorang ahli ekonomi yang pernah menjabat Direktur IMF selama 10 tahun, dalam bukunya berjudul Structuur en Conjunctuur mengatakan jika kejadiannya seperti ini (over investment) tidak ada yang bisa dilakukan oleh para ekonom (bahkan ahli dan pakar ekonomi sekalipun) kecuali menunggu dengan penuh penderitaan sampai titik terendah secara alamiah tercapai, harga akan menyesuaikan sendiri berdasarkan mekanisme pasar (seperti teori Keynes), dan perekonomian akan tumbuh lagi dari titik nol (merangkak dari bawah lagi) Jadi tunggu saja semua ini berlalu, dan kita akan memulainya kembali dari harga yang normal tersebut. Kejadian Ekonomi yang bermula di Amerika ini bukan saja akan melebihi krisis perekonomian Indonesia tahun 1998, bahkan bisa menyamai krisis ekonomi terhebat sepanjang sejarah dunia yaitu Malase 1929.

BEI ditutup sementara dan Bursa diseluruh dunia sementara juga diliburkan, Pemerintah Bush menggelontorkan miliaran dolar Amerika untuk menyehatkan perusahaan-perusahaan negaranya, Bank sentral seluruh dunia bersama-sama menurunkan tingkat suku bunga, dlsb. Itu semua hanya cara untuk memperlambat krisis (agar tidak terlalu membebani warga dunia), tidak dapat menyetopnya.

Kepada teman tersebut saya menyarankan agar menggunakan produk dalam negeri agar dampak resesi itu tidak begitu kerasa bagi Indonesia. Penjelasan seorang teman bernama Dahlan Iskan di salah satu milis cukup sederhana menjelaskan dan sangat gampang dicerna mengapa kuncinya berada pada konsumsi produk lokal.

Kita lihat saja akar terjadinya krisis ini bermula di Amerika, AS adalah negara yang paling konsumtif di dunia. Menurut Paul Krugman setiap tahunnya AS menghisap modal seluruh dunia sebesar 300 miliar dolar AS pertahunnya. Barang apa saja yang masuk ke Amerika pasti habis diserap pasar. Maka dari itu importir Amerika pun berbondong-bondong mendatangkan barang dari seluruh penjuru dunia. Para bos importir itu dan para produsen di Amerika semakin senang bila harga barang semakin tinggi sehingga akan semakin memperbanyak pundi-pundi uang mereka. Semakin banyak yang bisa membeli barang maka ekonomi pasti akan semakin maju. Cara-cara politis pun dilakukan agar perusahaan mendapat dukungan legal “membuat” perusahaan Amerika semakin besar. Sudah lebih 60 tahun cara”membesarkan” perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmurannya dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.

Namun ketika ekonomi jenuh, ketika semua orang sudah mampu membeli suatu barang, katakanlah barang “A”, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang menjual barang “A” tersebut, tapi karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjulan barang “A” tersebut tetap bisa dilakukan. Inilah yang saya sebut dengan perekonomian semu diatas. Dan ketika terjadi kejenuhan ekonomi, harga jual suatu produk sudah tidak realistis lagi, harga akan terdepresi dengan sendirinya, masyarakat tidak ada lagi yang berminat membelinya. Sehingga berdampak pada perusahaan atau Negara sumber barang tersebut, juga berpengaruh pada bank yang memberikan kredit kepada perusahaan tersebut. Inilah yang mengakibatkan Krisis di Amerika berdampak fatal bagi seluruh dunia, yaitu ekonomi yang sangat bergantung pada ekonomi negara lain (sisi negatif dari globalisasi).

Pendapat diatas juga didukung oleh Paul Krugman, seorang Ekonomist terkenal, mengatakan bahwa yang terjadi di Indonesia adalah Investor yang kebanyakan bank asing memberikan pinjaman jangka pendek, sekaligus ramai-ramai menarik modalnya kembali. Bank-bank negara pengutang tidak dapat menjadikan asetnya ke dalam uang tunai dalam waktu singkat. Artinya apa? Masyarakat Indonesia dan dunia bisnis Indonesia sangat bergantung pada bank asing. Ada bank lokal dan BUMN kenapa harus pakai bank asing. Ketika terjadi krisis begini baru tahu rasa.

Kepada seluruh pembaca blog ini saya gugah rasa nasionalisme Anda, mari kita pakai produk dalam negeri dari sekarang, pakai barang-barang yang dihasilkan dari keringat rakyat Indonesia, simpan uang dan pinjam modal kerja dari bank milik pemerintah atau bank swasta lokal, bertransaskilah dengan rupiah, dlsb. Saya yakin ada begitu banyak produk lokal yang tidak kalah hebat dengan produk Impor. Saya yakin bila ekonomi kita dibangun di atas landasan lokal yang kuat pasti akan bertahan meski krisi ekonomi sehebat apapun. Karena kita lebih bergantung pada diri kita sendiri, Negara kita sendiri yang begitu kaya ini, dan kepada kepemimpinan nasional yang memihak kepada wong cilik. Mari kita cegah cara-cara penjajahan baru yang mengatasnamakan ekonomi dengan mencintai produk dalam negeri.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: