Beranda > Nasionalisme, Opini, SDM > Pergi Saja Kalian ke Luar Negeri

Pergi Saja Kalian ke Luar Negeri

Beberapa hari yang lalu aku berkunjung ke rumah seorang temanku, kebetulan di rumahnya ada pamannya, jadilah aku bergabung ngobrol dengan mereka. Pamannya ini sudah kenyang pengalaman, hampir seluruh Indonesia sudah dijalaninya, pergaulannya pun sudah sangat luas. Sehingga pembicaraan kamipun sangat menarik.

Sambil ditemani secangkir kopi kami ngobrol ngalur ngidul membahas topik apa saja. Ya.. seperti di Lapo Tuak saja lah. Sampai tibalah kami membicarakan topik Indonesia yang enggak bisa maju-maju. Tercetuslah kalimat ini “Pergi saja Kalian ke Luar Negeri”. Bah, akupun ketawa menangapinya sebagai ungkapan sindiranku terhadap kondisi bangsa ini. “Ngapain kalian di Indonesia ini, kerja kalian tidak dihargai. Percuma kalian sekolah tinggi-tinggi, kalau kalian kerja di luar negeri kalian bisa dapat sepuluh bahkan seratus kali lipat daripada kerja kalian sekarang ini” aku ketawa saja mendengar ucapannya yang sangat kental logat bataknya itu.

Lalu dia melanjutkan lagi dengan cerita teman-teman sekampungnya yang telah sukses merantau ke Amerika dan kemudian menjadi warga negara disana, “Meski pekerjaan mereka sekeluarga hanya menjadi pembantu dan pesuruh tapi penghasilan mereka sangat besar, bahkan melebihi penghasilan kalian sekarang ini, bahkan mereka bisa membanggakan kampung halaman”. Akupun lantas menjawab “kenapa bukan tulang saja yang ke luar negeri?” “akupun dari dulu pengen sekali, tapi dulu aku masih di laut (pelaut). Lagi pula untuk menjadi imigran tidak segampang dulu, apalagi setelah kasus terorisme nama Indonesia jadi jelek. Kawanku itu bahkan harus diwawancarai panjang lebar dulu hanya sekedar ingin pulang kampung untuk melayat orang tuanya yang meninggal”. Sepanjang hari itu aku miris mendengar semua diskusi yang terjadi menjelek-jelekkan bangsa sendiri, meski sedikit terhibur dengan logat batakknya yang kocak sekali itu.

Bila melihat kondisi bangsa ini mungkin bila setiap warga Negara Indonesia ditawari pindah ke Negara lain, pasti semua akan berlomba-lomba mencari Negara baru baginya, Amerika, Australia, atau Negara-negara di Eropa mungkin menjadi pilihan utamanya, atau bahkan Negara tetangga yang tidak jauh beda dengan kita menjadi pilihannnya karena memang lebih yakin bisa hidup layak disana, karena kenyataannya mencari hidup di negeri sendiri sangatlah susah. Beberapa temanku juga berlomba-lomba mendapatkan kewarganegaraan asing, dengan terlebih dahulu sekolah atau bekerja disana. Aku tidak bisa menyalahkan mereka, karena itulah pilihan mereka.

Hidup memang susah, apa boleh buat, itulah kondisinya, dan itu harus kita jalani. Namun bila kita renungi lagi Indonesia ini adalah negeri kita, negeri yang kaya raya, potensi alam yang melimpah ruah dan sangat memikat. Siapa lagi yang mengurusnya kalau bukan kita sendiri. Janganlah kita selalu mengkritik perusahaan Negara lain karena telah menguras habis kekayaan alam kita, kenapa kita tidak mengkritik SDM kita sendiri, setelah berpuluh-puluh tahun kita tidak juga dapat mengolahnya sendiri. Aku juga miris mendengar beberapa orang pintar negeri ini yang lebih memilih tinggal di Negara lain untuk mengabdikan ilmunya. Aku bisa mengerti itu karena memang keahlian dan kepintaran mereka tidak mampu diakomodir oleh negeri sendiri (masukan buat pemerintah). Tapi apakah lantas dengan begitu kita membiarkan Negara ini terus tertinggal? Pertanyaannya kembali: “Kalau bukan kita siapa lagi?”

Ketika awal kuliah dulu aku terkejut sekali membaca pengarang teks book teori ekonomi yang namanya mirip nama Indonesia, setelah kubaca tuntas biografinya ternyata memang benar orang Indonesia, tetapi dia lebih senang mengajar di Negara lain, bahkan menjadi professor disana. Kondisi ini ternyata banyak juga dialami para peneliti Indonesia yang lain yang lebih memilih mengabdi di Negara lain. Mereka pintar, cerdas, hebat, dan tentunya berprestasi, tapi nasionalisme mereka digadaikan hanya untuk memenuhi hasrat belaka.

Negara ini butuh Anda, butuh kita semua yang mau bersama-sama mengabdikan semua kemampuan kita untuk bangsa dan Negara ini. Kembali menyandang predikat Macan Asia seperti tahun 1980-an, saya rasa itu mungkin terjadi lagi suatu saat nanti, bahkan menjadi negara maju sekalipun, jika dari sekarang kita bahu membahu membangun bangsa ini. Semoga.

  1. Andro
    Oktober 17, 2008 pukul 9:11 am

    Kalau saya ga usah jauh-jauh bang. ke malaysia aja. disana sudah ada kampung jawa kok. hidup lebih nyaman lagi. daripada di Indonesia ga jelas.

  2. SQ
    Oktober 17, 2008 pukul 2:26 pm

    Yap. Mas, saya kira itulah sudah kenyataannya. Namun walau bagaimanapun, Indonesia is Indonesia. Our Beloved country.
    Saya kira, hidup akan jadi lebih gampang. Begitu kita berbuat dan berbuat.

    Salam “Qolbu”🙂

  3. Oktober 20, 2008 pukul 7:18 am

    itulah, kapan membangun Indonesianya, kalau orang-orang terbaik kita malah pada keluar negeri semua…

  4. manihuruk
    Oktober 23, 2008 pukul 9:23 am

    Horas dan salam kenal appara –

    Kenapa harus ke luar negeri ?
    Mencoba lari dari masalah di negeri sendiri..?
    DI luar negeri menjanjikan pendapatan yg berlipat-lipat ? Ah ..menurut saya tidak seluruhnya tepat..ada beberapa hal yg kita tidak akan dapatkan bila kita hidup di luar negeri.

    Mnrt saya lebih baik tinggal dan membangun negeri sendiri, tinggal dan membangun kampung sendiri.

    Hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri – lebih baik dan nyaman di negeri sendiri.

    Harry: Sepakat pra, akupun berpikir begitu.

  5. Oktober 23, 2008 pukul 2:36 pm

    Jangan salahkan siapa-siapa kalau orang-orang pergi ke luar negeri. Negeri kita tidak sanggup memberikan lapangan kerja kepada mereka yang menganggur yang jumlahnya sekarang ini tak pernah lagi saya perhatikan. Apalagi sebagian dari kita tak bisa membuat lapangan kerja bagi diri mereka sendiri. Lagi pula, orang-orang yang bekerja di luar negeri akan membantu meningkatkan devisa negara.

  6. Oktober 27, 2008 pukul 7:25 pm

    halo Harry, apa kabar? nanti mampir ke blog saya dan kasih comment kamu mengenai tulisan terakhir ya?
    Aduh blog kamu ramai juga ya..nanti saya blogroll

    Harry: Halo juga kak. Aku sering mampir kok ke blog kakak, cuma belum meninggalkan jejak aja🙂 iya, nanti pasti aku komentari deh tulisannya. Sukses selalu dalam pelayanannya ya kak. GBU

  7. Oktober 29, 2008 pukul 1:11 pm

    “……..membaca pengarang teks book teori ekonomi yang namanya mirip nama Indonesia, setelah kubaca tuntas biografinya ternyata memang benar orang Indonesia, tetapi dia lebih senang mengajar di Negara lain, bahkan menjadi professor disana. Kondisi ini ternyata banyak juga dialami para peneliti Indonesia yang lain yang lebih memilih mengabdi di Negara lain. Mereka pintar, cerdas, hebat, dan tentunya berprestasi, tapi nasionalisme mereka digadaikan hanya untuk memenuhi hasrat belaka.”

    Selama dia/mereka tidak melepaskan status kewarganegaraan Indonesianya, menurut saya, mereka tidak menggadaikan nasionalismenya. Malah mungkin sebaliknya.

    Tapi untuk yang mengubah kewarganegaraan….ya #%$%$&&$*^$^ (hak mereka lah itu)

    Dan lagian kalau kewarganegaraannya bukan lagi Indonesia, ya tidak bisa dibilang lagi dong sebagai orang indonesia. mungkin…sebagai orang yang pernah menjadi orang indonesia. 🙂 🙂

  8. November 8, 2008 pukul 5:54 pm

    Hmmm…ada benarnya..memang rakyat sll berpikir benar dan jernih, layaknya pemikiran ito di blog ini. Tapi coba kalau pemerintah kita skrg berpikiran demikian? Kenapa mereka tidak memanfaatkan SDM yang ada? Eh, malah yg pintar di singkirkan, yang bodoh diangkat jadi pemimpin, maksudnya apa? biar bisa di bodoh2 in atau dengan kata lain, biar bisa di ajak korupsi dan bermalas malasan di kursi pemerintahan sana. Biar dia bisa makan sendiri itu uang negara…

    Di negara kita masih ada persaingan tidak sehat di antar orang2 pintar…yg satu takut temannya lebih pintar dan yg satu lagi juga begitu, sehingga yang benar2 pintar mengalah dan pergi saja ke luar negri…hahahaha

    Harry: Tanya kenapa?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: