Beranda > Ekonomi, Kritik Kebijakan, Ngeblog, Opini > Konspirasi Mendatangkan Kembali IMF

Konspirasi Mendatangkan Kembali IMF

Sebulan ini aku mengamati beberapa sinyalemen ekonomi yang melanda negeri ini. Dimulai dari anjloknya saham grup usaha Bakri – padahal Bakri selama ini adalah andalannya pemerintah SBY, nilai rupiah yang terus tergerus, dan hebatnya lagi unjuk gigi Indonesia di G20 – Indonesia merasa menjadi Negara hebat yang tahan terhadap terpaan krisis sehingga merasa layak bergabung dengan kelompok Negara itu. Awalnya rasa ingin tahu saya langsung menduga bahwa pasti ada undang di balik batu. Cuma aku tidak tahu persis apa sebenarnya itu.

Dugaanku itu ternyata sekarang terbukti. Ternyata ada skenario untuk mengundang IMF kembali bercokol di negeri ini. Ekonom Indef, Iman Sugema sudah melontarkan (dikutip dari inlah.com) sinyalemen bahwa rupiah menjadi alat agar IMF bisa bercokol kembali di Indonesia. “Ini dilakukan supaya ada alasan bagi Sri Mulyani (Menteri Keuangan) dan Boediono (Gubernur Bank Indonesia) untuk mendatangkan IMF,” tandasnya. Bahkan dikabarkan rupiah terus didorong hingga mencapai 15 ribu per dolar AS. Demikian juga saham BUMI dibiarkan hancur agar kondisi bursa semakin memburuk yang diikuti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Indikasi itu juga diperjelas oleh pemberitaan di beberapa media mengatakan bahwa Marsilam Simanjuntak mulai berkantor di gedung Depkeu. Ada urusan apa tiba-tiba Marsilam berkantor disana. Beberapa staf di depkeu juga tidak mengetahui secara persis posisi persis Marsilam di sana. Belakangan dikabarkan Marsilam, Menkeu dan mantan Menkeu Mar’ie Muhhamad merancangkan kedatangan IMF ke Indonesia.

Kalau benar Indonesia kembali meminta tolong kepada IMF, berarti sama saja mengulang kesalahan yang sama yakni seperti krisis moneter 1998 silam. Ketika banyak negara sudah tidak menghendaki kehadiran IMF, namun Indonesia yang baru terlepas dari jeratannya malah kembali meliriknya sebagai dewa penolong.

Menurut mantan Menko Ekuin Kwik Kian Gie, setidaknya ada dua kebijakan IMF yang justru merusak ekonomi Indonesia. Pertama, kebijakan makro. IMF memberlakukan kebijakan uang ketat luar biasa melalui suku bunga cukup tinggi (sekitar minimal 50% setahun) selama hampir setahun. Kedua, di bidang perbankan. IMF telah membuat blunder dengan membebani pembayar pajak luar biasa beratnya untuk jangka waktu sangat panjang. Selama disubsidi besar-besaran dalam kurun waktu empat tahun, bank-bank rekap tetap saja merugi besar kalau subsidi dihentikan.

Semenjak Sri Mulyani dipilih SBY bergabung dalam tim ekonominya, saya sudah menduga bahwa kebijakan ekonomi Indonesia pasti akan terpengaruh oleh kebijakan Amerika, karena jelas-jelas saat itu Sri menjadi salah satu pejabat di IMF yang merupakan representasi kepentingan Negara besar seperti Amerika. Dan saat ini  bukti Sri Mulyani pro IMF kian kuat. Sinyalemen bahwa ada udang di balik batu dari upaya Menkeu Sri Mulyani memaksakan membuka suspensi saham PT Bumi Resources (BUMI) semakin kuat. Selama ini banyak kalangan menuding Sri Mulyani memiliki agenda besar untuk mengundang kembali Dana Moneter Internasional (IMF) ke Indonesia. Apalagi diperkuat oleh rangkap jabatan Sri Mulyani yang per awal September lalu ditunjuk menjadi salah satu anggota komite reformasi internal IMF

Rencana itu baru bisa terlaksana jika ada kesan ekonomi Indonesia sudah ambruk atau setidaknya mulai terimbas krisis global. Nah, untuk membuat ekonomi itu ambruk, Sri Mulyani dituding mencoba memanfaatkan celah di lantai bursa, dalam hal ini membuka kembali perdagangan saham berkapitalisasi besar milik kelompok Bakrie, PT Bumi Resources (BUMI).

Mengapa memilih saham BUMI yang ‘diacak-acak’? Selain kapitalisasinya besar dan waktu itu sedang disuspensi terkait kejatuhan harga sahamnya setelah Bakrie and Brothers (BNBR) menggadaikan saham BUMI untuk melunasi utangnya. Jika saham BUMI yang begitu besar kapitalisasinya dibuka kembali perdagangannya di tengah lesunya kondisi bursa, pasti bursa secara keseluruhan akan terseret jatuh. Ini yang dinilai sejumlah analis sebagai upaya Sri Mulyani untuk menjatuhkan bursa dan kemudian mengupayakan kedatangan kembali IMF.

Setelah beberapa waktu isu kedatangan kembali IMF ke Indonesia mengemuka, akhirnya ‘tamu tak diundang’ itu benar-benar akan datang. Secara terang-terangan, Dekeu Senin (17/11) mengumumkan bahwa Pemerintah Indonesia berhasil mengusulkan pinjaman IMF tanpa kondisionalitas dalam pertemuan negara-negara G20 di Washington 15 November 2008 lalu. Indonesia sendiri akan melakukan pinjaman dari IMF untuk neraca pembayaran (Balance of payment/BOP) APBN 2009 sebagai antisipasi terjadinya krisis ekonomi global.

Meski pinjaman itu nantinya tanpa kondisionalitas (LoI) namun itu tetap mengindikasikan bahwa indonesia akan terus berada dibawah ketiak IMF dan negara maju lainnya karena belum mampu lepas dari jerat Hutang. welcome to the trap of debt.

  1. November 20, 2008 pukul 10:52 pm

    kayaknya Indonesia mau ngundang Camdessus yang junior😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: