Beranda > Budaya, Change, Cinta, Kehidupan, Ngeblog, Pendidikan, Resensi buku > Aku Benci Film Laskar Pelangi

Aku Benci Film Laskar Pelangi

Kukutip dari Blog Must Gatot

Setelah berwiken-wiken tak kebagian antrian, akhirnya kesampaian jua lah keluarga togog menyaksikan film heboh tahun ini, Laskar Pelangi.

Tapi setelah nonton, Aku Benci film Laskar Pelangi!

Di saat selera pasar film kita (katanya) berkisar ‘paha dan payudara’ bersanding dengan ‘dunia klenik’, sungguh film Laskar Pelangi telah melakukan pelanggaran serius terhadap pakem selera pasar. Lha rak itu merupakan penghinaan terhadap intelektual penonton Indonesia, wong seleranya jelas-jelas film semacam ‘kutunggu jandamu’ hingga ‘pocong vs kuntilanak’ kok tega-teganya mba mira mbikin film yang indah. Lebih masalah lagi, kok Laskar Pelangi bisa laris manis tanjung kimpul ?!

Ya ! Aku Benci film Laskar Pelangi !

Lha wong cuman film kok, bisa-bisanya pejabat tinggi kita menangis terharu pas nonton. Tapi terus terang, togog kecil juga mengusap air mata ketika Lintang pamitan tak lagi mampu sekolah. Masyarakat kita memang melankolis poll, wong film yang cantik tentang persahabatan yang jujur kok malah bikin meneteskan air mata terharu. Tapi di Porong, ada puluhan ribu manusia yang menderita akibat lumpur, dan belum pernah terdengar ada pejabat yang mbrambang, apalagi sampai mbrebes mili menyaksikan kisah nyata tentang ketercerabutan puluhan ribu manusia dari lingkungan mereka. Itu kisah nyata lho, bukan film, dan rasanya ga bakal ada yang berminat mem-film-kan kisah ini. Film ternyata lebih bisa menyedot emosi tinimbang kenyataan hidup manusia. Benci aku !

Benar ! Aku Benci film Laskar Pelangi !

Kemiskinan itu begitu indah. Ya, mbak mira memang piawai mengambil sudut-sudut indah kemiskinan struktural. Saking indahnya, sampai-sampai kita sayang banget jika hendak mengentaskan manusia dari kemiskinan. Boro-boro mengentaskan yang miskin, penalangan konglomerat yang hampir bangkrut rasanya mendapat prioritas lebih tinggi. Apalagi mba mira lewat film ini mengajari kita untuk nda usah ikut mengentaskan orang miskin dari kemiskinan struktural, kisah perjuangan mereka mengentaskan diri dari kemiskinan jauh lebih indah tinimbang dientaskan oleh orang lain. Miskin aja bisa kuliah di sorbone lho walaupun dari beasiswa, dan itu jauh lebih menarik tinimbang kisah rombongan anak pejabat kuliah di Adelaide.

Sungguh, Aku Benci film Laskar Pelangi !

Gedung SD Muhammadiyah yang doyong disangga dua batang kayu itu sungguh cantik, membuat kita lupa bahwa di seputaran jabotabek ada puluhan gedung sd yang keadaannya tak jauh beda.

Suwer, Aku Benci film Laskar Pelangi !

Mosok ada film akhir 2008 tanpa dialog canggih macam “you say akyu”, “bechekh, ga adha ojekh”, apalagi makian fulgar ala sinetron. Dialog dengan logat melayu bitong itu terasa sangat jujur, menggelitik kuping. Yang lebih menjengkelkan lagi, akting anak-anak itu terasa jauh lebih wajar tinimbang sinetron yang menguasai jam tayang tivi. Tak ada teriakan yang berlebihan, tak ada raut muka yang dibuat-buat, tak ada mata melotot pura-pura marah.

Tapi, Jangan-jangan aku benci sama diriku sendiri, yang menyalahkan cermin retak bukannya wajah yang bopeng.

Kuakui, Bu Mus memang cantik😉

Bks, 20081120

togog_tejamantri <togog_tejamantri@…>

  1. November 22, 2008 pukul 5:23 pm

    mantap mas…

  2. November 22, 2008 pukul 6:58 pm

    waw.. amazing

  3. Yudhistira
    November 22, 2008 pukul 7:20 pm

    Maaf mas….
    ya boleh aja saudara benci…
    y kalo film itu, kan seorang ank berusaha mnjadikan kehidupannya lbh baikdari orang tuanya.namun apa yang terjadi…
    Bagaimana seandainya itu terjadi di saudara?
    Y kalo tentang lumpur lapindo, orang-orangnya ndak mau bersyukur.makanya ALLAH SWT menurunkan Azab-nya.
    Saya juga orang porong. tapi setelah kejadian ini, saya sadar, ALLAH sudah benar2 menurukan AZAB-nya.makanya g ada orang Indonesia yang mau nangis, atopun pejabat yang dateng ato naik kapal keliling lumpur.

    Nah kalo anda benci, itu salah…
    tapi hak setiap orang, ya ndak apa…
    makasih

  4. tio
    November 22, 2008 pukul 8:31 pm

    keprihatian mas terhadap kondisi yang ada di indonesia bukan suatu alasan untuk membenci hasil karya anak bangsa yang menjadi sebuah fenomena dalam kancah dunia entertain.
    saya tahu film itu karna saya sudah dua kali menontonya, banyak kok hal positif yang bisa dipetik dari alur cerita yang mengalir dalam film LP tersebut. kalau mas sampe membecinya, saya merasa heran tampa saya bermaksud membatasi hak mas sebagai mantan penonton film LP untuk berpendapat, masalahnya bandingan kejadian nyata yang dialami oleh masyaraka indonesia yang banyak mengalami keterpurukan saya pikir kurang proporsinal untuk menjadi alasan mas membenci film LP intinya konfer-nya ngawur.
    menurut saya sah-sah saja mas berpendapat demikian cuma kalau saya boleh berpendapat film LP merupakan film yg diangkat dari sebuah novel yang melahirkan kejadian luar biasa yang mampu menembus lintas sosial, agama, bahkan negara, jadi janganlah membeci hasil karya orang lain yang bisa dikatagorikan sebagai hasil karya cemerlang dan mampu memotivasi dan menjadi sebuah inspirasi bagi para tenaga pendidik untuk dapat bekerja sepenuh hati mendidik anak didiknya, dan bukan hanya tenaga pendidik saya yang telah ter inpirasi, para pegawai swasta lebih giat bekerja mahasiswa yang agak loyo seolah mendapat energi baru untuk meraih gelar Sarjananya, banyak lah mas segi psoitifnya.
    Kalaw boleh saya tantang mas, bisa ga mas membuat film atau novel yang mengangkat keterpurukan bangsa kita ini dan dengan peluncuran film itu bisa mengubah keadaan yang mampu memecahkan permasalahan bangsa? ayo ta tunggu hasil karyanya. trims

  5. Harry Simbolon
    November 22, 2008 pukul 8:44 pm

    @ Bedjo & Angga
    makasih mas sudah mampir kesini

    @ Yudhistira & Tio
    Sebaiknya cermati lebih detail dulu inti tulisannya mas. Alur cerita tulisan ini justru membanggakan film tersebut dengan seni penulisan yang terbalik. Tulisan ini justru lebih bermakna karena menyindir segi-segi kehidupan lain karena keunggulan dari Film laskar pelangi tersebut. Ngapain saya kutip kalau saya tidak suka dengan film itu.

    Sori kalau cara penulisannya malah membingungkan. Tapi itulah seni menulis.

    Regards,
    Harry Simbolon

  6. irham
    November 22, 2008 pukul 9:02 pm

    keren kang,
    tulisan anda mantap sekaliii…

  7. Tukul
    November 22, 2008 pukul 9:25 pm

    Betul sekali bung….kenyataan malah sering kita abaikan.Tapi paling tidak kita tau kalo sebenarnya sebagian besar orang indonesia itu berperasaan halus,gampang tersentuh hatinya.masih ada harapan untuk indonesia bung…semoga.

  8. November 23, 2008 pukul 2:09 am

    makin mantap aja lae blog mu ini
    dan makin kritis sekali dikau menulis lae

    sorry lama tak berkunjung ke blog lae
    lagi banyak urusan dan masalah dalam dunia nyata yang harus kuhadapi dan aku kadang bingung.

    lae bolehkah aku cerita atau minta pendapat tp lewat email yahhh

    Harry: Wah akhirnya ketemu lagi kita lae. Silahkan lae, Hubungi aja saya langsung via email harry_bolon@yahoo.com

  9. arsiparis
    November 23, 2008 pukul 7:14 am

    wek!>:(

  10. sabdalangit
    November 23, 2008 pukul 10:04 am

    Salam Kenal Mas..
    Blog perjalanan menyajikan kontemplasi yg bagus, namun kiasan-kiasan yg anda tampilkan ternyata tak jarang tidak ditangkap orang lain, padahal kiasan itu mudah dicerna, sekalipun oleh anak SMP. Yah begitulah, potret negri yg kekenyangan pragmatisme. Semua diartikan lugas pada kulitnya saja, orang menjadi enggan dan malas menggerakkan mesin otaknya untuk mencerna “makanan” yg agak berat sedikit.

    Saya paham kok, tulisan anda SATIRE, IRONIK, sebagai sindiran yg anda arahkan, BUKAN KEPADA FILM LASKAR PELANGI, TETAPI JUSTRU KEPADA REALITAS KHALAYAK DAN …PADA PARA PEMBACA. tapi sungguh bikin geli, karena yg disindir tidak merasa…hehehe. yaah..seperti halnya, bangsa ini memang kaya akan ilmu-ilmu spiritual, tapi sungguh sayang, masih miskin dalam PENCAPAIAN SPIRITUALNYA. ibarat ayam mati di lumbung padi. seperti pula, kebodohan di dalam gudang ilmu.

    SAY AKUI, ANDA MEMANG CERDIK !!

    Oh Ya, numpang share ya..mas

    http://sabdalangit.wordpress.com
    MEMBANGUN BUMI NUSANTARA YG BERBUDIPEKERTI LUHUR
    BACK TO LOCAL WISDOM ! JALAN SETAPAK MENGGAPAI SPIRITUALITAS TINGGI

    Harry: Terimakasih mas untuk dukungan penjelasannya. Penjelasan dari Anda sudah cukup merepresentasikan beberapa pembaca yang tidak mengerti kandungan tulisan ini.

  11. kijoi
    November 23, 2008 pukul 11:29 am

    Apa kamu benci Film Laskar Pelangi yang bagus itu anak bodoh orang desa.

    Harry:
    baca sekali lagi mas kijoi alur cerita artikel ini, jangan langsung berprasangka buruk. justru banyak kelebihan dari film itu terungkap dengan menyinggung aspek kehidupan lainnya. Disajikan dengan sentuhan seni penulisan.

    Awal saya mempublish tulisan ini, saya sudah menduga pasti banyak orang yang salah sangka

  12. November 23, 2008 pukul 11:40 am

    @ Yudhistira & Tio

    Baca mas, jangan berasumsi…

    Hobinya kok mencela orang lain..

    @ Mas Harry

    Dua jempol buat ente…

    Harry:
    Thanks manusiasuper

  13. mandala183
    November 23, 2008 pukul 12:30 pm

    Terkadang Film itu pembodohan
    Banyak film yang berkualitas yang lebih bisa membuka wawasan dan hiburan
    Jangan terlalu serius deh untuk Film..
    Hobby sekali nonton, hanya sedikit yang berkesan
    Laskar Pelangi : sangat biasa saja…

  14. November 23, 2008 pukul 1:49 pm

    Lucu!
    lucu bukunya, filmnya, juga tulisan ini, apalagi komentarnya. semuanya begitu lugu dan menggelikan.
    mungkin dengan tertawa, bukan lagi menangis, untuk menghadapi semuanya yang sudah berantakan.
    dan, kalimat pamungkas yang keren, buruk muka cermin retak disalahkan. cara kuno untuk menertawakan diri sendiri yang selalu ampuh.

  15. November 23, 2008 pukul 1:51 pm

    hmmm, kagum sama komentar sendiri. keren!

  16. November 23, 2008 pukul 1:53 pm

    banyak yang ndak paham yah.. hehe.. saya juga jadi benci sama tuh film, bikin inget kondisi indonesia yang sesungguhnya. LP itu cermin kita yang jernih, emang wajah kita bopeng2 kok, hehe…

  17. bbb
    November 23, 2008 pukul 1:55 pm

    mas..maaf ya…
    JANGAN NGOMONG GITU DONK…!!!!
    LASKAR PELANGI ITU BAGUS BANGET….
    MEMANG, KALAU MAS MAU MARAH ATAU BENCI GAK PAPA ASALKAN JANGAN NGOMONG SEGITUNYA DONK.BELUM BACA NOVELNYA?

  18. November 23, 2008 pukul 2:30 pm

    mksudnya?!!!!!
    gak connect dgn isi bacaan…

  19. Wira Santana
    November 23, 2008 pukul 5:04 pm

    hahaah… edan…, banyak yg salah mengartikan

    Kocok dl sblm d minum

    baca dl sblm protes

    mantabh mas tulisan na

  20. Ratu Adil Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu
    November 23, 2008 pukul 5:35 pm

    film jelek tu. jangan ditonton.

  21. debu
    November 23, 2008 pukul 6:04 pm

    mantab tenan tulisane… keren poll..
    bagi yang gk paham maksudnya… hmm.. baca lagi deh 2-3 kali lagi…

  22. amaharta
    November 23, 2008 pukul 6:32 pm

    weleh-weleh….itu simple aja…baca..resapi isinya..pahami maknanya….baru boleh komentar….use your left brain and be cool….

  23. mancung64
    November 23, 2008 pukul 7:21 pm

    Salam kenal. Mas harri yg sabar ya, mungkin beberapa pembaca yg kasih komentar disini, fans beratnya LP, jadi cuma baca judul aja tanpa baca isi tulisan langsung kasih komentar. Merasa tidak terima film kesayangan dibenci orang.

  24. Rudi Juan Carlos Sipahutar
    November 23, 2008 pukul 8:16 pm

    Cara Memuji yang Baik untuk di tiru…
    LASKAR PELANGI memang sebuah PELANGGARAN YANG MENGASSYIKKAN..
    SEBUAH PERBUATAN DOSA KESAYANGAN, SEBUAH PEMBERONTAKAN YANG DI NANTIKAN, SEBUAH RACUN YANG MENYEMBUHKAN…SEBUAH KARYA YANG SUNSANG DARI anak -anak negeri ” GOKIL”…(sadar kalo dirinya memang membuat sesuatu yg gila)
    saya fans berat tuh sama trilogi laskar pelangi,..(minus maryamah karpov)
    untuk film nya jga bagus walau tak sehebat bukunya..

    Pagi tadi saya di kejutkan sebuah kabar dari infotaiment
    Mas Andrea Hirata ternyata sdh punya istri tapi malah di pungkiri,
    Semoga saja hanya gosip..

  25. Harry Simbolon
    November 23, 2008 pukul 11:08 pm

    @ Irham
    Thanks sudah mampir mas, jangan terlalu disanjung ah…

    @ Tukul
    Yup, sepakat mas Tukul, pasti ada harapan untuk Indonesia

    @ arsiparis
    Wek juga🙂

    @ mandala183
    Pandangannya cukup bagus juga mas.

    @ om4gus
    Saya juga terkagum-kagum dengan komentar yang ada om4gus, dengan hanya sebuah film dan direpresentasikan dengan tulisan ini maka banyak khasanah lain akhirnya juga terungkap.

    @ shatsyup
    se ide kita mas🙂

    @ bbb
    Yang bilang jelek sapa mas/mbak?

    @ kodratsatlatuii
    yup, banyak yang malah bingung mas

    @ Wira Santana
    makasih mas

    @ Ratu Adil Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu
    wah, ada pendapat lain nih….

    @ debu & amaharta😉

    @ mancung64
    Salam kenal juga mas, gpp kok mas, saya sudah duga sebelumnya pasti banyak pembaca yang salah mengartikan.

    @ Rudi Juan Carlos Sipahutar
    wah, akhirnya mampir lagi kau lae, padahal dari dulu kutunggu-tunggu lae memberikan komentar. Dan ternyata aku baru tau nih kalau lae pemerhati infotainment juga rupanya🙂

  26. November 23, 2008 pukul 11:24 pm

    Hihihi… banyak yang nyolot begitu baca judulnya, ternyata… Padahal isinya mantap gini, menohok ego lagi…

  27. fen7bernadette
    November 24, 2008 pukul 12:14 am

    yach mudah2an film indonesia menjadi tuan dinegeri sendiri.

  28. November 24, 2008 pukul 12:37 am

    Saya suka dengan acting anak2 di film…
    Sangat natural…
    Jauh lebih natural dari Dian Sastro…
    Bahkan pemeran Bu Mus sendiri.. Cut Mini
    Mmg betul segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah akibat ulah kita sendiri.
    Kalau ingin marah, marahlah pada diri sendiri, apa yang sudah diperbuat sampai saudara kita di sana mengalami bencana yang begitu hebat.
    Semoga warga Porong bisa berkaca & memetik hikmah dari kejadian kemarin.

  29. evy
    November 24, 2008 pukul 8:50 am

    Mantap tulisanmu tuh Dek… maklum aja, masyarakat kita terlalu pintar, jadi hanya baca judul aja merasa sudah paham isinya padahal judul yang antagonis ini hendaknya membuat mereka membaca lebih detail, tp emosi lebih cepat berkembang… keep writing…. GBU

  30. November 24, 2008 pukul 10:38 am

    Tulisan yang keren

    *merenung*

    eh salam kenal😀

  31. Harry Simbolon
    November 24, 2008 pukul 7:58 pm

    @ Amed
    he… iya mas

    @ fen7bernadette
    Yup, sepakat mas.

    @ indriputri
    Bukan ke warga porong saja tulisan ini ditujukan mbak, tapi juga kepada pemerintah yang menelantarkan mereka.

    @ Evy
    ya begitulah kak, beberapa komentar tulisan ini cukup merepresentasikan bahwa masyarakat indonesia sangat melankolis dan paternalisitik, mengabaikan esensi pikiran dan logika kebanding label.

    @ och4mil4n
    salam kenal juga mbak, makasih sudah mamapir. btw gimana skripsinya? sudah selesai?

  32. November 25, 2008 pukul 6:39 pm

    membaca ini membuat saya tiba-tiba ingat saat Bu Mus di undang ke sekian kalinya ke Kick Andy dan diperlihatkan sejumlah kondisi sekolah (-pendidikan) di Papua dan tempat lain. Bu Mus terlihat kaget saat disampaikan bahwa itu terjadi SAAT INI, bukan puluhan tahun lalu saat episode Laskar Pelangi berjalan.

    mantabs…

    *tagged on: delicious*

  33. November 27, 2008 pukul 10:16 am

    Kenapa mesti ngejudge mbak mira lesmana? Kenapa bukan bang riri riza??

  34. simbolon_par_pahae
    November 28, 2008 pukul 11:38 am

    sebenarnya sih menurutku justu tulisan diatas justru menggambarkan bahwa Film Laskar Pelangi itu patut diacungi jempol tapi dari sudut pandang yang berbeda…itulah ironinya bangsa kita, ketika sesuatu diangkat kepermukaan yang lain pengen juga karena memang bangsa ini mempunyai banyak masalah di berbagai sendi-sendi kehidupan rakyat yang perlu diangkat .

  35. Desember 1, 2008 pukul 8:40 am

    Salut! Komentar yg tidak saya duga di balik hebohnya Laskar Pelangi. Saya setuju sekale dengan comment anda soal ini. Kebanyakan orang memang suka terkesima dalam sebuah sinema, tapi sering buta terhadap realita!

    Mereka nangis karena sebuah filem yang hanya berdurasi hingga 2 jam, namun tidak pernah menjerit terhadap filem kehidupan yang telah diputar ratusan bahkan jutaan tahun!

    Sungguh celakanya orang seperti itu! Salut sekali lagi😉

  36. Desember 1, 2008 pukul 11:05 pm

    GHila tulisannya.. kritis dengan cara yang berbeda.. brilian

  37. Desember 2, 2008 pukul 2:30 pm

    Wah judul dan isi yang menimbulkan kontrofersi…
    memang tulisan ini kudu dibaca dulu sampai habis, baru dicerna…
    btw… manteb….saya setuju dengan pemikiran dan tulisan anda…

  38. Harry Simbolon
    Desember 2, 2008 pukul 3:03 pm

    @ Pakacil
    Kondisi itu sebenarnya terjadi hampir merata di seluruh Indonesia, makanya dengan tulisan ini mata kita terbuka lebar terhadap realita.

    @ Tinz
    Saya pikir produser yang lebih bertanggung jawab mas.

    @ Simbolon_par_pahae
    Horas appara, setuju sekali

    @ Rasyid
    Film kehidupan… inilah yang saya harapkan kita tonton bersama, termasuk para pejabat pemerinah di Negeri ini. Thaks bro

    @ Sandi
    makasih Sandi

    @ Yulianbjm
    Itulah indahnya seni menulis mas. Terimakasih mas.

  39. Desember 4, 2008 pukul 9:04 pm

    nulisnya pake elmu apa mas….ampe ada yang (maaf..) mencret-mencret gitu..he.he.he…., anggap aja saya ikut membela mas, kl bisa bagi donk elmunya ………………..
    numpang *ikut ngasih jempol*……

  40. Desember 19, 2008 pukul 9:36 am

    lagi searching laskar pelangi, lalu nemu blog ini😀
    salam kenal

    Harry: salam kenal juga easy

  41. snaky
    Januari 12, 2009 pukul 1:20 am

    yang komentar “bodoh” disini.. menggambarkan siapa diri Anda sesungguhnya.. Anda memang bodoh beneran.. dan termasuk orang2 yg mudah di provokasi.. dan karena orang2 spt Anda ini, Indonesia jadi rusak.. hehehe.. peace..

    credit to : Yudhistira, tio, kijoi, bbb

    to mas simbolon : dua jempol..!! perubahan dimulai dari diri kita sendiri, karena perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi suatu perubahan (Ed Cole).

    Harry: Dari tulisan ini saya mengambil kesimpulan bahwa kita sangat gampang menyimpulkan sesuatu tanpa menelaah akar permasalahan itu sendiri, contohnya saja seperti banyak kasus provokasi di negeri ini, mayoritas kita sebenarnyakan hanya terpancing saja.

    Btw. makasih buat komentarnya mas. yes, we need to change

  42. vio
    Januari 25, 2009 pukul 9:41 am

    BENCI itu ambigu, pertama anda tidak suka terhadap sesuatu dan kedua anda benar – benar cinta pada laskar pelangi. Nah lho, Kawan, mana perasaan anda?

  43. Sandra
    Januari 25, 2009 pukul 3:54 pm

    Waduh…saya suka gaya tulisannya..satire…kritik yg bagus buat pemerintah dan masyarakat indonesia. Saya juga orang sidoarjo. Rumah saya kira2 jaraknya 4 km dari porong. Memang saya juga menyaksikan sendiri penderitaan korban lumpur porong. Saya sering menangis dlm hati kalo lewat pasar baru porong(tempat penampungan korban lumpur). Kasihan bgt..udah hampir 3 tahun tp ganti rugi yg dbrk blm jelas. Padahal sudah demo sampe ratusan kali. Sampe sekarang ganti rugi blm dibayar 100%. Apalagi dulu banyak yg stress gara2 ganti rugi blm dibayar. Rumah,sekolah, dan pabrik byk yg terendam. Anak2 harus terenggut masa perkembangannya krn tragedi lumpur. Dulu waktu saya masih kuliah dipsikologi unair. Memang ada project untuk memberikan recovery untuk krisis psikologis bagi anak2 korban lumpur. Karena itu sy jadi menyelami penderitaan mereka. Sekarang setelah pabrik byk yg terendam,tingkat pengangguran meningkat. Lumpur lapindo malah ramai jadi obyek wisata,padahal itu kan tragedi. Orang2 yg kehilangan pekerjaan akhirnya bekerja serabutan jadi penjual vcd lumpur,makanan,tukang ojek dll disekitar lumpur lapindo. Ironis memang kalo para pejabat sampe menitikkan air mata ketika nonton laskar pelangi. Tapi ada kejadian tragis yang lbh nyata disekitar mereka yg selama hampir 3 tahun belum selesai permasalahannya hiks..sori curhatnya jadi panjang

  44. Rehan
    April 10, 2009 pukul 1:54 pm

    wah,, mas,,
    jgan gthu donk,,,

    jangan asal kritik mas,,,
    film ithu malah bertujuan baek loh agar kita sadar,,
    biar byak bersyukur pa yg telah kita dapatkan,,,

    nah,, mas jga hruz bersyukur donk mas,,
    hruznya anda telah sdar,,
    sby ja nangis liat filem ithu?

    nah anda??
    malah ngeritik toh,,,,
    Karya anak bangsa yg satu ini emank luar biasa,,,,
    hruznya mas bersyukur ,, da karya anak bangsa yang bs melembutkan hati2 para penontonya agar sadar hidup ini hruz penuh dengan rasa syukur,,,,

    SADAR mas!!
    makasih!!

  45. Core
    April 18, 2009 pukul 4:01 am

    ngritik doang bisanya payah dah..jadi orang kritis amat..
    bikin lah.. jangan bla bla bla bla coba bikin film yang bisa mengubah indonesia seperti yang kau mau

  46. September 15, 2009 pukul 11:07 pm

    saya suka cara anda menulis…
    saya suka cara mereka menangis…
    saya suka pikiran anda yang kritis…
    saya bingung dengan comment ‘negatif’…untuk memahami yang sederhana ini sulit mendapat arti…apalagi hendak memahami persoalan bangsa yang kompleks dan tak kunjung habis…

    sahabatku sang penulis…
    melalui goresan bandwith internet berkecepatan ‘gerimis’…
    kusampaikan salam dari tanah papua yang penuh dengan keindahan eksotis…

    aku..guru yang tak berkumis…

    Harry: Terimakasih Bung, saya hanya menyampaikan ungkapan hati dengan media sastra yang begitu mempesona. Saya bermimpi suatu saat nanti bisa menikmati keindahan eksotis tanah papua. Semoga mimpi itu suaut saat bisa menjadi kenyataan. Maju terus kawan, Tuhan memberkati pelayananmu.

  1. November 21, 2008 pukul 6:57 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: