Kesal Sama Kantor Pusat

Malam itu aku baru saja pulang kerja, kulihat tetangga sebelah kamarku dari pintu kamarnya yang setengah terbuka sangat serius di depan laptopnya. Setelah mengganti bajuku kuhampirilah dia sambil bercengkrama ala anak kost. “Serius amat mas?” ujar ku. “iya nih kerjaan kantor, belum selesai tadi dikerjakan di kantor, deadline-nya besok harus sampai laporannya ke kantor pusat”,  Balasnya. Setelah ngobrol panjang lebar dengannya ternyata sering sekali ia jengkel karena perintah dari kantor pusat yang seenaknya saja.

Memang bukan kali itu saja kulihat dia membawa pekerjaan kantor tuk dikerjakan di kostan. Dan setiap aku ngobrol dengannya selalu saja dia mengumpat dan kesal dengan orang-orang di kantor pusatnya yang seenaknya saja memberi tugas dan memberi tenggang waktu laporan. “Heran saya sama orang pusat itu, apa ga ada kerjaan lagi mereka rupanya? Kadang cara mereka merintah seperti menganggap kita ini anak buahnya saja, padahal posisi dan jabatan kita sama kok, malah mereka lebih junior dari saya” kalimat seperti itu pun terucap dengan sedikit emosional darinya. Kalau ku perhatikan sebenarnya dia adalah orang pintar dan cerdas, lulusan universitas ternama lagi, hanya nasibnya saja ditempatkan di kantor cabang.

Memang dalam dunia bisnis hal ini sering terjadi. Bagi sebagian orang, kantor pusat dianggap sebagai tempat orang-orang yang paling pintar dan hebat, sementara karyawan yang di kantor cabang seperti prajurit perang garda depan yang siap berperang dan mati kapan saja. Bukan hanya itu saja, dalam beberapa kasus promosi jabatan selalu orang yang berada di kantor pusat lebih cepat menanjak karirnya. Padahal kalau dipikir-pikir lagi tanpa operasional kantor cabang maka kantor pusat tidak ada apa-apanya. Coba sekali-kali kantor cabang berkata: “biar kalian (kantor pusat.red) saja yang turun ke pasar, atau biar semua pelanggan complain kepada kalian sajalah”. Saya yakin kantor pusat pasti akan kelabakan. Sebaliknya kantor pusat pasti akan berkata: “untuk apa ada kantor cabang dan orang-orang seperti kalian dipekerjakan disana? Ya, inilah yang terjadi sekarang ini – dikotomi antara kantor pusat dan kantor cabang.

Beberapa hari lalu aku ngobrol dengan seorang teman yang baru saja di assessment untuk promosi jabatan di kantornya. “Bagaimana hasilnya pak, lulus ga?” tanyaku demikian. “apanya yang lulus, saya disana hanya sebagai objek pelengkap penderita saja, skenarionya sudah diatur, kantor pusat sudah menyiapkan orangnya kok, tapi dari pada malu, saya tunjukkan saja kemampuan saya kepada bos-bos itu” demikianlah jawabannya saat itu. Heran aku melihat kondisi dan realita yang terjadi megenai fenomena kantor pusat versus kantor cabang ini. Kepentingan pasti selalu ada, apalagi bagi kantor pusat yang dekat dengan pusat kekuasaan dan pengambilan keputusan. Tapi apakah kepentingan itu untuk tujuan bersama? Atau untuk kepentingan golongon atau kelompok geng saja. Dengan demikian yang menjadi kesimpulan banyak orang adalah bahwa terjadi perbedaan kasta antara karyawan di kantor pusat dan karyawan di kantor cabang.

Seorang temanku yang lain malah pernah berkata: “Saya berani di adu kompetensinya dengan orang-orang di kantor pusat itu, cuma kesempatannya saja yang tidak pernah ada, kalaupun ada tetap saja pilihan jatuh ke mereka-mereka juga”. itu adalah realita. Bagi kebanyakan perusahaan meski sistem pemberdayaan karyawaan diatur sedemikian rupa dengan canggihnya tetap saja faktor subjektivitas penilaian kinerja individu terus terjadi. Siap dekat dengan siapa, siapa komplotannya siapa, siapa gerbongnya siapa. itulah yang sering terjadi.

Dalam sebuah diskusi di sebuah milis saya sangat terkesima oleh pendapat seorang rekan yang mengatakan demikian:

Tidak selalu dalam sebuah system management yang effective, menggunakan metode top down [directional dari atas ke bawah, decision maker selalu management], tapi ada solusi yg direct ke inti permasalahan via bottom up, dimana si penemu masalah [biasanya bawahan] memberikan usulan ke atas untuk memecahkan suatu problem atau melakukan improvement. Hal ini didasari dari effektifnya dan cepatnya suatu masalah dan proses improvement yg tepat yg dilakukan oleh karyawan2 di Jepang [dengan pola 5R, genba, genbutsu, dll], tools yg banyak digunakan dalam management tidak melulu ‘waiting for direction’, tapi juga ‘proactive solution’ dari karyawan. Saya jadi inget lomba balapan F1 sama MotoGp, di era Rossi di Honda, tidak ada yg bisa ngalahin Honda, tapi ketika dia ‘hijrah’ ke Yamaha… apa yg terjadi… It’s not only about strategy, vision, action or bla bla bla… ini juga masalah ‘key person [decision maker] & key player’ Apa gunanya strategi bagus, jaringan kuat tapi tidak didukung oleh ‘key player‘ yg terbaik juga… [or kebalikannya]

Kebanyakan mindset teman-teman yang berada di kantor pusat beranggapan bahwa sebenarnya mereka bisa mengendalikan semua operasional dari kantor pusat melalui jenjang garis komando organisasi. Mereka lupa bahwa sering sekali analisa yang mereka lakukan tidak tepat karena tidak bersentuhan langsung dengan end user atau bahkan tidak tahu kondisi real pasar yang sebenarnya terjadi, kebanyakan mereka hanya tahu kulitnya saja. Atau saya ambil contoh seperti kuis kata berkait saja, sering sekali perintah yang disampaikan dari sumber tidak sampai dengan jelas dan benar kepada tujuan yang kita maksud. So, bagaimanapun key player menempati posisi penting disini.

Jika kita mau perusahaan maju mari hilangkan keegoisan dan arogansi kantor pusat kepada kantor cabang. Bersama-sama satukan tujuan demi kepentingan perusahaan, bukan sekedar kepentingan gerbongnya si A atau gerbongnya si B. Sebaiknya juga mutasi dan promosi dilakukan dengan adil: Bagi semua orang di kantor pusat dapat kapan saja dipindahkan ke kantor cabang, meski jauh sekalipun. Demikian juga sebaliknya semua orang di kantor cabang memilki kesempatan yang sama untuk pindah ke kantor pusat. Saya malah lebih setuju jika jenjang rekrutasi karyawan dimulai dari cabang, orang kantor cabang yang berpotensi kemudian di promosikan ke kantor regional, orang kantor regional yang berpotensi kemudian di promosikan ke kantor wilayah, dan orang kantor wilayah yang berpotensi di promosikan ke kantor pusat. Bukan seperti yang banyak terjadi sekarang ini: penerimaan karyawan baru yang masih ingusan lansung di tempatkan di kantor pusat. Padahal banyak orang di kantor cabang, kantor regional, maupun kantor wilayah menginginkan kursi kosong itu.

  1. Desember 16, 2008 pukul 4:30 pm

    wah, ini sepertinya curahan hari dari pihak yang berada pada sisi kegagalan dan kantor cabang. Karena situasi seperti itu saat ini sudah sangat jarang terjadi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: