Beranda > Diary, Kehidupan, Kristen, Rohani, Sosial Politik > Dari Plat BK Sampai Gus Dur

Dari Plat BK Sampai Gus Dur

Malam itu lelah sekali rasanya, Sepulang dari Jakarta, nyupir sendiri mobil kantor yang kupinjam, kusempatkan lagi mampir ke kantorku untuk memantau perkembangan renovasi interior gedung yang sedang dikerjakan ngebut karena besok pelayanan kantor harus tetap buka seperti biasa, sembari mengambil motor kebanggaanku yang kutitipkan di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, waktunya pulang pikirku. Ketika memasuki gang kostanku kubelokkan arah kemudi motorku karena melihat tukang sate ternyata masih jualan. Maklum anak kost, jam makannya berantakan. Nah disinilah kemudian cerita menarik ini terjadi.

Sebelumnya aku mau menceritkan sejenak kisah motor kebanggaanku itu.  Aku menyebutnya plat BK. Honda Supra Fit tahun 2004, masih berplat asli Sumatera Timur – BK. Motor ini sangat setia menemaniku mulai dari masa mahasiswa, menganggur, mencari kerja, dan bekerja sampai sekarang. Motor ini sudah melintasi beberapa provinsi dan kota di Indonesia, mulai dari Medan, kemudian melintasi sepanjang jalan tintas tengah Sumatera, mampir beberapa tahun di Lampung, kemudian tiba di Jakarta menemaniku mencari dan bekerja, dan sampai saat ini parkir agak lama di Sukabumi. Di atas motor ini pula beberapa wanita yang pernah kusukai meninggalkan kesannya, bahkan kekasihku yang sekarang inipun pdkt-nya oleh si plat BK ini :)  Dulu motor ini dengan setia membantuku menyelesaikan skripsiku, dan akupun berharap dia juga akan setia menemaniku menyelesaikan Thesis S2 ku. Dulu si plat BK ini sangat setia menemaniku mencari pekerjaan, interview, psikotest, sekarang ketika aku sudah mendapat pekerjaan mapan aku kan terus setia bersamanya. Di kala teman-temanku sudah memiliki moge (motor gede.red) dan gonta-ganti mobil. Aku masih tetap setia menggunakan motor kebanggaanku ini.

plat-bk

Cerita di malam itu dimulai ketika sang penjual sate menanyakan asal plat motorku, karena mungkin tidak pernah dilihatnya ada plat motor seperti itu. Memang dasarnya akunya saja yang suka berdiskusi, setelah kukatakan kalau motor ini berasal dari Medan kamipun akhirnya bercerita panjang lebar, salut aku dengan bapak penjual sate itu, meski tukang sate wawasannya sangat luas sekali, mulai dari hal perbandingan agama, sosial, ekonomi, sampai kepada politik, hampir mantap dikuasainya dengan lugas.

Hal yang patut kuacungkan jempol pada tukang sate itu adalah keberpihakannya pada kemajemukan, kebenciannya pada pembenaran agama untuk melakukan kekerasan, ketidak setujuannya dengan kemunafikan tokoh termasuk partai politik, kritiknya terhadap banyak tokoh agama yang tidak menggunakan ilmu tafsir, dan persetujuannya atas toleransi umat. Jarang sekali aku menemukan orang yang memiliki wawasan moderat seperti itu. Semua diskusi menarik itu dimulai oleh motor plat BK kebangganku ini. Motor yang selalu memberikan kesan dan pengalaman kemanapun dia kubawa serta. Jujur melalui diskusi panjang itu wawasankupun semakin terbuka lebar.

Karena penasaran, kucoba telusuri lebih jauh  latar belakang sang tukang sate itu, akhirnya ku tahu kalau dia adalah mantan aktivis GP Ansor yang akhirnya kemudian memilih untuk berwirausaha. Maka wajar saja kalau pemikirannya mewakili pemikiran Gus Dur – Sang guru bangsa. Kuceritakan padanya satu peristiwa kekagumanku pada mantan oraganisasinya itu. Dulu ketika mahasiswa, gerejaku di Lampung pernah didatangi serombongan pemuda dengan atribut GP Ansor. Kami semua di dalam gereja waswas ketakukan kalau-kalau terjadi keributan, eh… ternyata dugaan kami itu salah besar, mereka datang bukan untuk keributan tapi menawarkan diri untuk menjadi pengaman selama ibadah belangsung. Applause to GP Ansor. Dan cerita kami pun terus berlanjut dengan asiknya dengan membahas topik apa saja.

Kulihat jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul 1pagi  lebih, sate yang tadinya kupesan untuk dibungkuskan itupun sepertinya juga sudah dingin. Dengan mengucapkan terimakasih kepada sang bapak atas diskusi yang sangat menarik dan menambah wawasanku itu akhirnya aku mohon izin untuk pamit pulang.

Terimakasih plat BK atas satu kisah menarik lagi dalam perjanalan hidupku ini. Aku menunggu kisah menarik lainnya bersamamu.

  1. Desember 21, 2008 pukul 10:36 pm

    memang beberapa pihak, bisa dibilang sangat menyebalkan, anti kemajemukan mentang mentang mayoritas

    –sampai sekarang saya ndak paham sama yang menganggap mengucapkan selamat hari raya ke agama lain itu haram. sungguh menyebalkan!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: