Beranda > Diary, Ekonomi, Kristen, Opini, Rohani > Gereja Terimbas Krisis Global

Gereja Terimbas Krisis Global

Krisis ekonomi yang melanda hampir seluruh belahan bumi seperti air bah yang siap merongrong kehidupan masyarakat dunia. Tidak hanya sektor rill yang diluluh lantahkannya tetapi juga moral masyarakat yang hancur lebur karena ekonomi sudah semakin berat. Dan tak ayal kalau hal ini pula terjadi pada lembaga keagamaan seperti gereja.

Ya seperti itulah salah satu kutipan yang ku simak dalam salah satu siaran radio swasta di Jakarta.

Lalu nalarku mulai bertanya-tanya: Berarti Gereja tak ubahnya entitias bisnis yang sangat terpengaruh oleh para stakeholdernya dong. Ketika para stakeholder koleps maka gereja juga akan koleps. Kalau begitu yang terjadi “hancur minah”. Gereja bukan lagi lembaga suci yang hanya bernaung dibawah kepentingan yang Maha Kuasa.

Tertawa ku kemudian, dalam hatiku… secara konsep hal ini sebenarnya sudah lama terjadi. Banyak gereja yang mendewakan beberapa donatur besar yang selalu memberikan sumbangan kepada gereja. Al hasil yang diikuti bukanlah kepentingan umat, tapi kepentingan sang donatur. Donatur gereja seperti pemegang saham yang berhak mengambil keputusan layaknya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) saja.

Pemasukan menipis, gereja sebisa mungkin meraup tambahan dana dengan menggelar lelang, proposal pembangunan, kantong persembahan diperbanyak, dll apalah itu namanya. Sang pemimpin jemaat pun sudah seperti direktur saja yang mengarahkan penggembalaannya untuk meraup pendapatan, karena baginya gereja merupakan revenue center. Lagi-lagi hancur minah…

Kemudian ku berpaling pada kiprah mereka dalam penggembalaan jemat, lagi-lagi aku kecewa dengan  mereka. Pemimpin Jemaat sudah meninggalkan jalurnya, mereka lebih memilih menjadi politikus, legislative, pengusaha, dll. Dengan dalil untuk kepentingan umat juga, membela jemaat yang minoritas. Namun bagiku itu nonsense. Yang lebih mereka pikirkan adalah kepentingan pribadi dan golongan. Jemaat yang ingin pengembalaan pastoral tidak bisa lagi, jemaat tidak bisa konsultasi lagi dengan leluasa dengan mereka, apalagi inisiatif sang pemimpin jemaat yang mau mengunjungi rumah jemaatnya hanya untuk sekedar berbagi.

Talkshow di radio itu memang hanya sekedar mengkait-kaitkan fenomena krisis ekonomi global dengan gereja. Meski bagiku itu adalah kebodohan besar, masak gereja dianggap seperti perusahaan. Namun dengan sedikit tertawa geli, sebenarnya aku mengiyakan juga kenyataan itu. Wong prakteknya bisa kita lihat sendiri kok.

Hatiku pun bertanya-tanya kemudian, jangan-jangan sang narasumber dalam talkshow di radio itu pun salah satu diantaranya, atau jangan-jangan sekedar seperti saya yang hanya bisa mengkiritisi fenomena yang ada. Kataku dalam hati kemudian: “ngapain sewot gue ya, urusin aja pekerjaanmu sendiri”. Ah, dari pada pusing memikirkannya lebih asik kalau channel radio mobilku kuganti saja dengan musik country atau rockI Love You Bebeh..

  1. November 27, 2008 pukul 2:02 am

    Menurut saya justru ketika dunia dilanda krisis global gereja harus mampu memberi jalan keluar, termasuk pemberdayaan ekonomi jemaat.

    eniwei…kalo akibat krisis global dunia mempengaruhi isi dompet, itu aku setuju he..he..

    Salut atas tulisannya lae…

    Harry: Wah Pendetanya langsung nih yang memberi komentar🙂 setuju amang, saya sih berharap gereja itu bukan saja sekedar tempat beribadah, sermon, PA, dan latihan koor, sebaiknya juga sebagai tempat pemberdayaan ekonomi jemaat. Jemaat dilatih cara berwirausaha, dukungan modal kerja, dll.

  2. John Jeshurun
    Desember 2, 2008 pukul 12:27 pm

    Nice blog!

    Analogi yang bagus, gereja mirip dengan company. Sungguh ironis.

    Krisis Global! Dampaknya pasti kena Indonesia juga.

    Jujur ini memang berat, buktinya ‘ahli-ahli dan ekonom AS& Eropa’ juga ga mampu mengatasi gelombang resesi ini. Collaps juga.

    “Tuhan kiranya bangkitkan Yusuf-Yusuf yang berdiri dan memberi solusi…”

    Bless u Bro!

    Harry: Thanks for the comment bro. Itulah fenomena yang terjadi sekarang, banyak pemimpin jemaat yang tidak lagi berlandaskan Panggilan dalam mengerjakan pelayanannya.

  3. Desember 2, 2008 pukul 2:51 pm

    Sebenarnya simpel saja lae, ga perlu ada riset atau nara sumber di media, apakah ada dampak krisis global atau tidak? kita lihat aja laporan pemasukan setiap minggunya bertambah atau makin menurun? simpel kan. ha.haha….

    http://www.lintongnababan.wordpress.com

    Harry: yup, benar sekali lae. Cuma sayangnya laporan pemasukan dan pengeluaran Gereja tidak pernah dalam bentuk time series atau grafik..he..he..

  4. Desember 5, 2008 pukul 1:15 pm

    Syukurnya aku bukan jemaat gereja yang nota bene sering mengandalkan donatur2 utk urusan gereja. Sejauh ini sih Puji Tuhan tidak mengalami hal seperti itu, ya karena memang ga ada hubungan krisis global dengan kondisi pelayanan gereja. Yang ada malah dari pihak gereje kami mendata setiap umatnya yang kurang mampu untuk diberikan bantuan pendidikan dan kesehatan buat mereka. Kalo anak mereka sekolah di yayasan gereja itu dan orangtua nya kurang mampu yang ada uang sekolahnya tidak sama dengan uang sekolah orang kaya. Pada hal pendidikan yg didapatkan sama. Kalo anaknya sekolah diluar yayasan gereja diberikan langsung tunjangan pendidikan. Untuk kesehatan yayasan gereja punya klinik, dan umat bisa barobat disana dengan hanya bayar 10.000 – 15.000 saja itu sudah sama dokter dan obatnya. Dokternya pun dokter dari Atmajaya dan Carolus. Dan uang yg diberi ke umat yang kurang mampu itu dikelola dari persembahan umat dan sebagian dari donatur yang seringkali tidak mau disebutkan namanya karena misinya hanyalah untuk berbagi dengan sesama umat yang kurang mampu, dan masih banyak pelayanan yg sering dilakukan umat untuk menambah kas yayasan gereja kami. Dan saya berharap janganlah sampai pihak yayasan kami juga mengandalkan donatur biar tidak terjadi hal seperti tulisan ito diatas. Semoga hal seperti ini juga bisa diterpakan digereja2 lain biar kita kristen ini ga terkesan serba duit dan serba mewah.

  5. Desember 5, 2008 pukul 1:35 pm

    Saya juga punya pengalaman yg mengecewakan ito waktu mendengar salah satu stasiun radio kristen tanya jawab antara pembawa acara dengan seorang pendeta tentang makna natal dan waktu perayaannya. Ketika itu ada yang bertanya kenapa sebagian kristen merayakan natal setelah tanggal 25 Desembar? Dan sang pendeta menjawab mereka itu adalah orang bodoh. Terus terang aku kecewa dengan jawaban itu, karena yang aku tau peraturan gereja Khatolik memang seperti itu, karena 4minggu sebelum 25 desember itu adalah masa advent (masa penantian) dan yang dinanti itu tgl 25 nya. Sebenarnya bukan ga boleh secara pribadi merayakan sebelum 25 Desember tapi secara ibadah di gereja memang begitu. Karena mengikuti ibadah masa advent. Berarti sang pendeta sudah menganggap seluruh umat Khatolik di dunia ini adalah orang bodoh. Harusnya sebagai pendeta yang bijak bisa dong bilang mungkin itu peraturan gerejenya merayakan natal sesudah tgl 25 cukup kan? Aku yakin karena sang pendeta itu cukup tersohor dinegri ini jadi banyak orang yg mendengarkan siaran itu menganggap orang Khatolik itu memang orang bodoh. Yang aku sesalkan kenapa dari pihak radio ga beri batas2 san ketika ada tanya jawab seperti itu agar tidak sampai menyinggung perasaan agama lain? Emangnya radio itu hanya diperuntukkan didengarkan orang protestan? Semenjak itu ito aku jadi ga pernah lagi setel stasiun radio itu. Gimana merekan mau menghormati agama diluar kristen sedangkan yang masih sama2 kristen aja masih saling memojokkan. Untung masih umat kristen yg disinggung, coba kalau umat lain haaaa…..berabe urusannya. gimana mau hidup berdampingan kalo selalu merasa dirinya yang paling benar.

  6. Desember 26, 2008 pukul 10:46 am

    Yah, sayangnya sekarang ini banyak sekali gereja yang di pakai sebagai profit center. Saya melihat itu menjadi mengelus dada, dari para aktivis sampe ke majelis hanya meeting melulu tanpa ada hasilnya, tanpa ada kasih ke luar gereja… entah bagaimana gereja di masa mendatang. Balik yuk ke ajaran Kristus yang murni… saling mengasihi dan menolong sesama manusia… Kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi diri kamu sendiri…

  7. Agustus 15, 2010 pukul 5:09 pm

    Heheh artikelnya nonbjok alus ne heheheh

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: