Beranda > Kehidupan, Kristen, Puisi, Rohani > Aku Tidak Mau Merayakan Natal

Aku Tidak Mau Merayakan Natal

Desember telah tiba, bagi umat kristiani bulan ini merupakan bulan rhema atas peringatakan kelahiran Sang Juru selamat, meski tanggal 25 Desember hanya merupakan sebuah konsesus belaka atas kelahiran-Nya – bukan tanggal kelahiran yang sebenarnya, namun di bulan ini banyak umat kristiani yang kembali diingatkan oleh Sang Khalik, kembali datang ke gereja, berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar, saling memaafkan satu sama lain, memimpin doa keluarga, mendirikan pohon natal beserta hiasannya yang yang sangat indah serta lampu yang bergemerlapan, membersihkan rumah dan pekarangan, membuat kue, membeli baju baru, dan lain sebagainya. Itu semua adalah rutinitas yang kita lakukan setiap musim natal tiba.

Malah sebagian orang menambahkannya dengan perayaan yang menyimpang seperti mabuk-mabukan, pesta pora, pesta seks, dan sebagainya. Itulah realita sekarang, Aku tidak tahu bagaimana berdukanya Tuhan melihat semua tingkah laku ciptaan-Nya itu di dunia ini. Lantas untuk apa natal perlu diperingati dan dirayakan jika hanya sekedar rutinitas dan perbuatan yang menyimpang itu? Akupun sebenarnya tidak mau merayakannya.

Untuk apa aku merayakan natal sementara hatiku tidak damai,

Aku menganggap diriku seorang kristiani yang taat kepada Firman-Nya, sementara hidupku penuh dengan kemunafikan. Di depan orang banyak aku tampil seperti seorang malaikat dengan perangaiku yang elok, padahal sebenarnya hatiku berontak. Apalagi aku adalah seorang pelayan yang di mata teman-teman dan jemaat gereja/persekutuanku dikagumi dan dihormati, sebisa mungkin aku tampil bersih di hadapan mereka. Tetapi sebenarnya jiwa ini ingin teriak dan mengatakan aku ingin menjadi diriku sendiri.

Untuk apa aku merayakannya jika Sang Anak yang lahir itu tidak hadir di dalam hatiku,

Dengan lantang melalui mulutku, aku ikrarkan bahwa aku adalah pengikut-Nya, setia kepada-Nya, dan selalu menjadi pengikut yang meneladani-Nya. Tetapi sebenarnya itu hanyalah lips style ku saja. Aku tidak sungguh-sungguh menghadirkannya di dalam hidupku. Jangankan mengundang-Nya hadir, menyediakan waktu khusus untuk-Nya saja dalam doa pribadi dan saat teduh aku tidak pernah sempat.

Untuk apa aku memperingatinya jika aku tidak mau membiarkan-Nya bekerja di dalamku,

Terkadang memang aku kembali menghampiri-Nya, apalagi ketika masalah menimpaku, bagiku Dia seperti pembantuku, yang kapan saja ketika aku butuh saja aku meminta bantuan-Nya. Aku lupa bahwa aku punya mandat untuk melayani-Nya dan menyebarkan firman-Nya melalui kesaksian hidupku. Bagaimana aku bisa memberikan kesaksian hidup yang baik, jika kendali hidupku saja tidak mau kuserahkan kepada-Nya.

Dan untuk apa aku menyemarakkannya jika kehidupan lamaku belum kubuang jauh-jauh.

Aku mengaku telah lahir baru, menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadiku, aku menyatakan bahwa aku adalah pelayan-Nya, alat-Nya yang siap sedia kapanpun dan dimanapun bekerja bagi-Nya. Namun nyatanya aku masih lebih mencintai kebiasaan lamaku, kedaginganku: cinta uang, keserakahan, kemarahan, iri hati, egois, perselisihan, kedengkian, dan sebagainya.

Apa artinya aku melakukan semua ini kalau ternyata aku belum berdamai dengan diriku sendiri, berdamai dengan orang-orang di sekitarku, sehingga kemudian aku bisa berdamai dengan-Nya. Inilah yang membuatku yakin untuk tidak merayakan kelahiran-Nya. Karena bagiku natal itu seperti lonceng, dia dikatakan natal jia dia mengeluarkan suara yang berdentang keras dan merdu, dan menurutku aku belum dapat memancarkan suara-Nya yang merdu itu…

  1. Rudi Juan Carlos
    Desember 17, 2008 pukul 4:45 pm

    DIA telah datang dan tetap akan datang menembus dinding dan tembok tradisi, melintasi karang -karang terjal keserakahan, kesombongan, kemiskinan, dan juga kehampaan hati.
    DIA akan datang untuk menghampiri pelacur, pemabuk, penipu dan koruptor
    DIA akan merangkul para pejabat teras, hakim,jaksa dan raja-raja kecil yang sewenang-wenang.

    DIA dapat hadir melintas RUANG dan dimensi WAKTU
    OMNIPRESENT, DIA dapat HADIR di mana-mana ; di sini, di sana, dan di situ.
    TApi tetap harus seturut waktu NYA ;kemarin, hari ini, nanti, besok, lusa dst

    Maka NATAL hanya menunggu WAKTU Nya.

  2. Desember 19, 2008 pukul 1:28 am

    Selamat natal lae…
    Tuhan tetap cinta kita bagaimanapun kita adanya…

    horas,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

  3. Desember 19, 2008 pukul 11:59 pm

    wahhh bagus banget tulisanmu ini lae kena banget denganku
    aku jg merasa tidak merayakan natal. karena aku tidak mendapatkan kedamaian di hatiku. aku merasa Tuhan tidak mendengarkan doaku. aku merasa natal hanyalah sebagai ceremonial belaka bagiku. hanya pamer baju baru, clena baru pokoknya luar saja dlamnya tidak. sudah hampir 4 tahun aku merasa begini. permaslahan yang sama dari tahun ke tahun telah aku rasakan tapi tidak bisa diselesaikan bahkan aku merasa sudah capek berdoa tp tetap tidak terselesaikan/terjawab. bahkan selama 1 tahun ini aku ga mau ke gereja hanya kemarin aja aku ke gereja itupun karna anakku natalan aja.

    terkadang aku muak dengan hidupku kadang jg aku merasa menyesal dilahirkan kedunia dengan keadaan begini.

    ingin aku cerita ke lae. tp aku lupa emailmu lae

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: