Narsisme Politik

Akhir-akhir ini hampir di setiap tempat, tidak hanya di televisi, di koran, maupun di pinggir jalan, tetapi juga di dinding rumah atau malah tempat yang tidak kita duga sekalipun (seperti di atas pohon dan di tengah sungai) semuanya dipenuhi oleh gambar orang-orang yang mengaku dirinya sebagai calon wakil rakyat.

Iseng-iseng saya memperhatikan secara detail poster dan baliho beberapa orang calon, ternyata isinya sama sekali tidak memikat hati saya, meski ada embel-embel gelar akademis maupun agama yang panjang sekalipun di belakang namanya toh itu sama sekali tidak menggugah hati saya. Karena semuanya itu menurut saya hanyalah bentuk narsisme belaka.

Coba kita tanya pada calon tersebut, Apa yang sudah kamu buat? Janganlah langsung untuk Negara ini, atau untuk daerah si calon yang bersangkutan, tapi minimal untuk lingkungan dan keluargamu, apa yang sudah kau perbuat? Kalau ada, tunjukkan itu di dalam spandukmu. Kalau tidak ada, jangan merasa wakil rakyat dong. Jangan merasa bisa melakukan hal besar untuk bangsa ini kalau ternyata hal kecil saja tidak pernah kau laukan.

Bermodal tampang keren dan kocek yang lumayan besar untuk memajang fotonya dimana-mana. Mengaku-ngaku sebagai orang yang paling berkepentingan memperjuangakan kepentingan rakyat. Padahal dalam hatiku tahu apa sih dia mengenai rakyat, toh yang dikejarnya hanyalah uang dan kekuasaan belaka. Lihat saja nanti misalkan dia terpilih selang beberapa saat pasti kasus hukum menghampirinya.

Setiap calon wakil rakyat yang ada hanya memamerkan dirinya saja, menganggap dirinyalah yang paling layak untuk dipilih, padahal bersentuhan dengan dunia politik real saja baru kali ini dicobanya. Mereka beranggapan bisa mendongkrak suara dan ketenaran di mata masyarakat, bisa menaikkan derajat keluarga, bisa menaikkan personal value. Itu artinya orang-orang seperti ini sedang bersolek di panggung politik.

Yang lebih menggelitik hatiku ada beberapa calon yang memajang foto Orang Tuanya (keluarganya) yang jauh lebih terkenal darinya (dengan gelar Doktor, Profesor, KH, Pdt, plus jabatan Bapaknya dulu, dlsb) agar ikut kecipratan terkenal. Beberapa calon yang lain lebih suka memajang ketua umum partainya, atau rekan separtainya yang lebih terkenal agar ikut-ikutan bisa terkenal. Dalam hatiku: “orang ini kelewatan banget ya, berdiri diatas ketenaran orang lain, tidak punya modal, tidak bisakah dia berusaha sendiri”

Poster/baliho/spanduk atau apapun media promosi yang digunakan calon itu hanya memajangkan foto dan nomor urut si calon itu saja. Sama sekali tidak ada visi misi, program yang akan dilaksanakannya, atau sesuatu yang ingin diperjuangkannya kelak. Itu artinya media promosi itu mau mengatakan kepada kita semua bahwa kita adalah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Ini foto saya, ini nomor urut saya, kamu tinggal pilih saja ya. Ini sama dengan pembodohan bangsa. Orang yang akan kita sebut intelektual bangsa malah membodohkan konstituennya.

Gejala narsisme politik ini semakin diperparah setelah dibukanya keran suara terbanyak oleh Mahkamah Konstitusi. Setiap calon punya kesempatan yang sama untuk duduk di kursi parlemen, meski partainya sendiri yang notabene paling tahu kualitas calon yang bersangkutan telah mengurutkan calon bersangkutan berdasarkan sekala prioritas toh calon tersebut tetap merasa dirinya adalah orang yang terbaik diantara semua calon. Bukankah ini juga disebut narsisme yang egois?

Lelah mata kita melihat begitu banyak foto-foto orang dengan bermacam-macam warna, Bahkan merusak keindahan tata kota yang ada. Bayangkan saja Gapura selamat datang suatu kota malah tertutup rapat oleh gambar seorang calon, pohon-pohon rindang dan dinding bangunan yang dicat rapi kini tampak kusam dengan spanduk dan poster yang ditempel sembarangan, marka jalan yang seharusnya menunjukkan arah malah membingungkan pengemudi karena tertutup rapat oleh gambar orang yang tak tahu diri. Belum lagi kendaraan umum yang membingungkan karena arah dan tujuannya tidak jelas oleh karena poster sang calon. Mengapa semua ini terjadi?

Wahai calon wakil rakyat dimanakah pikiranmu, hanya untuk memperkenalkan mukamu kau rela mengabaikan hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar tampangmu yang tak ada artinya itu.

Wahai calon wakil rakyat dimanakah hatimu, kau rela menghabiskan uangmu begitu banyaknya hanya untuk memajangkan fotomu dimana-mana, sementara banyak rakyat yang jauh lebih membutuhkan uangmu itu hanya demi sesuap nasi.

Wahai calon wakil rakyat dimanakah perasaanmu, kau merasa diri pintar, cerdas, dan paling pantas dipilih untuk menjadi wakil rakyat, padahal rakyatmu sendiri bilang kalau kau adalah orang yang paling bodoh – lebih bodoh dari mereka.

  1. Martin_Black_Shadow
    Januari 19, 2009 pukul 5:09 pm

    Saya Sependapat, Betapa Bobroknya Politik Indonesia dengan semakin banyaknya Partai yang pada dasarnya hanya mementingkan materi yang di dapat dari mendirikan partai saja. Dan betapa bobroknya Kita dimana kita tau pada akhirnya mereka akan berkoalisi untuk memperebutkan Kursi Politik. Dan saya sangat sependapat Betapa kejamnya Politik Indonesia, yang hanya bertamengkan Jiwa patrionisme, bertamengkan demokrasi toh pada akhirnya semua itu hanya untuk mensengsarakan rakyat. Siapa yang punya duit dia yang akan menjadi angota DEWAN. Dan siapa yang berpengaruh “Premanisme” juga bisa jadi anggota DEWAN. Mau di kemanakan Indonesia KIta.. Dengan mereka2 yang hanya duduk disana dan hanya berfikir uang sidang, fasilitas dan keuntungan2 lainnya. Mau Dikemanakan Indonesia ini Dengan emosionalnya mereka berani di depan publik berkelahi seperti premanisme “Toh Mereka Preman”. Dan Mau dikemanakan Indonesia ini toh mereka setelah duduk sebagai anggota dewan bakal akan memikirkan Keuntunagn Pribadi dari Undang-Undang yang mereka buat yang tidak ada untungnya buat Rakyat.

    Harry: Setuju sekali dengan pendapat Anda

  2. Januari 20, 2009 pukul 10:31 am

    Saya coba menarik minat para caleg untuk bisa berdiskusi dengan membuka forum Suara Rakyat. http://infocaleg.com/forum/

    mari kita sama2 tanya ke mereka, apa yg menjadi program dan mengapa kita harus memilih?

  3. Januari 20, 2009 pukul 12:10 pm

    thanks, udah diingatkan dengan artikel sampeyan.

  4. jeperis
    Januari 21, 2009 pukul 11:42 am

    Setuju dengan pemikiranmu, pra. Hal inilah yang sering ada dalam benakku.
    Sukses selalu ya..

    Harry: Terimaksih pra

  5. Januari 21, 2009 pukul 2:32 pm

    Wah..wah..berat bow…bahasanya…:p
    gw mah ngangguk2 aja dah…:p

    keren..keren…(tuLisan na :p)
    peace….

    Harry: Peace ah…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: