Beranda > Diary, Kehidupan, Kisah Nyata > Akhirnya Jagoan Itu Tumbang Juga

Akhirnya Jagoan Itu Tumbang Juga

Semenjak Kecil dia sudah dididik dengan keras oleh orang tua dan abangnya, ditambah dengan kerasnya kehidupan yang harus dia lalui di masa kecil sampai remaja mau tidak mau membuatnya harus ikut keras menghadapi semuanya itu. Menjadi anak yang suka berkelahi dikala kecilnya, memiliki jiwa pemberontak terlebih kepada orang tua dan abangnya, dan lebih banyak belajar dari pengalaman dan pergaulan.

Terlibat aktif dalam beladiri Taekwondo malah mengantarkannya menjadi remaja yang sok dan anggar jago. Tapi untungnya disaat itu pula dia mulai menggandrungi kegiatan pramuka. Di organisasi yang terakhir inilah dia belajar banyak hal tentang kehidupan, tentang kepemimpinan, dan tentang alam. Entah kenapa, meski dikatakan bandel tapi dia menyukai kegiatan pramuka yang menyebalkan itu. Pun demikian kearogansiannya menjadi semakin menjadi-jadi, merasa dirinya yang paling hebat dan jagoan.

Beberapa organisasi yang dekat dengan “kekerasan” lainnya ikut digelutinya seperti pecinta alam, patroli keamanan sekolah, paskibra, belum lagi keikut sertaannya di gang motor yang semakin membuatnya menjadi brutal, dan siap mati kapan saja ketika menjadi joki balapan di jalan raya. Semua itu semakin membuat karakternya semakin keras, meskipun sebenarnya dia mewarisi sifat melankolis, sepertinya dia enjoy saja dengan kondisi yang seperti itu. Sangkin sibuknya dengan semua kegiatan itu hampir-hampir dia tidak pernah meluangkan waktu untuk rumah dan keluarganya. Rumah baginya hanya sekedar tempat membaringkan badan saja.

Untung saja dia mewarisi gen cerdas dari orang tuanya, meski bandel dan suka berantem prestasi di sekolahnya tetap bagus, malah saat SMA dia masuk ke kelas unggulan karena memiliki NEM SMP tertinggi. Demikian juga nantinya dia bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri, lulus dengan waktu cepat dan dengan IPK Cum laude lagi. Selama mahasiswapun biaya kuliahnya semua dibantu beasiswa, karena NEM SMAnya tertinggi dan IPnya selalu stabil. Dan sekarang mudah-mudahan Gelar Master (S2) sudah siap menantinya.

Aku menyebutnya dengan sebutan jagoan, karena dia merasa sok jagoan dan merasa paling bisa akan semua hal, bahkan kedua orang tua dan abangnya pun harus rela berjibaku mendidiknya dengan keras. Abangnya sekalipun  –  yang notabene adalah guru taekwondonya sering menjadi sparing partner (lawan berkelahi), belum lagi orang tuanya yang selalu dilawannya.

Semua orang, teman-teman dan keluarga sudah sekian kali melarang dia untuk mengurangi keaktifannya itu. Mereka mungkin miris melihat dia yang seperti kurang kasih sayang sehingga melarikan diri pada kegiatan-kegiatan yang seperti itu. Namun semuanya itu diacuhkannya, sampai……….

Tahun 2000

Tempat tidur Rumah Sakit PT Inalum menjadi tempat peristirahatannya selama dua minggu. Dia divonis dokter terserang penyakit kuning, semua badannya berwarna kuning, sampai bola mata dan air kencingnyapun berwarna kuning pekat. Inilah saat-saat dia merasa dunia seperti berhenti. Perih sekali menahan sakitnya penyakit itu, Ulu hatinya seperti ada yang merobek-robek, bergerak sedikit sajapun sakitnya minta ampun. Inilah ganjaran akibat kelelahan atas semua aktivitasnya itu.

Penyakit itu seperti mau mengatakan kepadanya bahwa bagaimanapun dia harus menghentikan semua kegiatannya itu dan juga seperti mau mengajaknya untuk cukup nikmati saja kehidupan ini.

Namun pengalaman pahit itu seperti tidak ada arti apa-apa baginya. Hanya dua minggu berselang setelah dokter menyuruhnya pulang dan beristirahat di rumah, dia nekat pergi meninggalkan rumah tanpa seizin orangtuanya. Hanya mengantongi uang Rp3.000,- dia nekat pergi mengantarkan kontingen cabangnya mengikuti jambore daerah Sumatera Utara. Jabatan sekretaris dewan kerja cabang baginya menuntut tanggung jawab besar untuk di emban.

Lagi-lagi nasib naas menimpanya, sore hari itu dia tumbang di bumi perkemahan Sibolangit karena kelelahan mempersiapkan segala sesuatunya. Kejadian itu membuatnya harus pulang keesokan harinya mengikuti truk dalmas polisi kembali setelah mengantarkan kontingen Tebing-Tinggi.

Apakah kejadian itu membuatnya sadar? Ternyata tidak, dia masih tetap aktif di semua kegiatan yang diikutinya, malah beberapa bulan kemudian dia bersama team-nya nekat melakukan ekspedisi pendakian ke Gunung Sinabung, padahal mereka semua sama sekali belum pernah mendaki kesana.

Sampai akhirnya…..

Tahun 2001

Tempat tidur Rumah Sakit menjadi tempat peristirahatannya lagi, kali ini di RS Advent Bandar Lampung. Setelah diterima di PTN, di awal semester adalah awal kebebasannya, semua kegiatan ekstrakampusnya mulai dijajakinya, malah tak jarang mulai dicicipinya. Namun Tuhan berkata lain. Sepulang dari Mapram (ospek) jurusan, dia harus bersitirahat selama 2 hari di rumah sakit itu.

Meski hanya 2 hari saja, dan malah penyakitnya tidak kambuh separah dari yang lalu, namun pengalaman ini adalah pengalaman yang paling pahit baginya. Bayangkan saja dia seperti orang asing saja, belum ada teman yang bisa dikatakan akrab baginya, orang tuanya pun ada diujung pulau dan tidak bisa datang tuk merawatnya selama di RS. Hanya bapak kostnya yang menemaninya selama di RS ditambah beberapa teman-teman kampus yang masih asing baginya.

Pengalaman ini akhirnya menyadarkannya, bahwa ternyata sang jagoan itu memiliki keterbatasan, bahwa ternyata sisi melankolisnya lebih dominant dibanding sisi Koleriknya. Sejak kejadian itu semua angan-angannya untuk menjadi aktivis kampus kini pupus sudah. Kali ini dia mau menurut pada orang tuanya yang berpesan bahwa tujuannya kesana adalah untuk mencari ilmu.

Siapa Dia

Dia dalah Harry Andrian Simbolon, pemilik Blog ini.

Kini aku sadar bahwa menjadi penikmat kehidupan ternyata lebih berharga dibanding hanya sekedar pelaku saja. Bahkan kini angan dan cita-cita lebih jauh menjulang tinggi ke angkasa, setelah mengetahui bahwa kini Sang Empunya kehidupan itu memintaku kembali berperan, setelah lulus dari sekolah kehidupan tahap pertama.

Semasa mahasiswa Aku hanya memilih aktif di kegiatan kerohanian kampus, yang semakin membuatku dekat dengan Sang Khalik itu. Dan mudah-mudahan sampai sekarang  dan seterusnya aku terus bisa dekat denganNya. Dan bersyukur sampai sekarang, setelah delapan tahun penyakit itu tidak pernah berulah lagi. Amazing grace.

  1. Hematov Purba
    Januari 24, 2009 pukul 2:28 am

    Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dengan pengalaman yang seperti Lae ceritakan, kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk dijadikan pedoman dalam menjalani hidup ini. Tentunya dengan pengalaman yang kita miliki, kita tidak akan jatuh pada lobang yang sama untuk kedua kalinya

    Harry: Thanks for the comment lae, it is good quote

  2. Januari 25, 2009 pukul 9:47 pm

    Hallo appara,
    Pengalaman keras juga mendidik aku untuk berhenti dari kekerasan.
    Aku juga pernah ikut tae kwondo di tanah karo 1992-1993, lanjut di Medan 1993-1996. Tahun 1996 berhenti karena KO pada pertandingan Full Contact di Gedung Pancasila Medan. Dari situ aku berhenti sama sekali dan sejak saat itu aku mulai condong ke hal-hal yang rohani. Memang benar, olah raga bela diri itu membuat kita sedikit anggar jago.

    Harry: Hallo juga pra. pengalaman yg sama dong berarti.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: