Beranda > Diary, Lingkungan, Pariwisata, Traveling > Mount Gede Pangrango Expedition

Mount Gede Pangrango Expedition

Akhirnya tercapai juga keinginanku mendaki Gunung Gede Pangrango. Sudah hampir 3 tahun aku tinggal di Sukabumi yang notabene adalah daerah di lereng kaki Gunung itu, tapi baru sekarang kesampaian, Itupun dilaksanakan di hari terakhir aku di Sukabumi. Ya, tanggal 31 Januari sampai 1 Februari adalah pelaksanaan pendakian ini, sementara aku baru saja menerima SK Mutasi per tanggal 2 Februari sudah harus aktif di Jakarta. But… never mind, yang penting kesampian juga keinginan ini, setelah hampir 5 tahun aku tidak pernah mendaki gunung lagi.

Bagiku alam adalah wujud kemahabesaran Tuhan, oleh karena itu patutlah disukuri dan dipelihara. Itulah salah satu motivasiku menaklukkan puncak Gunung ini. Cukup melelahkan memang, dalam perencanaan kami sebelumnya waktu pendakian diprediksi hanya memakan waktu 6 jam, tapi kenyataan kami tempuh dalam waktu 14 jam. Hujan lebat dan cuaca yang tidak mendukung, serta kondisi fisik kawan-kawan yang melemah adalah faktor penyebab keterlambatan ini. Kami memang salah memilih waktu, justru disaat musim hujan dan pintu utama jalur pendakian ditutup, kami malah nekat mendaki. Tapi apalah daya, semua sudah terjadi dengan penuh suka dan duka. Baru kali ini aku mendaki gunung selama itu.

Tim kami terdiri dari Sembilan orang, yaitu: Aku, Asep, Andri, Alvian, Reza, Mogi, ian, Asep IMS, dan Eko. Kami semua adalah teman-teman sekantor yang bekerja dalam perusahaan yang sama. Perjalanan kami mulai jam delapan pagi dari kantor di Sukabumi. Kemudian mulai mendaki jam 10 pagi dari jalur Goal Para di perkebunan PTP 8 Sukabumi, hingga akhirnya tiba di alun-alun Surya Kencana jam 12 malam.

Selama 14 jam perjalanan itulah kami justru lebih mengenal karakter setiap kawan kami masing-masing. Segala sesuatunya kini ketahuan. Teman yang tadinya kocak, kini jadi pemarah dan emosian, tidak sabaran bisa segera tiba di puncak dan beristirahat. Teman yang tadinya kekar dan bersemangat kini ketahuan lemah, demikian sebaliknya, teman yang tadinya seperti lemah, justru kelihat perkasa. Dengan segala susah payah yang ada, dengan medan terjal, licin, dan berbatuan, belum lagi kegelapan malam, dan suara binatang malam yang membuat bulu kudu merinding, ditambah rasa lelah yang tidak bisa diajak kompromi lagi, kami bersembilan akhirnya berhasil menaklukkan puncak gunung itu.

Akhirnya aku berhasil memegang dan memetik bunga Edelweiss, akhirnya aku bisa berfoto di puncak Gunung Gede, akhirnya aku bisa melihat Sukabumi, Bogor, Puncak dan Cianjur dari ketinggian, akhirnya aku bisa menaikkan syukur atas keagungan Tuhan dan akhirnya semua hasratku itu tercapai sudah. Semua rasa kelelahan dan kepenatan selama pendakian hilang sudah setelah melihat alam ciptaan Tuhan yang sungguh menawan. Sungguh ajaib Kau Tuhan dengan segala Kemahabesaranmu ini.

Keesokan harinya kami punya cerita seru lagi ketika berjalan pulang. Lagi-lagi kami salah dugaan, perjalanan pulang kami rencanakan hanya empat jam, malah menghabiskan waktu 9 jam. Lagi-lagi hujan yang mengguyur lebat membuat tanah licin, kondisi fisik teman, serta baterai senter yang sudah mulai menipis, hal itulah yang menyebabkan keterlambatan kami. Kami semakin dipusingkan lagi ketika ternyata kami sadar kalau kami salah jalan (alias kesasar). Beruntung kami sadar dan segera kembali kejalan semula. Hingga akhirnya kami tiba di tempat penjemputan jam 12 malam.

Seminggu berlalu baru rasa lelah dan pegal-pegal ini hilang. Inilah pengalaman yang sangat seru, penuh suka dan duka.

  1. sambis
    Mei 27, 2009 pukul 1:42 pm

    Hai, Salam Kenal
    sekedar membagi Informasi tentang penyewaan tenda dan alat-alat camping, pembuatan dan penjualan tenda,
    Berkemah, Camping, kemping, Even, Wisata Alam, Mabim, Outbound Training, Tenda Dome, Tenda Sarnafil atau Tenda Kerucut;
    silakan hubungi kami di http://www.tendaku.net atau http://www.mrcamp.net
    email : tendakubandung@yahoo.com
    thx..

  2. Titen
    Juni 24, 2009 pukul 11:03 am

    seru bgt yah bs mendaki gunung..
    pengen…
    tp, masa’ bang harry bisa siy daki gunung, bukannya hanya bs di jalan yg datar2 aja ya…?
    hehhehhe

  3. Juli 12, 2009 pukul 6:07 pm

    Memetik edelweis?. Apa tidak merasa sayang, padahal bunga EDELWEIS BUNGA ABADI mulai langka, lho!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: