Beranda > Birokrasi, Bisnis Manajemen, Change, Ekonomi, Jurnalisme, Opini, SDM, Sosial Politik > Dari Angkatan Bersenjata ke Orkes Simpony

Dari Angkatan Bersenjata ke Orkes Simpony

Apa yang ada di benak Anda ketika membandingkan angkatan bersenjata dengan orkes simpony? Apapun itu penilaian Anda, bisa saya duga kalau penilaian anda pasti merupakan sesuatu yang kontradiktif, jika angkatan bersenjata identik dengan kekerasan, maka Anda akan mengatakan orkes simpony lembut; jika angkatan bersenjata kaku, maka anda akan mengatakan orkes simpony flexibel; dan seterusnya. Setidaknya melalui sebuah pernyataan judul diatas saya mau mengatakan bahwa kedua hal tersebut adalah berbeda dan saya mau menekankan bahwa ada unsur manajemen perubahan disana, ketika kata “dari” kemudian disandingkan dengan kata “ke” itu artinya perubahan. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh seorang pakar manajemen – Peter F Drucker dalam bukunya yang berjudul They’re not Employees, They’re People.

Peter F Druker mau mengatakan kepada kita bahwa dalam dunia bisnis  akan terjadi perubahan paradigma dan formulasi struktur organisasi manajemen dari tradisonal ke modern. Struktur organisasi tradisonal dalam hal ini dianalogikan seperti angkatan bersenjata yang dalam hal ini saya sebut dengan militer. Sedangkan organisasi manajemen modern yang dibutuhkan dimasa kini dan yang akan datang adalah seperti sebuah orkes simpony.

Dalam militer kebijakan ditentukan secara sentralistis yang kemudian disampaikan kepada prajurit bawahan melalui jalur komando dan supervisi langsung oleh sang komandan. Satu orang komandan membawahi satu regu/pasukan/pleton dan bertanggung jawab atas grup itu. Jika prajurit tidak melakukan perintah sang komandan atau salah sedikit saja maka ia akan mendapatkan hukuman. Dikarenakan pengawasan melalui supervisi langsung maka menyebabkan setiap prajurit hanya fokus kepada satu bidang khusus (spesialisasi kerja). Itulah mengapa dalam militer orang-orangnya kaku dan tidak berani mengembangkan kreatifitasnya.

Hal berbeda terjadi pada orkes simpony, dimana sang konduktor adalah orang yang benar-benar expert dalam bidangnya dan mengkoordinir sebuah kumpulan orang-orang yang profesional. Bayangkan, hanya dengan menggerakkan tangan sang konduktor maka para pemain orkestra sudah tahu harus berbuat apa berdasarkan kompetensinya. Sang Konduktor pun juga harus fokus pada partiturnya sendiri agar sebuah orkes tetap berjalan dengan indah. Itu artinya setiap pemain termasuk sang konduktor adalah orang-orang yang sudah tahu harus berbuat apa. Setiap pemain diberikan otonomi untuk mencapai goal congruance sehingga tercipta harmony yang merdu.

Microsoft sudah terlebih dahulu melihat fenomena ini. Di microsoft ruang kerja bukanlah seperti ruang kantor kebanyakan yang penuh dengan sekat-sekat, rak yang penuh dengan tumpukan kertas, dan perintah dari atasan yang sok mengatur. Di Microsoft suasana kerja di seting seperti sebuah perpustakaan, segala buku-buku referensi disediakan disana, setiap karyawan bebas mengeksplorasi keahliannya dibantu oleh buku-buku tersebut, bahkan tanpa masuk kantorpun setiap karyawan bisa bekerja, bukan hanya karena supervisi bisa dilakukan via internet, tetapi setiap karyawan sudah tahu tugas dan tanggung-jawabnya masing-masing. Kalau memang pekerjaannya bisa dikerjakan dirumah untuk apa datang ke kantor?

Perusahaan-perusahaan besar di beberapa negara maju mengartikan lebih jauh lagi dengan menggabungkan beberapa perusahaan (music player) untuk memperoleh suatu perusahaan (orkes) yang lebih handal. Lihat saja Sony dengan Ericson, General Motor dengan Chevrolet, Siemes dengan Benq, HP dengan Compaq, dan lain sebagainya. Tujuan dilakukannya merger tersebut tidak lain untuk memperoleh suatu produk yang lebih sesuai dengan selera konsumen (Suara yang merdu).

Fenomena yang terjadi dalam beberapa dekade kedepan akan mengikuti formula tersebut. Bisnis akan mengikuti kemauan pasar, tidak seperti pada awalnya dimana bisnis adalah sebuah kemauan pengusaha yang dipaksakan.  Kalau dulu pengusaha merancang sebuah produk yang sesuai dengan kemauannya dan karyawan dipaksa harus menjualnya ke pasar. Perusahaan yang masih seperti itu hanya tinggal menunggu waktu saja akan gulung tikar jika ia tidak segera merubah formulasi bisnisnya. Lihat saja Sepatu Bata, dahulu perusahaan ini adalah perusahaan yang sangat besar, produknya dikenal luas diseluruh pelosok negeri bahkan sampai ke penjuru dunia. Namun apa yang terjadi sekarang? Perusahaan tidak mampu bersaing dengan kehadiran sepatu impor atau bahkan sepatu Cibaduyut sekalipun yang lebih berkualitas, eye catching, dan trend setter. Bahkan sekarang lahan sisa pabriknya di Kalibata yang luas itu akan segera dijual untuk dibangun puluhan tower rusunami.

Di Sepatu Bata karyawan dianggap sebagai tukang yang terspesialisasi, ada yang khusus mengelem, memotong, menjahit, dan yang mengepak. Setiap tukang hanya tahu mengerjakan tugas dengan bidangnya saja, bisa Anda bayangkan apa yang terjadi kalau sepuluh orang karyawan saja tidak masuk kerja, pasti akan mengganggu proses selanjutnya. Berbeda halnya dengan sepatu impor atau Cibaduyut dimana pekerjanya dianggap sebagai seorang seniman – bukan sebagai tukang. Seorang seniman pasti akan bertanggung jawab terhadap karyanya hingga produknya selesai dengan hasil yang memuaskan dan memiliki nilai jual tinggi. Inilah perbedaan nyata antara angkatan bersenjata dengan orkes simpony, dari spesialis ke generalis. Itulah mengapa meskipun background pendidikanku adalah accounting, tapi aku juga tertarik dengan jurnalisme, sosial politik, mangement dan marketing.

Saatnya perubahan itu didengungkan agar Industri kita bisa bersaing dengan industri luar negeri. Mari kita berpikir seperti orkes simpony, benahi management perusahaan dengan terlebih dahulu membenahi sumberdaya manusia yang ada dan birokrasi yang menghambat didalamnya. Ciptakan budaya kerja yang dinamis agar setiap music player (karyawan) bekerja dengan leluasa dan mengeksplorasi semua keahlian dan kemampuannya demi mencapai tujuan perusahaan.

  1. Maret 27, 2009 pukul 11:59 pm

    setuju pak, manajemen yang bagus adalah cermin usaha yang maju

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: