Beranda > motivasi, Opini > Bebaskan Mereka Berkreasi

Bebaskan Mereka Berkreasi

Sebuah tulisan untuk menggugah peran perempuan dalam dunia sains sebagai wujud semangat hari kartini.

Kreativitas tercipta ketika muncul tantangan. Namun, ide cemerlang dari para cendekia yang brilian sering tumbuh dalam suasana yang tidak terlalu mengekang. Untuk menghasilkan generasi yang kreatif itu, pemerintah dan guru memegang peranan yang penting. Itulah inti dari perbincangan lima perempuan ilmuwan penerima Laureates Award tahun 2009 dengan Ahmed H Zewail, peraih Nobel Bidang Kimia tahun 1999, di Paris, Perancis, awal Maret (5/3) lalu.

Para perempuan itu adalah Tebello Nyokong, fisikawan dari Afrika Selatan; pakar ilmu material, Akiko Kobayashi; ahli kimia asal Rusia yang menetap di Kanada, Eugenia Kumacheva; dan fisikawan Inggris, Athene M Donald, serta astronom dari Brasil, Beatriz Barbuy. Meski menggeluti disiplin ilmu berbeda-beda, mereka memegang komitmen yang sama kuat hingga menerobos kendala yang menghalangi di sekitarnya.

“Sains bukanlah hal yang mudah dan memerlukan komitmen kuat,” ucap Eugenia yang mengembangkan material baru untuk berbagai aplikasi. Apa nasihatnya bagi wanita muda yang ingin mengikuti jejaknya? Hal pertama yang harus ditanyakan kepada diri sendiri adalah seberapa pentingnya ilmu itu sebelum siap berkompromi. “Saya katakan, saya dapat berhasil dikeduanya – di bidang ilmu dan bahagia dalam kehidupan pribadi,” ujar ibu dari dua anak yang telah dewasa ini.

Eugenia yang menjadi profesor di Universitas Toronto itu mengakui, seorang perempuan ilmuwan lebih banyak berkorban karena harus menyeimbangkan dengan tanggung jawab pada keluarga. Bagi Akiko – perancang metal organik untuk peralatan elektronik – pilihan menjadi ilmuwan tidak terkendala karena dorongan ayahnya, seorang fisikawan. Akiko, guru besar dari Nihon University, memang beruntung mendapat suami yang toleran. Namun tak demikian bagi perempuan Jepang lainnya. Mereka menghadapi dominasi pria yang umumnya tak menginginkan kaum perempuan keluar dari urusan domestik. Di Jepang tak banyak panutan perempuan ilmuwan sehingga tak banyak wanita muda mau jadi ilmuwan.

Memajukan kaum perempuan di bidang penelitian ilmiah itu merupakan sasaran UNESCO dan L’Oreal Foundation. Mereka menggelar ajang pemberian penghargaan kepada para perempuan ilmuwan senior dan memberi dana hibah penelitian di bidang lPA dan ilmu kehidupan bagi perempuan muda di seluruh dunia sejak 10 tahun lalu.

Ahmed juga melihat perlunya model panutan, terutama guru, yang mampu memperkenalkan ilmu dengan baik kepada muridnya juga pada anak usia dini.

Athene – guru besar Fisika Eksperimen di Universitas Cambridge – yang mengembangkan sistem deteksi untuk material fisika yang halus, memutuskan akan menjadi fisikawan pada usia 13 – karena gurunya telah menunjukkan fisika dengan cara menyenangkan. Dia didukung ibu dan suaminya yang menjadi mentornya.

“Usia dini memang menentukan bagi seseorang memilih jalan hidupnya,” ujar Tebello, ilmuwan asal Lesotho yang mengembangkan fototerapi untuk kasus kanker. Cita-cita Tebello – guru besar di Rhodes University Grahamstown Afsel – adalah mendorong lebih banyak pelajar memilih bidang sains. Masa kecilnya terbagi antara bersekolah dan menggembalakan biri-biri. Berkat dorongan sang ayah dia menjadi ilmuwan terkemuka.

“Pada masa kecilku, aku sering memanjat pohon plum kuning hingga ke cabang yang tertinggi, berkontemplasi di sana sambil memandang langit hingga sebelum makan malam tiba. Koneksiku dengan astronomi mungkin telah dimulai di sana,” ujar Barbuy yang meneliti komposisi kimiawi bintang untuk mengetahui evolusi galaksi.

Peran pemerintah

Dunia riset di suatu negara dapat berkembang karena banyak faktor. Namun yang paling berpengaruh adalah pemerintah yang mendorong kegiatan ilmiah di semua disiplin ilmu dan menjadikannya sebagai jalan hidup masyarakatnya, lontar Zewail yang kini menjadi Direktur Pusat Fisika Biologi di California Institute of Technology.

Pendapat Ahmed yang juga Ketua Dewan Juri L’Oreal-UNESCO Awards for Women in Science 2009 bidang ilmu fisika itu berdasar temuan tim L’Oreal-UNESCO tentang persepsi pemerintah dan masyarakat terhadap ilmu dan karier ilmiah. Penelitian itu dilakukan L’Oreal Foundation di Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Spanyol, AS, Meksiko, China, Dubai, dan Afsel.

Carole Muller, yang terkait dalam survei, mengatakan, dari 10.000 responden di 10 negara itu 84 persen berpendapat ilmu dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari. Sekitar 57 persen responden berpendapat ilmu dapat menginspirasi dan hanya 38 persen menganggapnya hal yang sulit.

——

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat!

Oleh : YUNI IKAWATI

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: