Beranda > Artikel bebas, Cinta, Keluarga, Opini > Menyatukan Dua Hati Yang Berbeda

Menyatukan Dua Hati Yang Berbeda

Dalam banyak hubungan, apakah itu pertemanan, kasih asmara, keluarga, atasan dan bawahan, atau apapun itu, faktor kesatuan menjadi hal yang paling krusial. Jika hubungan yang dijalin tidak menemukan kesatuan, maka dimungkinkan hubungan itu tidak akan bertahan lama. Beberapa contoh nyata sudah sering terlihat oleh kita: Teman yang berubah menjadi musuh, pacar yang menyebalkan hingga akhirnya putus, keretakan keluarga akibat tidak ada kedamaian di dalam keluarga lagi, atau pengunduran diri atau pemecatan bawahan oleh atasan.

Jika dirunut lebih jauh akar dari permasalahan ini sebenarnya adalah persamaan pola pikir.  Setiap orang akan cenderung mendekatkan diri dengan orang lain ketika di dalam diri orang tersebut ada persamaan pandangan seperti yang dimilikinya. Beberapa orang yang lebih konservatif malah menyebutnya dengan istilah “persamaan visi”.  Setiap manusia yang diciptkan Tuhan pastilah memiliki corak yang berbeda, tidak akan mungkin kita menemukan dua orang yang benar-benar sama. Oleh karena itu permasalahan yang perlu kita bicarakan bukanlah menemukan orang yang sama/cocok karena Anda tidak akan pernah menemukannya, tetapi bagaimana  mengelola perbedaan tersebut.

Beberapa orang sering mempermasalahkan ketidakcocokan dengan orang lain (pacar atau teman) hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu. Alasannya bisanya karena sifat dan kelakuannya baru diketahui sehingga banyak ketidakcocokan yang akhirnya terlihat. Memang diakui bahwa seseorang belum nenunjukkan karakter yang sebenarnya diawal menjalin suatu hubungan, namun itu bukanlah suatu justifikasi untuk meninggalkan hubungan yang sudah terjalin baik begitu saja. Itulah mengapa sebelum menjalin hubungan diperlukan suatu proses penyesuaian (pdkt, pacaran, pertunangan, sebelum pernikahan).

Dari hasil perbincangan dengan beberapa teman perihal hubungan asmaranya dapat saya simpulkan bahwa telah terjadi ketidak puasan terhadap pasangannnya, Pria telalu menuntut dan berharap banyak dari wanita, demikian juga sebaliknya. Inilah yang disebut dengan kesenjangan harapan (gap expectation). Sepanjang suatu hubungan tidak didasari oleh ketulusan dan saling membutuhkan maka yang terjadi adalah semakin lama hubungan itu dijalin maka akan semakin banyak tuntutan yang harus dipenuhi untuk memuaskan pasangan. Pernahkah kita berfikir bahwa tidak ada manusia didunia ini yang sempurna, oleh karena itu jangan pernah melangkahi kewenangan Yang Maha Kuasa dengan menyuruh pasangan kita menjadi sempurna sesuai dengan yang kita inginkan.

Saat ini sejenak Anda renungkan: Akhiri hubungan Anda saat ini juga karena tidak ada arti yang berarti bagi Anda, bahkan justru merepotkan Anda saja, atau Anda melangkah dengan pasti bersamanya, tetap bahagia bersama pasangan Anda, menghadapi segala probelama yang ada secara bersama-sama, karena Anda yakin Anda dapat melalui segalanya bila bersama dengannya.

Betapa indah bila suatu hubungan dijalin dengan ketulusan dan saling membutuhkan. Bukan saling memanfaatkan atau sebagai pelampiasan saja. Hubungan yang baik terbukti menjadi obat ampuh penghilang kejenuhan dan kepenatan. Hubungan baik juga terbukti membuat hari-hari serasa bahagia. Jadi untuk apa lagi memusingkan perbedaan dan ketidakcocokan. Mulai sekarang ajak pasangan Anda berdiskusi: Samakan tujuan, nyatakan tekad untuk bersama, dan ungkapkan kebutuhan akan dia dalam kehidupan/karir Anda. Selamat menjalani hubungan bahagia.

  1. Takaltabu.com
    Juni 13, 2009 pukul 6:31 am

    Ah…masa sih

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: