Beranda > Kehidupan, Kisah Nyata, Ngeblog, Opini > Kisah Kasih Menempati Rumah Baru

Kisah Kasih Menempati Rumah Baru

Sudah hampir 2 bulan memang aku menempati rumah kontrakanku di Bekasi. Tadinya mau beli rumah baru sih, tetapi ternyata aku baru sadar kalau beli rumah itu ga bisa cepet, makanya aku memutuskan untuk mengontrak dulu selama setahun. Sembari aku bisa menyimpan barang-barangku pasca kepindahanku ke Jakarta dan aku bisa leluasa mencari rumah baru selama setahun ini.

Rumah tipe 21, tapi disulap menjadi tipe 45 dengan tanpa halaman dengan tambahan 1 lantai. Itulah rumahku sekarang. Awalnya ketika aku mencari rumah itu tidak banyak pertimbangan: dekat dengan sekolah calon istriku, nyaman, ada parkiran mobilnya (karena rencanaku juga mau beli mobil) dan lingkungannya nyaman. Dan sepintas pengamatanku rumah itu memang sesuai dengan ekspektasiku. Makanya langsung kujadikan hari itu juga dengan si pemilik rumah.

Sederhana memang rumahnya, tapi justru karena kesederhanaannya itu justru membawa kesusahannya sendiri. Semakin kesini aku baru menyadari kalau memiliki rumah itu memiliki kerepotannya sendiri

Belanja Isi Rumah

Wow… aku terkejut ketika ternyata belanjaanku menghabiskan uang yang cukup banyak jumlahnya. Tapi pikirku “meski aku masih tinggal sendiri, toh sebentar lagi kan menikah, hitung-hitung tabungan”. Semakain kesini selalu aja ada kekurangan, makanya selalu belanja melengkapi kekurangan-kekurangan itu. Pantas saja saldo rekeningku semakin menipis saja.

Ditodong Sumbangan

Ya, namanya hidup bertetangga, maklum sajalah kalau ada sumbangan kebersihan dan kemaanan. Demikian juga dengan sumbangan 17-an. Padahal bulan agustus masih lama ya?

Ga ada Sinyal 3G

Kecewa aku, kerja di Perusahaan Telekomunikasi besar, tapi ga bisa ber 3G-an kalau dirumah. Aneh, kok di rumahku aja yang ga ada sinyal ya. Kalau Jalan sedikit ke jalan utama langsung muncul kok sinyal 3G. nasib.. nasib..

Garasi Ga Muat

Seminggu setelah aku tinggal di Bekasi aku langsung membeli sebuah mobil second, tepatnya Kijang SGX tahun 2000. Kebetulan ada teman yang menawarkan kalau temannya lagi butuh uang, makanya mobil itu langsung ku ambil tanpa pikir panjang. Perkiranku pasti muatlah masuk garasi, eh.. ketika kubawa pulang ternyata ga muat, jikapun muat motorku pasti ga akan bisa keluar masuk.  Inilah yang membuatku sangat pusing. Akhirnya aku biarkan saja parkir di luar yang kemudian membuat kesusahan baru lagi.

Parkir di Luar Dikritik Tetangga

Memang dasarnya rumah tipe 21, dengan jalan yang sempit bagaimanapun jika mobil lewat pasti ngepas banget, apalagi parkir. Tapi aku juga heran meski kondisinya seperti itu hampir setiap rumah di gang itu memiliki mobil dan diparkir begitu saja di depan rumah mereka. Maka wajar aja kalau aku juga ikut-ikutan marker di depan Rumah. Baru sehari markir di depan rumah langsung dikritik tetangga dengan alasan susah mobil yang lain keluar masuk kalau mobil aku percis pasrkir di depan rumah, disarankan parikir di depan rumah tetangga. Aku ikutin saran itu, eh… malah tetangga itu yang kemudian complain ke aku. Setelah cari jalan keluar yang sedikit alot baru deh aku bisa parkir di situ.

Ikut Bergosip

Namaya juga bertetangga, di lingkungan perumahan lagi. wajar dong kalau bergosip – menceritakan tetangga lain. Tapi yang tidak wajar bagiku: masak kaum Bapak juga ikut bergosip. Aneh-aneh saja dunia zaman sekarang ini.

Bayar Listrik dan Telepon Telat

Maklum ga biasanya bayar listrik dan telepon rumah. Begitu surat pemutusan listrik datang baru deh ingat tuk bayar listrik. Untung aja ga sempat diputus. Kalau ga, aku akan kembali ke Zaman purbakala yang gelap gulita He..he..

Semuanya memang begitu indah, kadang aku tertawa sendiri melihat semua fenomena itu. Semua itu mengajakku kedalam satu kesimpulan: “Aku harus segera mencari rumah baru yang lebih representative”

  1. Juni 30, 2009 pukul 4:03 pm

    makasih atas infonya

  2. Juli 1, 2009 pukul 10:46 pm

    Selamat menikmati rumah baru😀

  3. Hutapea
    Desember 8, 2009 pukul 4:07 pm

    Begitulah hidup tidak ada yang sempurna, biar juaga nanti menempati rumah sendiri pasti ada kekurangannya, tapi itu tergantung bagaimana kita menyikapinya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: