Beranda > Ekonomi, Hukum, Kritik Kebijakan, Nasionalisme, Opini, politik, Sosial Politik > Aku Hanya Ingin Negeriku Damai

Aku Hanya Ingin Negeriku Damai

Suara bom yang menggelegar di Mega Kuningan dua minggu yang lalu ternyata hanya berselisih sekitar lima menit ketika aku sebelumnya melintasi daerah itu. Begitu sampai di kantor aku baru sadar kalau baru saja terjadi ledakan bom. Bulu kudukku langsung merinding, bersyukur kalau aku masih tetap hidup. Akupun berandai-andai kalau-kalau aku pas melintasi daerah itu pada waktu yang sama mungkin keadaannya akan berbeda.

Teror bom kembali melanda negeri, setelah empat tahun berpuasa, ternyata terrorist itu lapar juga. Dan mungkin saja di hari-hari yang akan datang mereka akan terus lapar. Ketika ku menduga-duga seperti itu, bulu kuduku semakin merinding. Itu tandanya negeri ini akan terus dilanda terror. Kalau orang bilang pohon tidak akan mungkin mati kalau akarnya belum mati, itu artinya kalau pengikut-pengikut terrorist itu masih hidup, maka sepanjang itu pula terror akan melanda negeri.

Belum lagi terror habis menghiasi media elektronik maupun cetak, negeri ini juga sedang menanti gejolak politik yang akan lebih parah dampaknya daripada dentuman bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton itu. Andai saja gugatan Megra-Pro dan JK-Wiranto dimenangkan sepenuhnya oleh MK, itu artinya akan dilakukan pemilu ulang. Aku hanya bisa menduga, kalau ini sampai terjadi, maka Indonesia kembali akan membara.

Aku bukanlah simpatisan parpol, aku bukanlah pendukung incumbent, aku hanya rakyat  biasa yang cinta dengan kedamaian. Secara logika aku menyetujui dengan sangat upaya hukum yang dilakukan oleh kedua pasangan yang kalah itu karena memang pemilu kali ini sangat amburadul. Namun secara logika juga aku menyadari bahwa rakyat Indonesia belum cukup dewasa dalam berdemokrasi. Hanya sedikit provokasi saja, kebanyakan rakyat Indonesia akan ikut-ikutan tanpa mengetahui substansi permasalahannya. Masih teringat olehku beberapa anggota DPD terpilih karena rejeki berada di urutan ke-31, yang juga kebetulan nomor urut partai nya SBY, padahal mereka sebelumnya sangat tidak diunggulkan. Masih teringat jelas juga olehku banyak rakyat ikut-ikutan memilih SBY 5 tahun lalu karena diperspektifkan “ganteng”. Hal yang sama juga terjadi pada pemilihan gubernur Jawa Barat. Demikian juga pemilu kali ini yang sarat dengan citra. Itu artinya sebagian besar rakyat Indonesia masih terbelakang dalam hal berdemokrasi. Masih ikut-ikutan.

Yang aku takutkan adalah jika benar-benar gugatan kedua pasangan itu dikabulkan sepenuhnya, maka kegemparan akan kembali melanda negeri ini. Arogansi para pimpinan parpol tidak akan pernah terkalahkan meski nasib jutaan rakyat dipertaruhkan didalamnya. Indonesia akan kembali ke zaman bar-bar karena akan terjadi peperangan antar warga, antar pendukung, dan antar keluarga sekalipun. Rakyat Indonesia belum siap jika jagoannya kalah, apalagi jika sebelumnya sudah sempat dinyatakan menang.

Kalaupun seandainya gugatan itu disetujui sepenuhnya, atau sebagian, kemungkinan besar kubu SBY akan melakukan upaya pembalasan, tidak terima diperlakukan seperti itu, dll. Orang yang dianggap negarawan sekalipun akan bisa bersikap kekanak-kanakan jika tujuannnya merebut kekuasaan tidak tercapai. Dan ketakutanku yang paling besar adalah ketika pembalasan kubu SBY sampai turun ke jalan. Mudah-mudahan jangan sampai terjadi.

Apakah para elit negeri ini pernah memikirkan multiplier effect dari perbuatan mereka ini. Rakyat Indonesia merasa semakin tidak nyaman hidup di negerinya sendiri, kapan saja terror BOM bisa terjadi, dan kapan saja pertikaian antar golongan bisa terjadi. Belum lagi dampak perekonomian yang pasti sangat dirasakan oleh Indonesia baik secara makro, maupun mikro. Dimanapun negeri yang mengalami chaos akan mengalami lonjakan harga kebutuhan pokok, nilai tukar yang terjun bebas, PHK dimana-mana, pengangguran meningkat, kriminalitas merajalela, dan lain sebagainya. Aku takut sekali kalau hal itu sempai terjadi.

Ada baiknya memang ketika zaman Suharto dulu selalu menekankan pada stabilitas sosial ekonomi dan politik. Terbukti ketika itu stabilitias menciptakan kemajuan dan pertumbuhan pembangunan. Sebisa mungkin tidak ada gejolak yang sangat berarti hingga target pertumbuhan ekonomi dapat tercapai di kala itu. Hal yang sama juga terjadi di China, Singapura dan Malaysia. Meski sedikit mengabaikan nilai-nilai demokrasi namun tujuan yang ingin dicapai untuk memakmurkan rakyat ternyata kesampaian juga. Toh, bukannya demokrasi juga merupakan alat, bukan tujuan.

Bila aku ditanya sebagai rakyat biasa: “Apasih yang kamu inginkan dari negeri ini?” aku akan lantang menjawab: “aku hanya ingin aku bisa hidup berdampingan dengan orang lain dengan damai, agar aku bisa hidup layak dan bekerja memenuhi kebutuhanku dan keluargaku.” Dan aku yakin ratusan juta rakyat bisa lainnya akan memeberikan jawaban yang sama.

  1. Juli 29, 2009 pukul 4:20 pm

    padahal damai itu tidak memerlukan biaya…asal mau

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: