Beranda > Bisnis Manajemen, Opini, Telekomunikasi > Era Baru Bisnis Content

Era Baru Bisnis Content

Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk on line on line, on line on line. Jari dan keyboard beradu pasang earphone dengar lagu, aku on line online, on line on line.

Sebait lirik lagu Saykoji itu merupakan gambaran perubahan perilaku manusia sebagai dampak dari penerapan information communication & technology (ICT). Online sudah menjadi gaya hidup masyarakat, bukan hanya masyarakat metropolitan, tetapi juga masyarakat urban dan rural. Tanpa terkoneksi kedalam jaringan melalui ponsel, seorang dianggap ketinggalan jaman dan gatek. Perubahan gaya hidup inilah yang ditangkap Telkomsel sebagai suatu kesempatan untuk mengeruk revenue yang lebih banyak lagi melalui visinya yang baru Telkomsel sebagai best mobile life style in the region. Telkomsel berupaya menyajikan solusi komunikasi yang memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat itu.

Saat ini ponsel akan terasa kurang lengkap bila tidak ada earphone yang bisa mendengarkan MP3, akan terasa aneh lagi atau malah ditertawakan oleh rekan-rekan kita bila saat mereka menelepon tidak mendengarkan ring back tone (RBT) dari nomor kita. Kapanpun kita bisa mengakses kondisi terkini melalui video surveillance, atau kita dapat mengakses langsung siaran televisi melalui 3G TV. dan kapanpun juga kita bisa bertatapan muka dengan lawan bicara kita melalui video call. Belum lagi fitur e-games, e-movie, e-sport, e-business, e-religi, e-musik dan sebagainya. Itu semua merupakan keunggulan dari sebuah content, inilah era kebangkitan dunia telekomunikasi dimana content menjadi key success factor.

Kekuatan Sebuah Content

Masih teringat oleh kita persaingan perebutan hak siar Liga Inggris yang berdampak pada kebangkrutan salah satu tv kabel yang kalah. Bahkan demi mendapatkan content liga inggris tersebut provider rela melakukan berbagai cara meski akhirnya harus berhubungan dengan KPK. Begitu pula dengan para artis yang ikut-ikutan latah menjadi musisi instan hanya untuk merebut ceruk pendapatan dari RBT, bahkan almarhum Mbah Surip dalam sekejap bisa mengantongi Rp 4,6 Miliar royalty dari RBT sebuah lagunya saja. Demikian pula dengan persaingan content provider yang semakin kebablasan hingga pemerintah harus turun tangan. Itu semua bisa terjadi takkala content sudah menjadi tambang emas.

Content akan menjadi fokus utama segala jenis bisnis yang menawarkan produk, jasa dan nilai tambah. Lihat saja bagaimana Facebook yang dalam sekejap menjelma menjadi situs jejaring sosial yang paling digemari masyarakat dunia karena menawarkan beragam content yang menarik di dalamnya. TV One yang sebelummnya bernama lativi hanyalah tontonan masyarakat menegah kebawah sekarang menjadi TV yang paling digemari masyarakat Indonesia hanya karena merubah content yang disajikannya menjadi tontonan berita up to date. Demikian pula persaingan keras beberapa merek ponsel terkenal yang menawarkan content dan beragam aplikasi handal di dalamnya. Dan yang paling terasa oleh masyarakat Indonesia adalah persaingan keras antar provider telekomunikasi nirkabel yang tidak hanya berlomba-lomba menawarkan tarif murah tetapi juga menawarkan solusi komunikasi berisi content yang dapat memenuhi gaya hidup masyarakat. Itu semua dapat membuktikan bahwa content sudah menjadi primadona.

Ini adalah era dimana masyarakat menjadikan ‘lifestyle” menjadi kebutuhan pokok. Saat ini yang ada di benak masyarakat ketika hendak membeli suatu produk atau layanan jasa adalah: “isinya apa aja? Gue dapat fasilitas apa aja? Kalau gue beli bisa buat gue jadi apa?” Masyarakat dalam membeli suatu produk atau layanan jasa tidak sekedar mencari fungsi utama dari suatu produk atau layanan itu saja, tetapi dia juga akan memikirkan content yang menjadi niai tambah yang ia peroleh dari produk/layanan itu. Dua buah produk/layanan bisa saja memiliki fungsi yang sama tetapi memiliki content yang berbeda. Dengan content sebuah perusahaan bisa memanjakan pelanggannya dengan fasilitas value added service. Pelangganpun akan merasa tersanjung karena diberikan fasilitas lebih dibanding produk/layanan lainnya. Inilah yang disebut sebagai new business bagi operator penyedia content.

Telkomsel sebagai Best Mobile Life Style

Fenomena yang terjadi saat ini dan yang akan datang adalah bahwa Content menjadi senjata ampuh untuk meraih revenue, bagi pelaku bisnis kesempatan ini tentunya tidak bisa disia-siakan begitu saja. Melihat peluang-peluang itu, Telkomsel sebagai market leader di Indonesia menghadirkan beragam layanan dan produk untuk memenuhi kebutuhan pengguna telepon seluler. Secara fundamental, kekuatan Telkomsel didukung dua hal, pelanggan dan jaringan. Untuk menghadapi masa depan, Telkomsel telah menyiapkan jurus layanan mobile lifestyle. Layanan ini dihadirkan karena ponsel telah memunculkan gaya hidup yang penuh mobilitas.

Telkomsel menyadari bahwa penggunaan fitur-fitur internet mobile dan content downloads semakin berkembang dan menjadi kebutuhan dalam kehidupan berkomunikasi masyarakat. Maka dari itu dihadirkan beragam layanan untuk memenuhi kebutuhan itu. Telkomsel saat ini berhasil memadukan industri telekomunikasi dengan gaya hidup masyarakat modern. Ragam layanan mobile lifestyle yang ditawarkan Telkomsel berupa 3G, Flash, BlackBerry & iPhone (FBI), mobile banking, mobile wallet T-Cash, nada sambung pribadi (NSP) dan ribuan content lainnya. Era mobile lifestyle makin membumi saat Telkomsel meluncurkan layanan berbasis teknologi 3G di Indonesia pada September 2006. Saat ini pelanggan 3G Telkomsel telah mencapai 9,2 juta.

Sementara di layanan BlackBerry, Telkomsel merupakan operator pertama yang melakukan inovasi aktivasi bisa dilakukan lewat SMS. Sebelumnya BlackBerry hanya bisa dinikmati melalui proses registrasi dan pendataan yang memakan waktu lama. Metode ini berhasil menjadikan pertumbuhan pelanggan BlackBerry Telkomsel tertinggi di Asia Pasifik. Saat ini Telkomsel memiliki pelanggan BlackBerry mendekati 100 ribu naik 200% dari akhir 2008. Telkomsel juga sangat inovatif dengan mengambil peran menjadi operator satu-satunya yang menawarkan iPhone di Indonesia. iPhone bisa berkembang pesat di Indonesia tak bisa dilepaskan dari layanan 3G Telkomsel yang sangat luas.

Perkembangan gaya hidup digital ini mau tidak mau menciptakan masyarakat digital atau digital customers. Masyarakat seperti ini tentunya membutuhkan content dan aplikasi sesuai kebutuhan mereka secara cepat, kapan pun dan di mana pun. Dan, Telkomsel dapat menyediakan itu dengan virus baru yang disebut mobile lifestyle-nya. Tampaknya virus ini akan terus menyebar menuju berbagai desa, kota, dan negara. Virus baik ini dapat mengubah wajah masyarakat dalam berkomunikasi.

Tantangan Baru Open Content

Perkembangan dunia ICT khususnya dalam bidang penulisan dan publikasi karya tulis  digemparkan oleh pola distribusi content yang disebut “open content”. Open content berusaha untuk memfasilitasi pembuatan content yang berkualitas dan dapat tersedia secara gratis. Open content adalah analogi dengan “open source“, yang menjelaskan berbagai hasil kerja kreatif termasuk artikel, gambar, audio dan video atas kegiatan teknis (seperti open machine design) yang dipublikasi dalam format yang secara jelas mengijinkan untuk dicopy oleh semua orang dan tidak ada hak eksklusif oleh sebuah organisasi tertentu atau individu. Contoh menarik adalah dari Wikipedia, atau proyek Guttenberg yang berisi banyak electronic text seperti cerita Alice in Wonderlan.

Pendekatan open content dapat mengurangi permasalahan distribusi atau penyebaran tulisan, gambar, atau materi lain yang digunakan untuk electronic learning (e-learning, electronic education, distance learning, dan kata kunci sejenisnya). Jika sebuah content dideklarasi sebagai open content, maka kita tidak perlu lagi pusing terhadap masalah HaKI (Intellectual Property Rights) karena sudah jelas status hukumnya.

Dalam hal pendidikan, kemudahan penyebaran ilmu merupakan salah satu kunci kesuksesan. Kemudahan mekanisme penyebaran merupakan sesuatu yang sangat didambakan. Tak terbayang oleh penulis jika karya-karya ilmiah para ilmuwan dari jaman dulu diproteksi dengan HaKI secara kuat. Pendistribusian content menjadi mudah karena tidak perlu merisaukan masalah HaKI. Perguruan tinggi dapat mendistribusikan materi yang open content kepada mahasiswanya melalui digital library di masing-masing kampus atau melalui media lain seperti PC, CD-ROM, VCD dan bahkan setiap mahasiswa kapan saja dapat men-dowload content yang dinginkannya itu melalui telepon genggamnya.

Di masa yang akan datang open content akan menjadi ranah semua orang dan akan menjadi bagian dari life style masyarakat modern. Perkembangan ini harus diantisipasi Telkomsel sejak dini dengan menyediakan kecepatan akses data nirkabel yang berkecepatan tinggi. Bisnis content ini kedepan akan menjadi tambang emas penyumbang revenue bagi penyedia layanan telekomunikasi nirkabel. Jika sepanjang tahun 2008 perbandingan non voice/data revenue dengan revenue lainnya Telkomsel adalah 27% berbanding 73% bagi total operating revenue. Dalam lima sampai sepuluh tahun kedepan diprediksi angka tersebut angka menjadi terbalik, dimana komunikasi data akan menjadi penyumbang utama revenue.

Tantangan Kedepan bagi Telkomsel

Seperti dikutip dari inilah.com, Konsultan bisnis internasional Frost & Sullivan mengungkapkan bahwa Telkomsel masih sebagai pemimpin kuat di layanan pascabayar serta korporat, apalagi dengan beragam content yang disajikannya. Namun Telkomsel telah kehilangan market sharenya beberapa tahun terakhir.  Sebagai operator terbesar, Telkomsel perlu mewaspadai kehilangan market share di layanan prabayar. Hal senada juga dikatakan oleh Industry Manager Asia Pacific ICT Practice Frost & Sullivan, Marc Einstein yang mengatakan bahwa Telkomsel memiliki banyak kekuatan yaitu pascabayar, enterprise, dan quality of service yang sulit dikalahkan. Untuk mengejar jaringan hingga sebesar Telkomsel, juga hanya beberapa pemain saja semacam Indosat dan Excelcommindo yang memiliki pendanaan cukup. Menurutnya Telkomsel mengalami kehilangan besar dari prabayar.

Untuk mengantisipasi hal ini kedepan Telkomsel harus terus menjadi pemain dominan dan pembaru di Indonesia. Inilah yang akan terus menjadi daya pikat masyarakat untuk memilih dan setia menjadi pelanggan Telkomsel. Selain penyebaran yang sangat luas, jumlah BTS Telkomsel terbesar di dunia. Jaringan itu mampu menghantarkan handling untuk 75 juta pelanggan, serta handing SMS 4 miliar perhari. Jaringan Telkomsel juga mengcover 95% populasi di Indonesia. Ditambah program Universal Service Obligation (USO) di 24.056 desa, maka mencakup hampir 100% wilayah Indonesia. Tak hanya luas, call completion rate Telkomsel 98,66%. Nilai setinggi itu memenuhi standar sebagai operator kelas dunia.

Kedepan semua pesaing bisa saja merebut keunggulan cakupan jaringan Telkomsel itu. Kedepan teknologi yang dibangga-banggakan Telkomsel itu bisa saja ikut dimiliki oleh pesaing karena vendor yang digunakan Telkomsel juga sama dengan yang digunakan pesaing. Kedepan pesaing bisa saja memberikan quality of service yang lebih memuaskan daripada yang Telkomsel miliki saat ini. Pada saat itulah content akan menjadi competitive advantage dan key success factor yang membedakan keunggulan operator yang satu dengan operator yang lainnya. 

  1. Agustus 27, 2009 pukul 11:50 am

    halo, tulisan yang menarik, sorry ngikut thread komentar ini sebagai salam perkenalan… sy Agus Suhanto

    Harry: Salam kenal mas

  2. Maret 13, 2010 pukul 6:51 am

    bisnis content memang bisa menjadikan ladang yg menjanjikan di bisnis online akhir2 ini.
    Thx for sharing bro.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: