Beranda > Jurnalisme, Nasionalisme, Opini, politik > Meski Orang Hanya Mengenalnya Sebagai Orang Buta dan Lumpuh

Meski Orang Hanya Mengenalnya Sebagai Orang Buta dan Lumpuh

Seluruh bangsa Indonesia sontak terkejut takkala ia terpilih sebagai president RI ke-4. Bagaimana mungkin orang buta, lumpuh pula lagi, memimpin Negara besar dan kaya raya ini. Sepertinya tidak ada orang percaya begitu saja mendengar kabar ini.

Bagaimana mungkin orang buta menjadi pemimpin bagsa yang berkilau ini, bagaimana mungkin orang lumpuh menjadi presiden Negara ini, berjalan saja dia sulit, apalagi melihat. Begitulah kira-kira semua orang mengolok-olok dia.

Namun beberapa waktu berselang, semua rakyat Indonesia lalu sontak terkejut dengan gebrakan-gebrakan kebijakan yang dikeluarkannya. Tiba-tiba dia menjadi pahlawan bagi kaum marjinal, sebagian besar rakyat papua malah mengidolakannya laksana dewa, kaum minoritas juga menjadi merasa memiliki bangsa ini lagi. Kebebasan yang selama masa orde baru seperti kekang, justru dimasa kepemimpinannya sangat diagung-agungkan.

Dimasa kepemimpinannya Indonesia kembali tersenyum oleh cerita-cerita lucunya, guyonannya, dan kebijakan-kebijakannya yang membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Indonesia seperti kembali menemukan jatidirinya setelah 32 tahun dipasung dalam rezim yang kita kenal dengan orde baru.

Namun apalah daya, ternyata kebebasan berbangsa dan bernegara yang diprogramkannya menjadikan lawan-lawan politiknya gemas. Tidak sampai satu periode menjabat, ia diturunkan oleh tokoh yang menjadikannya presiden dulu – Amin Rais. Orang bilang; “begitulah politik, kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan”.  Setelah ia lengser justru pengakuan atas ketokohannya datang silih berganti, beberapa pengharagaan tersebut antara lain:

  • Ramon Magsaysay Award for Community Leadership, Ramon Magsaysay Award Foundation, Philipina, tahun 1991
  • Islamic Missionary Award from the Government of Egypt, tahun 1991
  • Penghargaan Bina Ekatama, PKBI, tahun 1994
  • Man Of The Year 1998, Majalah berita independent (REM), tahun 1998
  • Honorary Degree in Public Administration and Policy Issues from the University of Twente, tahun 2000
  • Penghargaan Kepemimpinan Global (The Global Leadership Award) dari Columbia University, September 2000
  • Ambassador for Peace, salah satu badan PBB, tahun 2001
  • Simon Wiethemthal Center, tokoh yang peduli persoalan HAM
  • Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)
  • Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)
  • Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)
  • Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)
  • Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)
  • Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
  • Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)
  • Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)
  • Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)
  • Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)
  • Dan mungkin masih banyak lagi penghargaan lainnya.

Semua penghargaan itu adalah bukti bahwa ia benar-benar manusia berkualitas tinggi. Saya sering bertanya-tanya kenapa ia lebih diakui di Negara lain dari pada di negeri sendiri ya? apakah ini salah satu contoh bahwa Indonesia tidak menghargaai jasa penduduknya?

Ia adalah Abdul Rahman Wahid, President RI ke empat, tokoh yang selalu controversial di mata orang banyak, tokoh yang menjadi tauladan kebebasan dan reformasi Indonesia, tokoh yang layak menjadi pahlawan.

Meski orang hanya mengenalnya sebagai orang buta dan lumpuh, namun bagiku kau adalah pahlawanku, pahlawan bangsa ini.

Selamat jalan pahlawan, meskipun engkau telah tiada, namun jasa-jasamu akan dikenang sepanjang masa.

  1. Melanie
    Januari 6, 2010 pukul 7:25 pm

    Kadangkala kita baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika orang itu telah tiada… saya bersyukur karena saya menyadari bahwa beliau itu sangat berharga di kala dia masih hidup, pun ketika beliau sudah wafat karena apa yang dilakukannya untuk bangsa ini tidak akan terhapus oleh perlakuan segelintir orang yang tidak menyukai gagasannya yang dikemudian hari baru disadari banyak orang bahwa hal itu adalah benar dan baik buat semua pihak.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: