Beranda > Artikel bebas, Kata Bijak, Kehidupan, Keluarga > Next Step Need More Sacrifice

Next Step Need More Sacrifice

Kehidupan ini seperti bumi yang terus berputar, tidak pernah sedetikpun dalam kehidupan kita mengalami hal yang sama persis, karena hidup selalu berubah. Untuk  bisa survive di dunia ini kita  membutuhkan gerak dan langkah untuk menggapai  apa yang kita harapkan. Terkadang kita sering lupa bahwa semakin kita melangkah maju, kita justru semakin diperhadapkan oleh tantangan yang semakin berat, dan tantangan itu malah mengharuskan kita berkorban lebih banyak lagi.

Teman saya akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Awalnya ketika mereka sepakat untuk menikah bahagia sekali rasanya, namun semakin mendekati hari H justru pertengkaran yang datang silih berganti. Keputusan mereka untuk membina rumah tangga terlebih dahulu harus diperhadapkan dengan penyesuaian karakter hingga harus bertengkar setiap hari. Mereka ditantang untuk mau berkorban merelakan keegoisan mereka satu sama lain.

Senior saya di kampus dulu pun mengalami hal yang sama. Dia tidak menduga jika pernikahan yang baru saja dialaminya ternyata hanya bahagia sementara saja. Setelah tiga bulan pertama, bahtera rumah tangga mereka bak kapal pecah saja, setiap hari bertengkar bahkan sampai ke hal-hal sepelepun bisa menjadi bahan pertengkaran. Satu hal yang belum mereka sadari ialah bahwa ketika mereka resmi menikah maka mereka bukan dua lagi, melainkan menjadi satu. Oleh karena itu segala keakuan, keegoisan, karakter buruk, dll harus bisa dihilangkan untuk menjadi satu. Itulah pengorbanan yang sesungguhnya.

Seorang teman yang lain baru saja mendapatkan promosi jabatan. Awalnya ia senang sekali, mukanya selalu sumringah beberapa saat setelah dia mengetahui kabar promosinya itu. Dia lupa bahwa jabatan baru membutuhkan tanggungjawab yang lebih besar lagi, membutuhkan perhatian yang lebih banyak lagi, dan membutuhkan lebih banyak pengorbanan, hingga akhirnya dia harus diperhadapkan dengan konflik terhadap keluarganya sendiri. Istri dan anak-anaknya terlalu sering menahan jengkel karena hampir tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersama ayahnya.

Pindah rumah, berganti pekerjaan, beli kendaraan baru, punya anak/cucu, dan masih banyak contoh keputusan lainnya yang menuntut kita harus berkorban dari setiap tindakan kita.

Berkorban untuk orang lain adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Bagi kebanyakan orang berkorban bagi orang lain seperti membunuh diri sendiri karena harus rela menurunkan harga diri sendiri. Padahal jika ditinjau dari sudut agama, semua agama mengajarkan umatnya untuk berkorban bagi orang lain. Di Islam ada idul adha, di Kristen ada teladan Kristus dan perpuluhan, pun demikian di agama lainnya. Namun mengapa sampai saat ini kita masih susah untuk berkorban.

Dalam banyak kesempatan saya sering berujar “Jika Anda tidak mau berkorban, maka Anda tidak perlu hidup lagi”. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagaimana kita bisa belajar untuk berkorban bagi orang lain untuk bisa tetap hidup. Dan kepada apa/siapa pilihan kita untuk berkorban, pekerjaankah, keluargakah, dlsb.

Every choice has its own sacrifice

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: