Beranda > Artikel bebas, Batak, Canda, Opini > Sampai Opung di Kampungku Juga Ngomong Century

Sampai Opung di Kampungku Juga Ngomong Century

Century menjadi kata yang sangat popular di Seluruh Indonesia saat ini, beragam kalangan mulai dari politikus, pejabat pemerintah, mahasiswa, supir, petani, hingga orang tua saya yang seorang parengge-rengge (pedagang pasar) pun beberapa kali menanyakan perkembangan kasus ini kepadaku. Yang paling lucu bagiku ialah ketika sebulan lalu kedua orangtuaku datang ke Jakarta melihat tulisan “century” di sebuah shop sign toko, langsung beranggapan bahwa itulah bank century, padahal itu adalah nama sebuah apotek waralaba. Belum lagi istriku yang bermarga Sianturi sering dikonotasikan dengan bank yang sedang kasus itu membuat kami harus merelakan marga itu dijadikan guyonan oleh teman-teman kami.

Bank Century, bank yang semula adalah hasil merger Bank Danpac, Bank Pikko, dan Bank CIC pada tahun 2004, sejak pendiriannya sudah diawali oleh ketidakberesan. Sang pemilik Robert Tantular dinyatakan tidak lolos uji kelayakan dan kepatutan oleh Bank Indonesia sesaat setelah Bank CIC melakukan penawaran umum terbatas alias rights issue pertama pada Maret 1999. Begitupula saat proses merger tersebut diduga dikabulkan oleh karena uluran tangan para petinggi bank Indonesia. Dan memuncak pada kasus kucuran dana bailout oleh pemerintah kepada Bank Century yang ternyata dananya tidak bisa dipertanggungjawabkan pemilik dan pengelola bank.

Pada awalnya, kasus Bank Century hanya bergerak di wilayah perbankan. Karena tidak tertahankan lagi, secara perlahan bergeser ke wilayah ekonomi makro. Lalu bergeser lagi ke ranah hukum, karena ada sangkaan tindakan korupsi atau pelanggaran terhadap ketentuan perbankan. Lagi-lagi, karena tidak bisa dimitigasikan dengan baik, kasus ini berkembang semakin liar dan seperti sudah diduga, kasus Bank Century akhirnya merembet ke wilayah politik.

Kasus Bank Century ini akhirnya menjadi sebuah dagelan politik, karena setiap saat menjadi arena perdebatan, dan tak disangsikan lagi kalau industri media menjadi pihak yang paling diuntungkan dari setiap kekisruhan yang terjadi. Mau ga mau oplah mereka akan laku keras, hits mereka akan bertambah banyak, dan tentunya iklan akan terus berdatangan. Tapi meskipun begitu terimakasih saya ucapkan kepada media yang telah menyuguhkan hiburan kocak kepada seluruh masyarakat Indonesia. Minimal bisa menjadi pelipur lara bagi sebagian besar rakyat Indonesia dari segala kemiskinan yang ada, dari segala kesemerautan yang ada, dan dari susahnya menjalani hidup ini. Seru, setelah Opera Van Java, kini ada dagelan politik Century yang tidak kalah kocaknya.

Sangkin hebohnya orang-orang dengan Century, seminggu lalu ketika aku pulang kampung, eh, malah opungku yang bertanya “opu, songon dia do perkembangan senturi i di Jakarta?” (bahasa Indonesia: Cucuku, bagaimana sudah perkembangan kasus Centuri itu di Jakarta?). Opungku saja yang kerjanya hanya mengolah sawah di pedalaman Tapanuli sana, dan jauh pula dari perkotaan update tentang kasus ini, apalagi kita-kita ya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: