Beranda > Berita, Hukum, Korupsi, politik, Sosial Politik > Sudah Cerai, Tetapi Masih Tidur Seranjang

Sudah Cerai, Tetapi Masih Tidur Seranjang

Oleh : Dr. Albiner Siagian

Dimuat di harian analisa

Panggung perhelatan Pansus DPR untuk kasus Bank Century telah usai. Sidang paripurna DPR telah menghasilkan suatu keputusan politik.

Inti dari keputusannya adalah ada yang salah dalam kebijakan bail-out Bank Century. Pihak yang dianggap paling bertanggung jawab pun sudah disebutkan secara terang-benderang. Mereka, antara lain, adalah Budiono dan Sri Mulyani, yang kala kebijakan itu dibuat bertindak, masing-masing, sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Ketua KSSK.

Yang menarik dari hasil akhir Pansus Century ini adalah DPR sepakat merekomendasikan agar kepada pihak-pihak yang diduga bersalah dilakukan tindakan hukum. Apanya yang menarik?

Bayangkan saja, rapat Pansus Century menghabiskan waktu hampir dua bulan dan berlangsung secara maraton hingga larut malam. Itu dilakukan hampir setiap hari. Berbagai pihak sudah dihadirkan dan diperiksa. Perdebatan selama rapat amat seru, sampai-sampai melanggar etika bersidang dan berdebat. Ini amat melelahkan. Akan tetapi, rekomendasi akhirnya amatlah sederhana: ajukan ke pengadilan pihak-pihak yang diduga bersalah.

Tak hanya itu, rapat yang konon menghabiskan uang miliaran rupiah ini, terkesan mencapai antiklimaks. Pada awalnya, anggota pansus bersemangat tak kepalang tanggung.

Rakyat pun terlanjur menaruh harapan besar di pundak mereka. Namun, pada akhir masa tugasnya, anggota Pansus Century, terutama yang memasalahkan kebijakan bail-out, seolah-oleh kehilangan tajinya. Tampaknya mereka cukup puas dengan meloloskan pilihan C (ada yang tidak beres dengan kebijakan bail-out).

Lihat saja betapa girangnya mereka ketika hasil pemungutan suara memenangkan mereka. Sekali lagi, terlalu mahal ongkos yang dikeluarkan untuk putusan sesederhana itu.

Lalu, mestinya bagaimana? Seyogianya keputusan politik haruslah berimplikaksi politik juga. Apa misalnya? Mudah saja! Bagi partai yang ikut memerintah, tarik saja kadernya di kabinet. Atau, ajukan hak untuk menyatakan pendapat! Itu baru implikasi politik.

Akan tetapi, mengapa hal ini tidak ditempuh? Dalam hitung-hitungan saya, paling tidak ada dua faktor penyebabnya. Yang pertama adalah bahwa masih banyak wakil kita ini yang tidak sepenuhnya memahami hakekat koalisi. Faktor kedua adalah latar belakang adanya koalisi.

Apa buktinya? Ketika beberapa tokoh Partai Demokrat menghembuskan isu reshuffle, partai yang sudah mengira-ngira kadernya bakal dikeluarkan dari kabinet langsung bereaksi. Mereka mengatakan tidak takut walaupun kadernya harus ditarik dari kabinet. Mereka juga pernah berdalih bahwa mereka bukan berkoalisi dengan Partai Demokrat, tetapi dengan pemerintahan SBY. Nah, ini yang salah kaprah!

Koalisi diwujudkan dalam bentuk pemerintahan koalisi melalui kerja sama beberapa partai. Alasan pokoknya adalah tidak mayoritasnya wakil partai yang memerintah di parlemen. Biasanya partai-partai yang bekerjasama ini berlatarbelakang platform dan ideologi yang hamper sama, walaupun itu tidak keharusan. Tujuannya, antara lain, adalah agar pemerintahan kuat, dalam arti setiap kebijakan yang ditempuh pemerintah mendapat dukungan politik di parlemen.

Seharusnya Koalisinya Bubar

Oleh karena itu, kalau salah satu dari antara partai yang bekerjasama dengan partai yang memerintah tidak setuju dengan kebijakan pemerintah, seharusnya koalisinya bubar. Mereka harus menarik diri dari pemerintahan koalisi.

Sulit untuk dipungkiri bahwa latar belakang adanya koalisi adalah bagi-bagi kekuasaan. Ini dapat dilihat dari beragamnya platform atau ideologi partai yang berkoalisi.

Bukti lainnya adalah ada partai A dan B berkoalisi di tingkat pusat ‘melawan’ partai oposisi C, sementara di tingkat daerah, justru partai A dan C yang berkoalisi. Kembali, tujuannya adalah untuk kekuasaan. Tuduhan ini terutama dialamatkan kepada partai yang tadinya mengusung calon presiden. Setelah calonnya gagal, mereka pun berpindah ke lain hati.

Apakah partai koalisi harus mendukung semua kebijakan pemerintah? Tentu tidak! Sampai di sini apa yang dilakukan oleh partai yang ikut koalisi tetapi sekarang menyalahkan kebijakan pemerintah sudah benar. Tidak baik membiarkan kawan berbuat salah, itu argumennya.

Yang tidak benar adalah menyalahkan kawan tetapi tetap menjadi bagian dari kesalahan tersebut. Konsekuensi logisnya adalah kongsi pecah. Tidak boleh berkompromi dengan kebijakan yang menyimpang. Perlu diingat bahwa pada dasarnya yang dikoalisikan bukanlah kekuasaan atau jabatan, tetapi penentuan kebijakan pemerintah.

Kembali ke rekomendasi hukum tadi. Kalaulah Golkar dan PKS yakin dengan terang-benderang bahwa kebijakan pemerintah menyimpang, lakukanlah tindakan politik, jangan hanya merekomendasikan tindakan hukum.

Kalau hanya begitu, kalian tidak ubahnya seperti pembantu bagi KPK yang bertugas untuk menemukan bukti awal adanya penyimpangan. Ya, kalau KPK dapat menerimanya sebagai bukti awal. Lagi pula, presiden telah dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan kebijakan itu. Kalau tidak, sia-sialah upaya yang selama ini dilakukan.

Tindakan politiknya adalah keluar saja dari kabinet. Jangan hanya berkata tidak takut! Tidak perlu malu-malu atau mendua hati! Ini bukan soal takut atau tidak takut. Ini adalah masalah etika berkoalisi.

Tidak perlu juga mengatakan itu adalah hak prerogatif presiden. Semua orang sudah mengetahui itu. Jangankan setelah kasus Bank Century ini, satu jam setelah pelantikan, presiden berhak memberhentikan pembantunya. Akhirnya, perlu diingat: “tidaklah elok sudah cerai tetapi masih tidur seranjang”! Apa kata dunia?***

Penulis adalah: Pengajar Pascasarjana IKM FKM USU

  1. Maret 19, 2010 pukul 8:00 am

    Mungkin yang itu (kepentingan) tidak cerai

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: