Beranda > Diary, Kehidupan, Mimpi, Puisi > Teruslah Bermimpi

Teruslah Bermimpi

Aku terlahir sebagai seorang pemimpi, setiap hari selalu menjadi mimpi baru bagiku, tanpa mimpi aku serasa seperti terbelenggu oleh pasung kehampaan.

Aku memang layak disebut seorang pemimpi, karena waktuku selalu penuh dengan mimpi-mimpi. Kadang aku terus menyangkal diri, karena seringkali mimpi itu jauh dari kenyataan, seperti hendak menjangkau langit saja.

Namun meskipun demikian, mimpi itu laksana bahan bakar yang memberikan energi baru bagi kehidupanku, mewarnai keheningan dan kesepian, mencerahkan kegelapan hati dan menjadi penyemangat hidup.

Tak terbayang olehku bila sehari saja mimpi itu tidak menghampiriku, akan seperti apa aku jadinya? Lebih dari seperempat abad hidupku telah kuhabiskan dengan lompatan lompatan kemajuan, meraih satu demi satu angan yang pernah terlintas sebelumnya, bergerak dari status quo.

Mimpi menggerakkan otakku untuk terus berpikir bagaimana cara meraihnya, mimpi menjadi urat nadi yang menggerakkan tangan dan kakiku untuk berkerja lebih keras lagi tuk menggapainya dan mimpi menjadi satu-satunya hal yang membuatku bisa tersenyum terus akibat raihan-raihan itu.

Jika sebagian orang mengatakan bermimpi adalah sikap orang pemalas, karena ia hanya menggantungkan hidupnya dengan angan yang takkan pernah tercapai. Namun bagiku mimpi itu seperti peluru yang telah diisi mesiu, siap meledak takkala dihempaskan keluar.

Setiap mimpi yang terlintas akan menjadi target baru dalam hidupku, setiap target itu kemudian akan memompa adrenalinku untuk terus berdenyut, semakin banyak target itu maka semakin lama nadiku terus berdenyut, pertanda aku masih bernyawa.

Jika satu demi satu target itu kuraih maka senang sekali rasanya, karena senyum dan rona gembira memancar keluar, namun, pun demikian, jika aku gagal meraihnya, itu hanya perkara waktu saja, mungkin memang belum saatnya, atau mungkin aku harus bekerja lebih giat lagi, atau memang Tuhan sekedar melintaskan saja mimpi itu dibenakku agar aku bangkit dari keterpurukan, atau mungkin juga Tuhan sengaja sedang mengajarkan aku untuk mengucap syukur.

Mimpi, bekerja, dan mengucap syukur, itulah yang terus menjadi pelajaran dalam kelas kehidupan ini.

  1. Dewi
    Agustus 29, 2010 pukul 9:04 pm

    Aq salut sm mimpi u

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: