Beranda > Birokrasi, Kritik Kebijakan, Mimpi, Pendidikan > Jika Aku menjadi Mendiknas

Jika Aku menjadi Mendiknas

Hayalan ini spontan saja menghampiriku, bukan seperti ambisi membabi buta para politikus untuk merebut kursi basah ini, bukan pula ingin cepat kaya, terkenal, dan lain sebagainya. Aku bukanlah orang hebat atau pakar pendidikan, aku hanyalah rakyat biasa yang hanya bisa meratapi kondisi buruk pendidikan di negeri ini.

Jika aku menjadi menteri pendidikan nasional, tentunya aku bangga, orang tua di kampungku pasti akan menangis bahagia karena berhasil membesarkan anaknya, begitu juga dengan opungku yang tua renta di pedalaman Tapanuli sana, pasti akan menjadi orang yang paling hebat dikampungnya, karena senang dan pasti dihormati oleh penduduk sekitar, belum lagi guru-guruku dulu dari SD sampai SMA pasti akan merasa orang paling hebat karena telah berhasil mendidik muridnya menjadi menteri, mungkin hal yang sama juga terjadi bagi teman, kerabat, tetangga dan keluargaku yang lainnya.

Namun dibalik kebanggaan dan kebahagiaan sebagian orang itu, di lain sisi melekat beban yang sangat berat karena ratusan juta penduduk Indonesia menaruh harapan besar pada pundakku. Selaku menteri yang mengurusi pendidikan yang notabene merupakan kebutuhan dasar/utama manusia, aku berhadapan dengan kondisi ekonomi rakyatku yang tidak bisa lagi disandingkan dengan mahalnya biaya pendidikan. Miris sekali hatiku setiap mendengar kisah-kisah sedih orang tua menyekolahkan anak karena biaya pendidikan yang tidak ketolongan lagi. Setiap mendengar kisah-kisah itu ingin rasanya aku berandai memosisikan diri sebagai pengusaha kaya-raya yang memiliki grup usaha besar di negeri ini, maka kan ku sumbangkan sebagian hartaku pada mereka. Namun aku terlanjur memilih berandai menjadi menteri pendidikan Nasional, maka domainku selayaknya adalah pada kebijakan pendidikan. Meskipun hati kecilku mengatakan “sebenarnya mengeluarkan kebijakan birokratif lebih susah dibanding sekedar mengeluarkan uang dari kantong”. Mimpiku dari dulu adalah sekolah gratis, maka kan ku gratiskan biaya pendidikan pada semua level, mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi.

Loh, bukannya program pemerintah sekarang ini memang sudah sekolah gratis, dengan BOS, APBN 20%, dan lain sebagainya, cetus teman di sebelahku. Jika memang sudah gratis mengapa masih banyak keluhan dari masyarakat di seluruh penjuru negeri karena mahalnya biaya pendidikan. Kataku menimpalinya lagi. Punglikah itu? Aku juga tidak tahu persisnya. Tapi menurutku kebijakan sekolah gratis ini masih sekedar lips service pemerintah, atau kalau dalam bahasa kerennya sekarang ini adalah “pencitraan”.

20% dari APBN itu adalah angka yang sangat besar, tapi mengapa masih banyak kita jumpai sekolah-sekolah reot hingga rubuh, masih banyak pula kita temui sekolah yang kekurangan guru, pun demikian banyak sekolah yang tidak memiliki buku ajar, atau bahkan perpustakaan dan alat bantu mengajar lainnya. Apakah anggaran itu tidak terdistribusi tepat sasaran, aku lagi-lagi hanya bisa berandai saja karena aku bukanlah wartawan yang punya naluri investigasi.

Dalam beberapa kunjungan kerjaku ke daerah aku justru melihat keadaan yang sangat paradox. Ngakunya anggaran minim tapi mengapa gaya hidup pejabat di dinas pendidikan mewah sekali. Berangkat ke kantor saja harus dikawal patwal karena takut mobil Lexus nya lecet. Di kantornya kulihat papan nama bertuliskan gelar SH, dalam hatiku langsung berujar: “kenapa hampir semua kepala dinas pendidikan memiliki latar belakang pendidikan yang tidak tepat”. Di pojok ruangannya terpampang 2 set stick golf bermerek, ketika bertatapan muka lebih dekat, kulihat hampir di semua jari-jemarinya melekat logam berwarna keemasan. Iseng ku bertanya ke sekretaris pribadinya, ternyata sang kepala dinas tinggal di perumahan paling mentereng di kota itu. Ini kah bentuk nyata kekurangan anggaran itu?

Sejenak ku terdiam, lalu aku berani menyimpulkan kalau memang telah terjadi kebocoran anggaran. Langsung kuhubungi kepala inspektorat Depdiknas untuk segera melakukan pemeriksaan di semua dinas pendidikan. Jika terbukti bersalah langsung berikan rekomendasi pemecatan kepada pejabat yang bersangkutan, perintahku padanya. Semoga hasilnya nanti memberikan titik cerah untuk melakukan reformasi SDM di tubuh Depdiknas. Harapanku jika SDM bagus pasti Anggaran akan tersalurkan tepat sasaran, dan tentunya bangsa akan semakin cepat tercerdaskan.

Sebaliknya ke Ibukota, di meja kerjaku sudah terpampang laporan hasil Ujian Nasional siswa yang ternyata menyimpulkan bahwa banyak siswa Indonesia yang bodoh. Setidaknya begitulah stigma yang terbentuk di tengah masyarakat kita kalau tidak lulus pasti karena bodoh. Bahkan ada beberapa sekolah yang 100% siswanya tidak lulus, itu berarti guru-guru bahkan kepala sekolahnya juga bodoh. Pergumulan panjangku selama ini mengenai ujian nasional akhirnya tersimpulkan juga setelah laporan ini. Dari dulu aku sangat setuju mengenai standarisasi ujian nasional, tapi di lain sisi aku merasa seperti membunuh bangsaku sendiri jika memutuskan seseorang itu bodoh atau tidak. Maka kan kuhapus kriteria lulus atau tidak lulus itu. Biarlah para siswa terseleksi secara alami di tahap selanjutnya, baik itu seleksi pendidikan tinggi maupun bursa kerja. Kedua seleksi itulah menurutku yang paling tepat menjelaskan kapasitas kecerdasan para siswa.

Keesokan harinya kubaca surat pembaca di salah satu koran nasional yang mengeluhkan komersialisasi pendidikan tinggi. Sang penulis berkeluh kesah tingginya biaya masuk dan sumbangan pendidikan di PTN. Meskipun status badan hukum sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi, ternyata banyak perguruan tinggi yang tetap ngeyel mengkomersilkan kampusnya. Ini salah besar kataku dengan nada tinggi kepada Dirjen Dikti setelah membaca tulisan itu. Ini namanya diskriminasi, Hak Asasi Manusia rakyat kecil benar-benar terabaikan. Selanjutnya saya menginstruksikan Dirjen Dikti itu untuk menghitung ulang kebutuhan anggaran di seluruh PTN. Menurutku anggaran 20% APBN sudah lebih dari cukup membiayai kebutuhan Anggaran Pendidikan sampai Strata satu Pendidikan Tinggi sekalipun jika distribusinya tepat sasaran. Selanjutnya saya memerintahkan agar anggaran itu lebih banyak didistribusikan ke luar pulau jawa, karena disanalah berada orang-orang yang lebih membutuhkannya.

Di akhir masa jabatan 5 tahunku, aku senang sekali, satu demi satu penghargaan dan prestasi silih berganti berdatangan membuat harum nama Indonesia. Anak-anak papua menyabet semua mendali emas olimpiade Fisika, setidaknya demikianlah pemberitaan di salah satu koran nasional. Di media cetak lainnya pemberitaannya lebih hebat lagi: Lima perguruan tinggi Indonesia bertengger di 100 besar perguruan tinggi terbaik dunia. Amazing, ucapku. Selanjutnya beberapa kali ku memasuki kampus di daerah untuk sekedar memberikan kuliah umum atau kunjungan kerja, ternyata ada beberapa mahasiswa asing yang berkuliah disana. Ini luar biasa, pikirku, membuktikan pengakuan internasional atas perguruan tinggi di Indonesia. Terakhir aku sendiri diundang ke markas besar PBB untuk yang menerima penobatan Indonesia sebagai pusat benchmarking pendidikan di Asia oleh UNICEF. Senang sekali rasanya, inilah kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sangkin senangnya, aku tak sadar kalau lampu merah itu sudah beralih ke hijau, suara klakson motor tepat di belakang mobilku pun sudah ramai memberikan isyarat padaku, pun demikian teman disebelahku juga sudah menyentakkan tanganya ke bahuku. Ah, ternyata aku hanya berhayal saja. Indah sekali seandainya hayalan itu jika menjadi kenyataan. Meskipun bukan aku yang jadi mendiknasnya kelak, tapi aku sangat merindukan hayalanku itu benar-benar nyata bagi Indonesia. Karena aku dan jutaan rakyat Indonesia lainnya ingin memiliki anak yang cerdas.

Oleh: Harry Andrian Simbolon

Rakyat biasa

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: